Konten dari Pengguna

12 Ritual Malam 1 Suro dari Berbagai Wilayah di Indonesia

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Seni dan Budaya Indonesia. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Seni dan Budaya Indonesia. Foto: Unsplash.

Tahun Baru Islam yang bertepatan dengan 1 Muharram atau 1 Suro dicatat sebagai momen penting dalam penanggalan Hijriyah. Di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, malam 1 Suro dipandang sebagai momen yang sakral dan penuh muatan spiritual.

Masyarakat biasa memanfaatkannya untuk introspeksi, membersihkan diri lahir dan batin, memohon keselamatan, serta keberkahan hidup dari Tuhan. Sebagai bagian dari seremonial, mereka biasanya mengadakan sejumlah tradisi dan ritual untuk memeringati momen spesial ini.

Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi yang berbeda-beda. Apa saja? Yuk, simak daftar ritual malam 1 Suro di Indonesia selengkapnya di sini!

Tradisi dan Ritual Malam 1 Suro di Indonesia

Ilustrasi tradisi malam 1 suro. Foto: Unsplash/ A n v e s h

Ritual malam 1 Suro yang berbeda umumnya dipengaruhi oleh tradisi dan budaya yang melekat di suatu daerah. Berikut ragam ritualnya yang bisa Anda simak:

1. Siraman

Siraman merupakan ritual yang umum dilakukan di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Siraman dilakukan dengan prosesi penyucian diri menggunakan air kembang tujuh rupa yang diyakini dapat membersihkan aura negatif dalam tubuh.

Prosesi ini biasanya dilakukan oleh tokoh spiritual ataupun sesepuh keluarga. Konon, siraman merupakan akardari ajaran Kejawen yang memadukan nilai Islam dan kebudayaan lokal.

Dalam Kebudayaan Jawa karya Koentjaraningrat (1984), unsur air dipercaya memiliki daya penyucian, baik secara fisik maupun spiritual. Itu kenapa, air sering digunakan dalam berbagai ritual dan upacara adat, termasuk siraman.

2. Ngalap Berkah

Ngalap berkah berarti mencari berkah dari leluhur atau tokoh spiritual. Dalam konteks malam 1 Suro, masyarakat biasanya berziarah ke makam para wali, raja, ataupun tokoh penting yang disegani sejak dulu.

Adapun tempat yang ramai diziarahi pada malam 1 Suro adalah makam Sunan Kalijaga di Demak dan makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta. Ziarah ini bukanlah pemujaan, melainkan penghormatan yang ditujukan kepada para leluhur. Ketika ziarah, masyarakat biasanya berdoa agar dianugerahi keteladanan layaknya tokoh-tokoh tersebut.

3. Tapa Bisu

Tapa bisu adalah ritual berjalan kaki mengelilingi kawasan keraton (biasanya Keraton Yogyakarta atau Surakarta) tanpa berbicara sepatah kata pun. Ritual ini dilakukan tengah malam, di mana para peserta diimbau untuk menjaga laku diam, tidak makan, minum, ataupun berbicara selama prosesi berlangsung.

Tapa bisu melambangkan pengendalian diri dan refleksi batin. Dalam tradisi keraton, ritual ini juga dipercaya sebagai bentuk pembersihan dari energi-energi jahat yang bersarang di wilayah keraton.

4. Jamasan Pusaka

Jamasan pusaka adalah ritual memandikan benda-benda pusaka seperti keris, tombak, dan gaman (senjata) lainnya. Proses ini meliputi pembersihan secara fisik dan spiritual agar benda pusaka tetap dalam kondisi “hidup” serta memiliki aura dan energi positif.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Heddy Shri Ahimsa Putra dalam jurnal Humaniora (2009), pusaka dalam budaya Jawa bukanlah sekadar benda, melainkan representasi atas nilai-nilai spiritual dan simbol status sosial. Itu kenapa, ritual jamasan dipilih sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian akan nilai budaya di daerah Jawa.

5. Kenduri atau Selamatan

Di malam 1 Suro, masyarakat Jawa biasa mengadakan selamatan atau kenduri untuk berdoa bersama agar diberikan keselamatan di tahun baru. Ritual ini biasanya dihiasi dengan tumpeng dan aneka makanan. Masyarakat akan mengundang tetangga dan kerabat untuk membaca tahlil atau yasin bersama-sama.

Tradisi kenduri melambangkan nilai gotong-royong dan spiritualitas yang tinggi. Clifford Geertz dalam The Religion of Java(1960) menyebutkan bahwa selamatan adalah bentuk sinkretisme Islam-Jawa yang mencerminkan harmoni antara ajaran Islam dan tradisi lokal. Ritual ini seringkali disebut dengan pengajian Bulan Muharram atau pengajian 1 Suro.

6. Laku Tirakat

Ilustrasi Menyepi dan Meditasi. Foto: Umsplash.

Tirakat adalah latihan spiritual yang dilakukan dengan cara berpuasa, menyepi, atau semedi. Masyarakat melakukannya untuk memperkuat batin, mencari ketenangan jiwa, serta memohon keselamatan dan keberhasilan usaha.

Dalam buku Spiritualitas Jawa oleh S. Pranowo, laku tirakat merupakan pendekatan batin yang ditujukan kepada Tuhan. Lewat ritual ini, seseorang bisa melatih diri untuk melepaskan keterikatan duniawi.

Biasanya tirakat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hajat dan keinginan khusus. Ritual ini juga biasanya dilakukan dalam rentang waktu tertentu.

7. Mengganti Air Gentong Pusaka

Di beberapa daerah seperti Banyumas dan Cirebon, ada tradisi mengganti air gentong pusaka setiap malam 1 Suro. Ritual ini umumnyaditemukan di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Air gentong dipercaya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dan memberikan keberkahan bagi siapapun yang menggunakannya. Ketika ritual ini berlangsung, air lama akan dibuang lalu diganti dengan air dari sumber khusus. Tradisi ini menunjukkan pentingnya air dalam simbolisasi spiritual masyarakat di negara agraris.

8. Kirab Budaya

Ilustrasi Kirab Budaya. Foto: Indonesia Kaya.

Kirab budaya dilakukan dengan pawai membawa barang pusaka, simbol kerajaan, serta hewan keramat seperti kerbau bule Kyai Slamet di Solo. Acara yang dilakukan jelang malam 1 Suro ini melibatkan masyarakat luas.

Kirab bukanlah sekadar pertunjukan, melainkan simbol dari keteraturan kosmos dan hubungan manusia dengan leluhur dan alam semesta. Pusat Studi Kebudayaan UGM mendokumentasikan ritual ini sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.

9. Menyepi di Tempat Keramat

Pada malam 1 Suro, sebagian orang memilih untuk menyepi atau bersemedi di tempat keramat seperti gua, gunung, atau petilasan. Tempat populer seperti Gua Langse di Gunungkidul atau Gunung Lawu selalu ramai dikunjungi saat malam 1 Suro.

Masyarakat Jawa biasa melakukan semedi dalam diam untuk mencari wangsit (petunjuk gaib) atau petuah yang mampu membawanya pada kehidupan yang lebih baik. Di samping itu, mereka juga berharap kekuatan batin dan ketenangan dalam hidupnya.

Dalam buku Manusia Jawa karya Koentjaraningrat disebutkan bahwa kegiatan menyepi bisa menjadi ekspresi religiusitas seseorang yang mencerminkan laku hidup prihatin.

10. Membuat Larangan atau Ngalap Tirakat

Ngalap Tirakat dalam konteks budaya Jawa merujuk pada upaya seseorang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui berbagai laku spiritual atau ibadah. Lewat prosesi ini, seseorang berharap mendapatkan keberkahan serta karunia dari-Nya.

Saat Ngalap Tirakat, ada sejumlah larangan yang mesti diperhatikan seperti tidak keluar rumah, tidak bepergian jauh, atau menghindari kegiatan besar seperti pesta pernikahan. Masyarakat Jawa percaya bahwa malam 1 Suro penuh energi gaib, sehingga harus dirayakan dengan penuh kehati-hatian.

Menurut Prof. Dr. Endang Caturwati dari ISBI Bandung, malam 1 Suro dianggap sebagai waktu “berisiko tinggi” secara spiritual, sehingga masyarakat diberi anjuran untuk melakukan laku diam, bukan malah bereuforia.

11. Pawai Obor

Ilustrasi Pawai Obor. Foto: Indonesia Kaya.

Tradisi pawai obor biasa digelar di malam 1 Muharram di sejumlah daerah yang mengadopsi budaya Islam kuat seperti Aceh, Lampung, dan Banjar (Kalsel). Namun, tradisi ini juga kerap hadir di Pulau Jawa.

Umumnya, kegiatan ini melibatkan anak-anak dan remaja. Saat pawai obor, para peserta membawa obor bambu sambil melantunkan salawat dan doa. Lalu, mereka akan berkumpul di masjid untuk membaca doa akhir dan awal tahun baru Hijriyah.

12. Dzikir dan Doa Bersama

Di Maluku Utara, terutama di lingkungan Kesultanan Ternate dan Tidore, malam 1 Muharram biasa diperingati dengan zikir akbar. Umat Muslim akan berkumpul di masjid kesultanan untuk berdoa dan mendengarkan sejarah hijrah Nabi bersama-sama.

Acara ini biasanya digelar di keraton dan dihadiri oleh sultan, tokoh agama, serta masyarakat setempat. Warisan budaya lokal ini telah berlangsung sejak berabad-abad lalu.

Ritual malam 1 Suro mencerminkan beragamnya budaya di Indonesia. Meski akar ritualnya berasal dari banyak sumber seperti ajaran Islam, animisme, dan Kejawen, namun semuanya mengajarkan nilai penting, yakni introspeksi, kedekatan dengan Sang Pencipta, dan pelestarian warisan leluhur.

Pelestarian tradisi ini penting untuk menjaga identitas budaya bangsa. Dengan pendekatan yang bijak, ritual malam 1 Suro dapat terus diwariskan dan dimaknai oleh generasi muda.