2 Contoh Ceramah 1 Muharram yang Penuh Nasihat

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kalender hijriyah, 1 Muharram ditandai sebagai awal tahun baru Islam. Momen penting ini menandai dimulainya lembaran baru untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT.
Pesan-pesan ini biasanya disampaikan para ustaz melalui ceramah keagamaan. Tak hanya memberikan motivasi, ceramah juga bisa membimbing umat Islam untuk menyambut tahun baru Hijriah dengan lebih bermakna.
Jika Anda sedang mencari contoh ceramah 1 Muharram, artikel ini akan menyajikan beberapa teks yang dapat dijadikan referensi. Yuk, simak selengkapnya!
Contoh Ceramah 1 Muharram
Berikut ini beberapa contoh ceramah 1 Muharram yang bisa dijadikan referensi:
1. Keutamaan Bulan Muharram
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, saya berpesan, khsusunya apda saya pribadi dan umumnya pada jemaah. Marilah kita semua berusaha meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan cara mengerjakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya. Takwa merupakan alasan kita hidup di dunia, sekaligus tujuan dalam rangka meraih surga dan ridha Allah. Tepatlah kiranya, bila kita selalu diingatkan agar selalu meningkatkan takwa.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Tidak terasa saat ini kita memasuki bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Muharram merupakan bulan yang dimuliakan Allah.
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ٣٦
Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa." (QS. At-Taubah: 36)
Diantara dua belas bulan dalam kalender Hijriyah, ada empat bulan yang disebut "Asyhurul Hurum" (bulan yang haram), yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Bulan-bulan ini memiliki kemuliaan. Diantaranya Allah mengharamkan umat Islam melakukan perbuatan yang dilarang.
Imam At-Thabari menafsirkan ayat di atas dengan mengutip riwayat dari Ibnu Abbas ra.: "Allah menjadikan bulan-bulan ini sebagai bulan suci dan mengagungkan kemuliaanya. Barangsiapa yang berbuat dosa pada bulan ini, maka balasannya menjadi lebih besar, dan barangsiapa yang beramal shalih pada bulan ini, maka pahalanya juga lebih besar."
Disebut bulan mulia karena bulan ini disebut "syahrullah" (bulan Allah). Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam." (HR. Muslim)
Hadis ini mengindikasikan adanya keutamaan khusus yang dimiliki bulan Muharram, karena penamaannya disandarkan kepada lafzhul Jalalah (lafazh Allah). Para Ulama menerangkan: Ketika makhluk disandarkan pada lafzhul Jalalah, itu pertanda ada pemuliaan pada makhluk tersebut, sebagaimana istilah baitullah (rumah Allah) bagi masjid, atau lebih khusus Ka'bah dan naqatullah (unta Allah) istilah bagi unta nabi Shaleh dan lain sebagainya.
Keutamaan bulan Muharram tidak perlu disangsikan lagi. Namun keutamaan itu tidak berarti bila tidak diisi dengan berbagai amalan-amalan ibadah yang berbobot, sehingga keutamaan itu benar-benar bernilai, baik secara individu maupun sosial.
Di antara ibadah yang paling dianjurkan adalah berpuasa. Amalan ini di dasarkan pada beberapa hadits, diantaranya sabda Nabi: "Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya." (HR Bukhari dan Muslim)
Puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja.
Mengingat besarnya pahala yang diberikan oleh Allah melebihi bulan lainnya, hendaknya kita tidak hanya berpuasa sunnah, namun juga memperbanyak amalan-amalan ketaatan kepada Allah pada bulan Muharram ini, dengan membaca Al Qur'an, berdzikir, shadaqah, puasa, dan lainnya.
Selain memperbanyak amalan ketaatan, jangan lupa berusaha menjauhi maksiat kepada Allah, karena dosa di bulan Muharam lebih besar dibandingkan dosa-dosa di bulan lain.
Ibnu Qatadah rahimahullah berkata, "Sesungguhnya kedzaliman pada bulan Muharam lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kedzaliman yang dilakukan di luar bulan Muharam."
Demikian ceramah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik, sehingga kita tetap teguh memegang kebenaran, bersegera memperbaiki diri dan menjauhi perbuatan maksiat yang bisa menodai hati kita. Aamiin.
Sumber: Buku Materi Khutbah Jumat Sepanjang Tahun oleh Muhammad Khatib, S.Pd.I
2. Keutamaan dan Alaman Sepanjang Bulan Muharram
Jemaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita bersama-sama meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah serta bersyukur atas segala kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, lebih-lebih nikmat iman wal islam serta kenikmatan umur panjang, sehingga kita masih diberi kesempatan menghirup udara segar di tahun baru Islam. Yakni bulan Muharram.
Tak terasa tahun telah berganti, umur semakin sedikit dan semakin dekat pula dengan kematian, sudahkah semua itu kita sertai dengan penambahan iman dan taqwa? Bukankah Allah telah menambahkan umur dalam hidup kita? Mengapa kita tidak menambahkan keta'atan kepadanya?
Jemaah yang dirahmati Allah,
Merupakan nikmat bagi seorang hamba adalah menganugerahkannya umur yang panjang dan umur panjang tersebut digunakan dalam ketaatan-ketaatan kepada Allah SWT.
Umur merupakan modal terbesar bagi seorang hamba untuk meraih pahala yang besar, meraih ridha Allah, serta untuk meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.
Oleh sebab itu kita pergunakan momentum tahun baru Hijriyah ini, bagi kita yang masih dikaruniai umur panjang untuk mengkoreksi diri kita sendiri, mengevaluasi amal kita sendiri, sudah banyak kah amal ibadah yang kita lakukan? Sudah banyak kah shodaqoh yang kita keluarkan? Sudah banyak kah dzikir yang kita lakukan? Atau bahkan lebih banyak berbuat kemaksiatan?
Cobalah kita lihat saudara kita yang sudah mendahului kita, mereka tidak akan kembali lagi ke alam dunia ini sampai hari kebangkitan tiba dan menunggu giliran untuk di hisab dan mempertanggung jawabkan segala perbuatan selama di dunia ini.
Oleh sebab itu kita yang diberi kesempatan oleh Allah dengan umur yang kita bawa saat ini, marilah kita perbaiki diri kita, jika yang mungkin dari kita ada yang tidak salat, marilah menjadi lebih perhatian kepada salat.
Jika diantara kita ada yang suka berbuat maksiat, marilah janganlah kita teruskan dan jadilah hamba yang bertaubat, jika diantara kita ada yang suka berbuat malas-malasan, marilah janganlah terus-menerus menjadi malas.
Karena umur kita semakin hari semakin berkurang dan kesempatan hidup semakin sempit dan semakin dekatnya dengan kematian. Maka oleh sebab itu bersungguhlah di dalam mempersiapkan bekal menuju Allah SWT.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Bulan Muharram adalah termasuk dalam golongan bulan mulia diantara bulan-bulan mulia lainnya, dan bulan ini ada hari yang di dalamnya merupakan hari bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa.
Dan sepatutnya dari kita hendaknya menyambut hari itu dengan banyak mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sejarah masa lalu. Adapun hari tersebut adalah hari Asyuro yakni hari ke 10 di bulan Muharrom.
Marilah kita menyambutnya dan memanfaatkan-nya hari mulia tersebut sesuai dengan tuntunan Rasulullah, agar kita senantiasa berada dalam bimbingannya, yaitu dengan memperbanyak shodaqoh, serta ibadah-ibadah lainnya, lebih-lebih melaksanakan puasa sunnah.
Kalau saat ini kita sudah tidak ada rasa greget untuk melaksanakan amalan sunnah dihari mulia, lalu sampai kapan kita akan bangkit lebih giat lagi dalam beramal? Apakah harus menunggu saat sakarotul maut menjemput? Jangan sampai hati dikuasai hawa nafsu, jangan sampai hati kita terlena dengan rayuan syetan serta hawa nafsu, dan Allah panjangkan umur kita serta sehat wal afiat dhohiron wa bathinan aamiin Ya Robbal 'alamin.
Sumber: Buku Khutbah Jum’at Satu Tahun: Keutamaan Bulan Hijriyah oleh Muhammad Fadlun, S.Pd.I.
Baca Juga: Referensi Ceramah Singkat Bulan Rajab yang Penuh Hikmah
(NSF)
