Konten dari Pengguna

2 Contoh Renungan Minggu Paskah V: Perintah untuk Saling Mengasihi

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang berdoa umat kristen. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang berdoa umat kristen. Foto: Shutterstock

Minggu Paskah Kelima (V) jatuh pada 3 Mei 2026. Dalam momen penuh makna ini, Yesus menegaskan perintah utama kepada para murid-Nya, yakni untuk saling mengasihi sebagaimana Ia telah mengasihi manusia dengan kasih sayang yang tulus.

Perintah kasih ini merupakan panggilan hidup yang perlu diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari. Melalui kasih yang tulus dan tanpa pamrih, umat diajak meneladani cinta Yesus yang rela berkorban demi keselamatan manusia.

Di tengah berbagai tantangan hidup, pesan ini bisa dijadikan sebagai pengingat agar tidak mudah menyerah dalam berbuat baik kepada sesama. Bagi umat yang ingin memperdalam makna kasih sejati, berikut dua inspirasi renungan Minggu Paskah V yang dapat menumbuhkan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.

2 Contoh Renungan Minggu Paskah V

Ilustrasi Yesus. Foto: Art Stocker/Shutterstock

Dirangkum dari laman Keuskupan Agung Jakarta dan Gereja St. Paskalis, berikut dua contoh renungan Minggu Paskah V yang dapat menjadi bahan refleksi untuk memperdalam keimanan:

Contoh Renungan 1 – “Rumah”

Dalam dua minggu sebelumnya, kita telah merenungkan tentang gembala dan domba. Kini, kita melangkah pada Minggu Paskah V. Hari ini, kita mendengarkan Yesus memberi perintah pamungkas sebelum Ia dimuliakan di kayu salib, yaitu perintah kasih.

Perintah Yesus jelas:

“Supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.”

Muncul dalam refleksi, mengapa Ia memberikan perintah ini. Apakah supaya para murid, sebagai komunitas jemaat, saling mengasihi? Apa pentingnya?

Mengapa perintah kasih itu penting?

  • Menjadi tanda murid Kristus: Murid-murid yang saling mengasihi menjadi tanda hadirnya Kristus di tengah-tengah mereka.

  • Karena kita membutuhkan kasih: Suka atau tidak, kita membutuhkan kasih. Kasih itu kita temukan dalam komunitas yang saling mengasihi.

Komunitas kasih ini adalah “rumah”. Darinya kita merasakan kepenuhan kasih sehingga siap diutus menghadapi dunia. Kepadanya pula kita kembali untuk beristirahat, bercerita dengan jujur, dan mengalami kehangatan pelukan penerimaan.

Komunitas kasih semacam ini menghadirkan Kristus. “Supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku mengasihi.” Sebab dari pada-Nya kita dipilih, diberkati, dipenuhi kelimpahan, dan diutus. Setelah perjuangan di dunia, Kristus menjadi “rumah”, tempat kita beristirahat, berbagi, dan tinggal dalam kehangatan kerahiman-Nya.

Ilustrasi gereja. Foto: Raiyani Muharramah/Shutterstock

Namun, kekurangan atau bahkan kehilangan pengalaman ini dapat menjadi sumber masalah. Seseorang bisa saja memiliki tempat tinggal dan tempat tidur, tetapi tidak memiliki “rumah” yang sesungguhnya.

Akibatnya, tanpa disadari, ia tidak memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi dunia. Ia mudah terombang-ambing, kehilangan arah, bahkan tidak tahu harus pulang ke mana. Karena tidak pernah merasakan “rumah”, ia akan terus mencari tanpa henti hingga kehilangan dirinya sendiri.

Di Jawa Barat, ada fenomena anak-anak yang dimasukkan ke barak militer agar merasakan kehadiran “rumah”. Ketika ditanya, salah satu dari mereka mengakui bahwa orang tuanya jarang di rumah.

Anak-anak ini kehilangan arah, lalu mencari pemenuhan kasih dengan cara yang kurang tepat. Mereka mencari pengakuan dan kehormatan melalui kenakalan-kenakalan yang justru menjauhkan mereka dari makna kasih sejati.

Paulus dan Barnabas mendapatkan kekuatan dari komunitas kecil mereka di Antiokhia. Di sanalah mereka diterima, diteguhkan, dan diutus.

Sebagaimana tertulis:

“Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.’ Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.”

(Kisah Para Rasul 13:1–3)

Paulus tidak mendapatkan penerimaan itu di Yerusalem. Ia ditolak karena pernah berusaha membinasakan jemaat. Namun, ia diterima oleh Barnabas dan oleh jemaat di Antiokhia.

Karena itu, Paulus dan Barnabas tahu bahwa dalam perutusan mereka, bahkan saat menghadapi berbagai penderitaan hingga hampir mati, mereka memiliki “rumah” untuk kembali. Tempat untuk menceritakan segala pengalaman mereka, termasuk bagaimana Allah membuka pintu iman bagi bangsa-bangsa lain.

Yohanes pun mendapat wahyu tentang Yerusalem surgawi. Allah hadir di tengah-tengahnya. Yerusalem surgawi adalah “rumah” terakhir kita.

Di sana tidak ada lagi perkabungan, ratap tangis, atau dukacita, sebab yang lama telah berlalu. Komunitas seperti itulah yang menjadi harapan kita semua.

Contoh Renungan 2 - Kasih Agape: Ciri Orang Kristiani

Ilustrasi berdoa di gereja. Foto: Shutterstock

Bagi kita orang Kristiani, kasih tidak pernah absen untuk dinyanyikan dalam ibadah-ibadah kita. Kasih juga selalu dijadikan tema di setiap perayaan-perayaan gerejawi. Khotbah tentang kasih pun mendominasi mimbar-mimbar gereja, seminar, ceramah, pendalaman iman, dan lain-lain.

Namun, mesti disadari bahwa walaupun kasih sering dibicarakan, dibahas, dan dinyanyikan, semuanya kerap hanya sebatas wacana, teori, dan lips service. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, cara hidup kita justru sering jauh dari kasih yang diperintahkan Tuhan.

Faktanya, berbagai realitas berikut masih sering terjadi:

  1. Kekacauan dan perpecahan

  2. Permusuhan dan kebencian

  3. Penolakan dan peperangan

  4. Saling membalas dendam

  5. Iri hati, dengki, dan egoisme

Semua ini menjadi tanda bahwa kasih belum sungguh-sungguh kita hidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini memberi teladan dan menunjukkan bagaimana seharusnya kasih yang benar itu diwujudkan dalam hidup kita, yaitu:

1. Kasih Memiliki “Daya Tahan” (Yoh. 13:31, 34)

Suasana Gereja. Foto: AFP/Ed JONES

Harus kita akui bahwa kebanyakan kasih kita gampang luntur, sehingga menjelma menjadi kebencian, iri hati, sombong, dengki, dan dendam ketika kita dikecewakan orang lain. Apalagi ketika kita disakiti atau dikhianati (bdk. Hos. 6:4c).

Dalam hal ini, Tuhan Yesus memberi teladan bagaimana kasih-Nya tidak goyah, walau Ia menyadari betul saat itu bahwa Ia akan dikhianati oleh Yudas. Yesus justru memberi perintah baru untuk saling mengasihi.

“Sesudah Yudas pergi berkatalah Yesus… Aku memberi perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi…” (Yoh. 13:31, 34).

Yang menarik, kata “baru” di sini berarti “segar”. Artinya, kasih kita harus selalu segar kepada orang lain, tidak luntur atau goyah karena sikap orang lain yang mengecewakan kita atas kasih atau kebaikan yang telah kita lakukan.

2. Kasih Harus Dipraktikkan, Bukan Sekadar Teori (Yoh. 13:34)

Bagi Yesus, kasih tidak cukup hanya diajarkan atau dijadikan simbol, slogan, atau wacana semata. Kasih harus melekat dalam gaya hidup kita, sehingga menjadi ciri khas setiap murid-Nya.

Untuk itu, Yesus memberi pengajaran sekaligus teladan. Ia berkata: “...supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu...” (Yoh. 13:34). Melalui ungkapan ini, kita memahami bahwa ketika Ia memberi perintah untuk mengasihi, Ia telah mempraktikkannya terlebih dahulu.

Yesus tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi hidup-Nya sendiri adalah teladan kasih yang sejati. Salib di bukit Golgota menjadi bukti kasih-Nya yang tiada tara.

3. Standar Kasih adalah Kasih Agape (Yoh. 13:31, 34–35)

Ilustrasi anak berdoa. Foto: Shutter Stock

Kasih Agape adalah kasih yang rela berkorban tanpa pamrih. Kasih ini tetap mengasihi walau tidak terbalas. Kasih Agape bukan kasih “karena” (ada alasan), seperti: “Saya mengasihinya karena ia baik.” Tetapi kasih Agape adalah kasih “walaupun”, seperti: “Saya mengasihinya walaupun ia membenci saya.”

4. Kasih sebagai Identitas Orang Percaya (Yoh. 13:34–35)

Pada akhirnya, kasih Agape adalah tanda pengenal atau identitas murid Kristus. Orang lain mengenal kita sebagai murid Tuhan bukan dari pakaian yang kita pakai, bukan hanya dari ibadah minggu yang kita hadiri, bukan dari kata-kata religius yang kita ucapkan, atau dari banyaknya ayat Kitab Suci yang kita hafalkan.

Bukan pula dari jabatan yang kita sandang dalam gereja atau aktivitas pelayanan semata. Ciri seorang Kristiani sesungguhnya sederhana, yaitu saling mengasihi.

Sebagai murid Kristus, hal-hal itulah yang seharusnya kita hidupi setiap hari. Mari kita mempraktikkannya dalam kehidupan, karena Tuhan telah lebih dahulu mengasihi dan berbelas kasih kepada kita.

Tuhan memberkati. Amin.

Baca Juga: Doa Ratu Surga Katolik Selama Masa Paskah, Ini Teks dan Maknanya

(ANB)