Konten dari Pengguna

2 Khutbah Jumat Singkat Terbaru sebagai Referensi

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi khutbah Jumat singkat terbaru. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi khutbah Jumat singkat terbaru. Foto: Pexels

Sebagai syarat sah salat Jumat, khutbah menjadi satu bagian yang tak terpisahkan. Umumnya, khutbah disampaikan lewat materi keagamaan yang penting bagi umat Islam.

Tujuannya tidak lain untuk mengingatkan para jemaah agar tetap berada di jalan yang benar. Itu kenapa, materi khutbah perlu disusun dengan jelas dan ringkas supaya lebih mudah dipahami para jemaah.

Lewat pembawaan yang baik, pesan-pesan keagamaan yang ada dalam khutbah pun bisa tersampaikan dengan sempurna. Tentu, isi materi yang dibawakan bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan para jemaah.

Khatib perlu peka terhadap permasalahan keimanan dan ketakwaan yang tengah dihadapi mayoritas masyarakat. Jika butuh referensi, simak contoh teks khubtah Jumat singkat terbaru selengkapnya berikut ini!

Contoh Khutbah Jumat Singkat Terbaru

Ilustrasi khutbah Jumat singkat terbaru. Foto: Unsplash.com/Rumman Amin

Disadur dari buku Kumpulan Khutbah Jum'at Masjid Sunan Kalijaga terbitan Semesta Aksara, berikut beberapa contoh materi khutbah Jumat singkat terbaru yang bisa dijadikan referensi:

1. Mempelajari Peristiwa Hijrah

Khutbah I

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Kepada kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,

Pertama, kita mengajak kepada hadirin semua juga untuk saya sendiri, marilah kita senantiasa menambahkan taqwa kita kepada Allah SWT, dengan melaksanakan semua perintah-perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya dimanapun kita berada, baik dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan longgar maupun sempit, dalam keadaan ramai ataupun sepi, supaya kita selalu mendapat rahmat dari Allah SWT dengan meningkatkan pergaulan yang khasanah dengan semangat hijrah seperti yang telah contohkan oleh junjungan kita Rasulullah SAW.

Dalam ayat Al-Qur'an Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ اَعْمَالُهُمْ كَرَمَادِ ࣙاشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ يَوْمٍ عَاصِفٍۗ لَا يَقْدِرُوْنَ مِمَّا كَسَبُوْا عَلٰى شَيْءٍۗ ذٰلِكَ هُوَ الضَّلٰلُ الْبَعِيْدُ ۝١٨

Artinya: "Perumpamaan orang-orang yang kufur kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin kencang pada saat badai. Mereka tidak kuasa (memperoleh manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh." (QS Ibrahim: 218)

Kepada kaum Muslimin yang dimuliakan Allah SWT,

Hijrah untuk kita saat ini bukan harus hijrah badhaniah atau hijrah fisik. Hijrah yang harus kita laksanakan paling tidak hijrah dalam 4 perkara, yaitu hijrah mental, kultural, sosial, dan material

Hijarh mental yakni hijrah dengan mengendalikan hawa nafsu, dari nafsu amarah menuju nafsu lawwamah dan nafsu muthainnah. Disebabkan oleh nafsu amarah itu, tentu akan mengajak kepada perbuatan jelek, seperti yang di firmankan oleh Allah SWT yang artinya: "Benar-benar nafsu selalu mengajak kepada perbuatan jelek." (QS Yusuf: 53)

Orang-orang yang selalu menuruti nafsu amarah itu tentu menuju kepada perbuatan jelek, yang selalu ingin tercapai keinginannya, dan tidak bisa menghitung kerugian orang lain karena akalnya sudah takluk dan mendukung kehendak nafsu. Sedangkan nafsu lawwamah itu adalah kesadaran untuk menegur pribadi kita sendiri, nafsu yang sudah mampu mawas diri, juga kesadaran untuk merubah pribadi yang sebelum ditegur oleh Allah SWT. Perintah Allah dalam Qur’an surat Al-Qiyamah ayat 2:

وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ ۝٢

Artinya: "Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri)." (QS Al-Qiyamah: 2)

Adapun nafsu muthmainnah itu seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT berikut:

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ۝٢٧ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ ۝٢٨ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ ۝٢٩ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ ۝٣٠

Artinya: "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku." (QS Al-Fajr: 27-30)

Hijrah mental di sini menunjukkan bahwa kita harus mengerti mengenai bagaimana untuk menuju jiwa yang muthmainnah, supaya dimasukkan golongan hamba-Nya yang dapat ridho dari keharibaan Allah SWT.

Kemudian, hijrah kultural adalah hijrah dari keterbelakangan menuju kepada kemajuan. Keadaan kita yang banyak tertinggal dari kemajuan, harus kita ikhtiari agar bisa tercapai keadaan yang lebih baik, seperti keadaan anak-anak yang cukup banyak tidak bisa belajar dan menempuh pendidikan, juga jumlah tenaga kerja yang lebih besar daripada adanya lapangan pekerjaan. Hal ini termasuk kebudayaan yang makin merusak moral masyarakat dengan dalih kebebasan berkreasi dan sebagainya. Sehingga harus kita usahakan agar tidak berlarut-larut, syukur bisa berbaur kebiasaan dan jadi kebudayaan yang sesuai tuntunan islam.

Hijrah sosial yakni hijrah dari kondisi sosial kita yang baru mendapat bencana, bukan hanya fisik yang menjadi korban menemui kerusakan, tapi keadaan sosial juga banyak kerusakan. Hubungan persaudaraan, bermasyarakat, dan pergaulan banyak yang rusak jadi korban. Musibah, itu harus kita usahakan dengan hijrah menuju ke kondisi sosial yang lebih baik.

Orang-orang pintar sangat banyak, akan tetapi orang-orang yang benar jarang ditemukan. Untuk itu, semangat hijrah mesti di tanamkan di hati kita masing-masing kaum muslimin sepanjang zaman.

Terakhir, hijrah material yang bertujuan untuk tercapainya keadaan yang lebih baik di sektor ekonomi. Kita harus bangkit cancut taliwondo, jangan sampai terlena berlarut-larut dalam suasana duka dan menyesali kepada keadaan. Harus semangat berkarya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, dunianya tercapai baldatun thayyibatun warabbun ghafur, dan akhiratnya mendapat keberuntungan selamat dari siksa-siksa neraka serta masuk ke dalam syurganya Allah SWT. Amin Allahumma Amin.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا

اللّـهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

2. Makna Musibah, Bala' dan Fitnah

Khutbah I

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Hadirin jamaah yang berbahagia,

Paling tidak ada empat kategori makhluk Allah SWT di planet bumi ini, yaitu makhluk beku/mati, makhluk tumbuh-tumbuhan, makhluk hewan, dan makhluk manusia. Makhluk manusia menurut al Quran dinyatakan sebagai "sebaik-baik bentuk makhluk" (QS At-Tin: 4) dalam arti memiliki beberapa keistimewaan kalau dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya , demikian menurut pakar bahasa al Quran, Ar- Raghib Al-Asfahany.

Apa yang menjadi ciri keistimewaan manusia? Ciri keistimewaanya antara lain manusia dianugerahi kemampuan berfikir dan kepekaan berperasaan, baik berperasaan secara kejiwaan(seperti rasa gembira, sedih, bahagia, sedih dan sebagainya) atau secara kerohanian(merasa bersyukur, istiqomah, kepasrahan dan sebagainya).

Sungguhpun begitu, justru nikmat berfikir dan nikmat berperasaan secara kejiwaan diatas sering dipakai manusia secara kontraproduktif. Kenikmatan-kenikmatan tersebut tidak memperbesar "perasaan kerohaniannya"-nya, justru sering kenikmatan-kenikmatan tersebut mengkooptasi, menguasai, mengaburkan kebeningan perasaan kerohaniannya. Dalam bahasa agama disebut dengan istilah "lupa", terutama terhadap hal-hal yang bersifat prinsip. Itulah sebabnya dalam Al Quran manusia tersebut disebut dengan istilah "insan", yakni makhluk yang mudah sekali "lupa".

Hadirin jamaah shalat Jum'at yang dimuliakan Allah,

Kecenderungan manusia untuk suka “lupa” inilah yang terus menerus untuk dihindarkan terus melekat dalam diri manusia. Bahwa teman audiensi yang paling autentik dan abadi bagi manusia adalah Tuhan, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu, hubungan manusia dengan Allah diusahakan secara terus menerus dijaga kelestariannya, agar dengan cara seperti itu hubungan antara manusia dengan manusia terutama menjadi harmonis(QS Ali Imran: 112), dan melebarnya hubungan diantara manusia dengan lingkungan hidupnya, baik yang bersifat biotik (makhluk hidup) atau abiotik (makhluk mati).

Ada tiga kesadaran yang merupakan prinsip dalam hidup yang tidak boleh sama sekali dilupakan, yaitu: kesadaran kodrat, kesadaran pasang surut kepemilikan, dan kesadaran menjalani proses. Tiga prinsip kesadaran yang harus terus-menerus diingat manusia ini, terus menerus digelitik Allah SWT lewat dua ujian dan satu cobaan, yakni: musibah, bala’ dan fitnah.

Hadirin jamaah shalat Jum'at yang terhormat,

Pertama, musibah. Terlalu sering terjadi dalam kehidupan manusia ini manusia lupa pada hal-hal yang bersifat kodrat(ketentuan pasti) dari Allah SWT, yaitu: realitas kelahiran yang dialami oleh setiap pribadi manusia, sakit, tua, dan mati.

Realitas kelahiran misalnya sempurna-kurang sempurna ketubuhan, jenis kelamin, warna kulit, ayah-ibu, nasab, tempat lahir dan sebagainya.Ini semua sudah kodrat. Sakit, misalnya karena kemasukan penyakit(bakteri, baksil, virus) atau karena keausan tubuh, juga adalah kodrat.Tua, yang berarti berusia tinggi dan semua fungsi tubuh mulai menurun, juga kodrat yang tidak dapat dilawan. Mati, apalagi, sudah pasti merupakan kodrat yang sama sekali tidak dapat dilawan.

Maka, apa yang disebut “musibah” adalah untuk membangkitkan ingatan tentang perlunya kesadaran terhadap hukum kodrat, yang mau tak mau, suka tidak suka, seuang tidak seuang harus mengakui akan datangnya hukum kodrat itu. Sikap yang paling tepat ataupun proporsional adalah kepasarahan kepada Allah SWT (QS Al Baqarah: 156). Jadi, “musibah” adalah ujian agar manusia ingat selalu pada hukum kodrat.

Hadirin sholat Jum'at yang dirahmati Allah,

Kedua, bala’. Terlalu sering pula kita mendengar dalam kehidupan sehari-hari, ada yang terlalu sering mengeluh karena kepemilikannya merasa terganggu, misalnya keuntungan dagang gagal diraih, menyusutnya kekayaan dan sebagainya.

Sementara itu dalil hidup menyatakan bahwa: kepemilikan itu pasang-surut/naik turun. Tapi, keinginan hati terus menerus secara konstan bertambah dan sedikitpun tak mau mengakui bahwa sebenarnya ada kemungkinan terjadi penurunan jumlah. Untuk mengingatkan dalil pasang surut kepemilikan ini, Allah SWT lalu menurunkan “bala’ ”. Dalam bala tersebut terkandung dua kata kunci, yaitu: sedikit(syai’) dan berkurang (naqsun)(QS Al Baqarah: 155).

Bala’ dan musibah dalam surat al Baqarah ayat 155 dan ayat 156 dituliskan secara berurutan, bahwa hal ini menandakan pasang surutnya pemilikan dan hal itu menyadarkan perlunya mengingat hukum kodrat yang disikapi dengan kepasarahan secara tepat dan proporsional. Jadi, bala’ adalah ujian agar manusia selalu ingat pada hukum psang surut kepemilikan, tidak ada kepemilikan yang bersifat konstan.

Hadirin jamaah shalat Jum'at yang senantiasa dalam lindungan Allah,

Ketiga, fitnah. Bahwa tak da seorang pun manusia yang lahir di dunia yang fana ini, termasuk para nabi dan rosul yang bisa terbebas dari lorong perjalanan proses. Begitu manusia tercipta dan lahir ke alam dunia, maka sejak itulah perjalanan proses secara terus menerus sampai ajal tiba. Dalam proses tersebut ada dinamika, gelombang pasang dan gelombang surut.

Inilah yang disebut al Quran sebagai “cobaan” dan dalam al-Quran disebut dengan istilah “fitnah”.Pada hakikatnya, yang dituju cobaan atau fitnah itu adalah keteguhan/daya tahan usaha.

Dalam al Quran diilustrasikan usaha yang selalu bersambung-sambung tidak pernah terputus adalah ketika seseorang menghadapi dua hal, yaitu: harta kekayaan(amwal) dan anak (awlad) (QS Al Anfal: 28). Dalam menghadapi harta dan anak, tidak pernah ada kata jeda.Terus menerus, sambung menyambung. Maka dalam jalinan kesinambungan itulah fitnah atau cobaan mencoba untuk mengganggu, seperti menghlang-halangi, menjegal, merekayasa, dan sebagainya. Karena itu, perlu ketahanan usaha. Itulah resiko kalau seseorang menghadapi lorong perjalanan proses.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا

اللّـهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

Baca Juga: 2 Khutbah Jumat 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

(NSF)