Konten dari Pengguna

21 Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono yang Penuh Makna

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 7 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi buku puisi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buku puisi. Foto: Shutter Stock

Daftar isi

Puisi Sapardi Djoko Damono selalu berhasil membius siapa saja yang membacanya. Karangan puisi tersebut dibuat dalam berbagai tema, mulai dari percintaan, kekeluargaan, agama, dan cita-cita.

Salah satu karyanya yang paling populer berjudul “Aku Ingin”. Puisi tersebut menjelaskan tentang ungkapan seorang kekasih kepada pasangan yang amat dicintainya.

Bait pertamanya mengatakan “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”. Kata 'sederhana' di sini maksudnya mencintai apa adanya tanpa berlebihan.

Selain Aku Ingin, ada juga kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono lainnya yang populer. Apa saja? Simak ragamnya dalam artikel berikut.

Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

Ilustrasi buku puisi. Foto: Shutter Stock

Sejatinya, puisi adalah bentuk karya sastra yang dapat mengungkapkan perasaan dan pikiran penyair secara imajinatif. Karya puisi tersebut disusun dengan kata-kata dan frasa yang indah.

Mengutip buku Menggores Tinta Puisi susunan Ahmad Wahyudi (2021), puisi juga bisa menjadi media perantara untuk menyampaikan pesan dari penyair kepada pembaca. Isinya sangat beragam, salah satunya menjelaskan tentang kehidupan alam semesta.

Mendiang Sapardi Djoko Damono menjadi salah satu penyair puisi yang cukup terkenal di Indonesia. Ada banyak karya beliau yang diabadikan dalam bentuk buku-buku dan manuskrip, di antaranya:

1. Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu.

Kita abadi memungut detik demi detik,

merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa

"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu.

Kita abadi.

2. Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun

melayang jatuh di rumput,

Nanti dulu,

biarkan aku sejenak terbaring di sini,

ada yang masih ingin kupandang,

yang selama ini senantiasa luput;

Sesaat adalah abadi

sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

3. Dalam Doaku

Dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,

yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,

yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang di atas kepala,

dalam doaku kau menjelma pucuk pucuk cemara yang hijau senantiasa,

yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin

yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,

yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu

bunga jambu,

yang tiba tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun disana,

bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya

di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,

yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,

yang setia mengusut rahasia demi rahasia,

yang tak putus-putusnya bernyanyi

bagi kehidupanku

Aku mencintaimu,

itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan

keselamatanmu

4. Gerimis Jatuh

Gerimis jatuh kau dengar suara di pintu

Bayang-bayang angin berdiri di depanmu

Tak usah kau ucapkan apa-apa; seribu kata

Menjelma malam, tak ada yang di sana

Tak usah; kata membeku,

Detik meruncing di ujung Sepi itu

Menggelincir jatuh

Waktu kaututup pintu.

Belum teduh dukamu.

5.  Ia Tak Pernah

Ia tak pernah berjanji kepada pohon untuk menerjemahkan burung menjadi api

Ia tak pernah berjanji kepada burung untuk menyihir api menjadi pohon

Ia tak pernah berjanji kepada api untuk mengembalikan pohon kepada burung

6. Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

7. Kita Saksikan

kita saksikan burung-burung lintas di udara

kita saksikan awan-awan kecil di langit utara

waktu itu cuaca pun senyap seketika

sudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnya

di antara hari buruk dan dunia maya

kita pun kembali mengenalnya

kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata

saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia

8. Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,

Jasadku tak akan ada lagi,

Tapi dalam bait-bait sajak ini,

Kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,

Suaraku tak terdengar lagi,

Tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,

Pada suatu hari nanti,

Impianku pun tak dikenal lagi,

Namun di sela-sela huruf sajak ini,

Kau tak akan letih-letihnya kucari.

9. Sementara Kita Saling Berbisik

Sementara kita saling berbisik

untuk lebih lama tinggal pada debu,

cinta yang tinggal berupa bunga kertas dan lintasan angka-angka

ketika kita saling berbisik

di luar semakin sengit malam hari

memadamkan bekas-bekas telapak kaki,

menyekap sisa-sisa unggun api sebelum fajar

Ada yang masih bersikeras abadi.

10. Metamorfosis

Ada yang sedang menanggalkan

kata-kata yang satu demi satu mendudukkanmu di depan cermin

dan membuatmu bertanya

tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini

ada yang sedang diam-diam

menulis riwayat hidupmu

menimbang-nimbang hari lahirmu

mereka-reka sebab-sebab kematianmu

ada yang sedang diam-diam

berubah menjadi dirimu.

Ilustrasi menulis puisi. Foto: Shutter Stock

11. Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

12. Menjenguk Wajah di Kolam

Jangan kau ulang lagi menjenguk wajah yang merasa sia-sia,

yang putih yang pasi itu

Jangan sekali-kali membayangkan

Wajahmu sebagai rembulan

13. Akulah Si Telaga

akulah si telaga

berlayarlah di atasnya;

berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;

berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;

sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja

perahumu biar aku yang menjaganya.

14. Hanya

Hanya suara burung yang kau dengar

dan tak pernah kaulihat burung itu

tapi tahu burung itu ada di sana

Hanya desir angin yang kaurasa

dan tak pernah kaulihat angin itu

tapi percaya angin itu di sekitarmu

Hanya doaku yang bergetar malam ini

dan tak pernah kaulihat siapa aku

tapi yakin aku ada dalam dirimu

15. Kuhentikan Hujan

Kuhentikan hujan

Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan

Ada yang berdenyut dalam diriku

Menembus tanah basah

Dendam yang dihamilkan hujan

Dan cahaya matahari

Tak bisa kutolak

Matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga

16. Sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut

Mencintai air harus menjadi ricik

Mencintai gunung harus menjadi terjal

Mencintai api harus menjadi jilat

Mencintai cakrawala harus menebas jarak

Mencintai-Mu harus menjelma aku

17. Sajak Tafsir

Kau bilang aku burung?

Jangan sekali-kali berkhianat

kepada sungai, ladang, dan batu.

Aku selembar daun terakhir

yang mencoba bertahan di ranting

yang membenci angin.

Aku tidak suka membayangkan

keindahan kelebat diriku

yang memimpikan tanah,

tidak memercayai janji api yang akan menerjemahkanku

ke dalam bahasa abu.

Tolong tafsirkan aku

sebagai daun terakhir

agar suara angin yang meninabobokan

ranting itu padam.

Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat

untuk bisa lebih lama bersamamu.

Tolong ciptakan makna bagiku,

apa saja — aku selembar daun terakhir

yang ingin menyaksikanmu bahagia

ketika sore tiba.

18.  Sajak Putih

Beribu saat dalam kenangan

Surut perlahan

Kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh

Sewaktu detik pun jatuh

Kita dengar bumi yang tua dalam setia

Kasih tanpa suara

Sewaktu bayang-bayang kita memanjang

Mengabur batas ruang

Kita pun bisu tersekat dalam pesona

Sewaktu ia pun memanggil-manggil

Sewaktu Kata membuat kita begitu terpencil

Di luar cuaca

19. Dalam Diriku

Dalam diriku mengalir sungai panjang

Darah namanya;

Dalam diriku menggenang telaga darah

Sukma namanya;

Dalam diriku meriak gelombang sukma

Hidup namanya!

Dan karena hidup itu indah

Aku menangis sepuas-puasnya.

20. Tentang Matahari

Matahari yang ada di atas kepalamu itu

Adalah balon gas yang terlepas dari tanganmu

waktu kau kecil, adalah bola lampu

yang ada di atas meja ketika kau menjawab surat-surat

yang teratur kauterima dari sebuah Alamat,

adalah jam weker yang berdering

saat kau bersetubuh, adalah gambar bulan

yang dituding anak kecil itu sambil berkata:

“Ini matahari! Ini matahari!”

Matahari itu? Ia memang di atas sana

supaya selamanya kau menghela

bayang-bayangmu itu.

Baca juga: 5 Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar

(MSD)

HARI PERTAMA waktunya seru-seruan kumparan 9th Anniversary Live Celebration

Live di TikTok kumparan, pukul 15.00–19.00 WIB. Ngobrol bareng, ikutan keseruannya, dan raih kesempatan hadiah total Rp 99 juta.

Langsung join kum.pr/day1live

embed from external kumparan