Konten dari Pengguna

3 Ceramah Singkat Ramadhan dan Judulnya Sebagai Referensi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ceramah singkat Ramadhan dan judulnya. Foto: Pixabay/mufidpwt
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ceramah singkat Ramadhan dan judulnya. Foto: Pixabay/mufidpwt

Daftar isi

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperdalam keimanan dan ilmu agama di bulan Ramadhan, salah satunya melalui ceramah singkat Ramadhan. Ceramah ini dapat mengangkat berbagai tema, mulai dari keutamaan berpuasa, pahala salat tarawih, hingga keistimewaan qiyamul lail.

Biasanya, ceramah disampaikan di masjid pada waktu-waktu tertentu, seperti selepas salat subuh, menjelang berbuka, dan sebelum tarawih. Agar pesan tersampaikan dengan baik, ceramah perlu dikemas semenarik mungkin dan disesuaikan dengan kebutuhan jamaah.

Maka, penceramah harus menyusun materi tersebut dengan cermat. Agar tidak bingung, simak beberapa contoh ceramah singkat Ramadhan dan judulnya dalam artikel berikut untuk dijadikan referensi!

Contoh Ceramah Singkat Ramadhan dan Judulnya

Ilustrasi ceramah singkat Ramadhan dan judulnya. Foto: unsplash.com/MuhammadAdil.

Mengutip buku Pendidikan Karakter Islam oleh Hilyah Ashoumi, M.Pd.I., ceramah di bulan Ramadhan bertujuan untuk menyampaikan pesan serta nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas. Harapannya, mereka dapat mengamalkan ajaran Islam tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya dipandang sebagai bulan penuh ibadah, melainkan juga kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan. Berikut beberapa contoh ceramah Ramadhan singkat beserta rekomendasi judulnya untuk Anda.

1. Habluminannas: Mengapa Hubungan dengan Sesama Itu Penting?

Ilustrasi ceramah. Foto: Pexels

Salah satu keharusan Muslim adalah menjalin dua hubungan, yaitu hablum minallah (hubungan yang baik kepada Allah) dan hablum minannas (hubungan yan gbaik denagn manusia). Allah SWT berfirman:

۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ۝٣٦

Artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri." (QS An-Nisa: 36)

Dari ayat di atas, manusia harus menjalin hubungan yang baik kepada Allah SWT dan menunjukkan pengabdian kepada-Nya tanpa syirik, baik yang besar maupun kecil.

Di samping berhubungan baik dengan Allah, manusia juga harus menjalin hubungan baik kepada sesama manusia. Manusia antara yang satu dengan lainnya saling membutuhkan dan sudah seharusnya bisa menjalin hubungan sebaik-baiknya.

Dalam ayat di atas diberi contoh, seperti berlaku baik kepada kedua orang tua, berlaku baik kepada kerabat, berlaku baik kepada anak yatim, berlaku baik kepada orang miskin, dan lainnya.

Lalu, ayat di atas ditutup dengan "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri." Artinya, kita tidak boleh sombong dalam segala hal, meskipun kita lebih pintar maupun lebih kaya.

Sumber: 170 Materi Dakwah Pilihan oleh Drs. H. Ahmad Yani

Baca Juga: 3 Kultum Subuh Singkat yang Bisa Jadi Pengingat bagi Umat Muslim

2. Bukan Sekadar Puasa, Rahasia Menjalani Ramadhan dengan Berkualitas

Ilustrasi ceramah. Foto: Unsplash/Mufid Majnun

Beragama itu mudah, semudah menjalankan apa yang telah disyariatkan dalam Islam dengan baik, wajar, dan ikhlas. Alat ukurnya adalah mengetahui dan memahami ajaran dan nilai agama Islam dengan baik, kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena alat ukurnya adalah memahami tuntutunan atau perintah Allah SWT dan Rasul0Nya beserta larangan-Nya, sehingga di dalam melaksanakan ibadah sehari-hari seorang Muslim memiliki kejelasan orientasi "mengapa dan untuk apa saya beribadah?"

Sedangkan ikhlas, alat ukurnya adalah memastikan bahwa sesuatu yang baik dan wajar itu dilakukan dengan senang hati, sepenuh hati dan fokus di dalam berusaha mendapatkan ridha Allah SWT semata.

Semua tindakan ibadah yang dilakukan berdasarkan tuntunan tersebut, pada dasarnya memiliki nilai-nilai luhur yang dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan bersosial, berbudaya dan bermasyarakat. Karena pada dasarnya, kebaikan sekecil apapun akan mendapat pahala kebaikan dari Allah SWT, dan begitu pula sebaliknya.

Ramadhan mengajarkan kepada umat manusia (khususnya orang yang beriman), tentang pentingnya membangun sikap jujur di dalam kehidupan. Terminologi "jujur" menjadi kata kunci di dalam menjalankan perintah puasa. Berikutnya mari kita simak secuil cerita yang penting bagi kita, yakni peristiwa tentang orang yang ingin memeluk agama Islam.

Orang tersebut menyatakan kepada Nabi SAW bahwa dia mempunyai kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkannya, yaitu mencuri. Orang tersebut menyatakan bahwa di samping keinginannya yang begitu kuat untuk memeluk agama Islam, dia masih merasa kesulitan untuk menghindari kebiasaan mencuri tersebut.

Untuk memecahkan persoalan tersebut, Nabi SAW hanya meminta supaya orang itu berjanji untuk tidak berbohong (an laa takdzib). Janji untuk tidak berbohong tersebut tampaknya begitu merasuk di hati orang tersebut, sehingga sangat berpengaruh dalam kehidupan orang tersebut.

Tatkala hendak mencuri, dia senantiasa teringat janji yang dibuatnya dengan Nabi SAW. Seandainya dia masih mencuri, kemudian Nabi SAW bertanya ihwal hal tersebut, apa yang harus dijawabnya. Jika dijawab "tidak", berarti dia telah berbohong.

Akhirnya "kontrak sosial" atau yang disebut dengan "an laa takdzib" menjadi dasar moral bagi orang tersebut untuk berbuat baik, sehingga memudahkan prosesnya dalam memeluk agama Islam.

Kata kunci "tidak berbohong" dari cerita di atas, pada hakikatnya berimplikasi ke berbagai sektoral kehidupan kita. Dikatakan demikian, karena sikap tersebut merupakan bentuk pengejawentahan riil dari kata "iman dan taqwa."

Seseorang yang mampu menahan diri untuk tidak berbohong, berarti dia telah mampu mengendalikan diri dari keputusan tindakan yang merugikan dirinya dan orang lain, meskipun dia tidak mengerti bahwa tindakan tersebut merupakan implikasi dari iman dan taqwanya di hadapan Allah SWT.

Oleh karena itu, ada tiga hal penting yang perlu kita lakukan, agar dalam menjalani kehidupan (khususnya di bulan suci Ramadhan) dapat memberikan keberkahan dari efek kebaikan yang kita lakukan.

Pertama, mulai dari diri sendiri, yaitu memastikan bahwa kebaikan yang telah terencana agar segera direalisasikan. Sebab, tertundanya niat baik, biasanya akan cenderung membuat kebaikan gagal terealisasi.

Kedua, mulai dari yang kecil dan sederhana, maksudnya tindakan-tindakan seperti menyingkirkan duri di jalan, atau menyegerakan sesuatu yang baik ketika terbersit di hati kita tentang kebaikan.

Ketiga, mulai dari sekarang, yakni menyegerakan diri ikut mengambil bagian menjadi orang pertama yang melakukan kebaikan.

Inilah yang disebut Ibda' Binafsika, mulailah dari diri sendiri. Semoga di Ramadhan tahun ini, kita bisa melakukan hal-hal baik di bulan Ramadhan, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan sederhana serta mulai dari sekarang. Semoga!

Sumber: Kumpulan Kultum Ramadhan Mutiara Nasihat Seribu Bulan terbitan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

3. Puasa yang Diterima Allah, Kamu di Tingkatan yang Mana?

Ilustrasi ceramah. Foto: Unsplash/Falaq Lazuardi

Puasa dalam bahasa Arab disebut "as-Shiyaam" atau "as-Shaum" yang berarti "menahan". Syeikh Al-Imam Al-'Alim Al-Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Asy-Syafi'i dalam kitabnya "Fathul Qarib" menjelaskan bahwa berpuasa adalah menahan dari segala hal yang membatalkan puasa dengan niat tertentu pada seluruh atau tiap-tiap hari yang dapat dibuat berpuasa oleh orang-orang Islam yang sehat, dan suci dari haid dan nifas.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa seperti juga yang telah diwajibkan kepada umat sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa." (QS Al-Baqarah: 183).

Ayat yang diturunkan pada tahun ke 2 hijrah tersebut merupakan landasan syariah bagi puasa Ramadhan. Ayat ini berisikan tentang seruan Allah SWT kepada orang-orang beriman untuk berpuasa. Kemudian mengutip pesan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin bahwa Puasa memiliki tiga tingkat yakni:

Pertama: Shaumul 'Am (Puasa orang Biasa)

Puasa orang biasa yaitu puasa yang hanya bisa menahan lapar, dahaga dan hubungan suami istri tanpa memperhatikan dan menjaga hal-hal yang menyebabkan nilai-nilai puasa bisa hilang. Jika seperti ini saja seorang umat Islam melaksanakan puasa, dikuatirkan akan termasuk dengan apa yang pernah disampaikan Rasulullah Saw, "Kam min Shoimin laisa min shiyamihi illal Juu’I wal athsi." Artinya, "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak didapatnya dalam puasanya kecuali hanya rasa lapar dan dahaga saja." (HR Ahmad)

Kedua: Shaumul Khusus (Puasa orang Istimewa)

Puasa orang istimewa selain menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara zhahir mereka juga menjaga puasanya dari hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa. Dijelaskan oleh Rasulullah Saw bahwa ada lima hal yang menyebabkan pahala puasa hilang.

Khamsun yufthirna Sho'im: Al-Kizbu, wal Ghibatu, Wan Namimatu, Wannazratub bisyahwat, Wal Yaminul Kaazibah.

Artinya: "Ada lima hal yang menyebabkan nilai-nilai puasa batal yaitu: berbohong, menyebut-nyebut kejelekan orang, mengadu domba, memandang dengan nafsu, dan bersumpah palsu." (HR Ahmad)

Bagi golongan yang berpuasa tingkatan istimewa ini mereka menjaga perkataan dan perbuatan dari hal-hal yang sia-sia. Karena takut perkataan dan perbuatan tersebut puasa hanya dapat lapar dan haus saja, mereka benar-benar berpuasa zhahir dan bathin. Dari pendidikan puasa sebenarnya akan menjadikan seseorang berbudi luhur, berahlak mulia.

Tidak saja saat berpuasa saja bahkan implikasinya dapat dirasakan sampai di luar Ramadhan, karena sasaran terakhir dari puasa adalah menjadikan hamba yang bertakwa.

Ketiga: Shaumul Khususil Khusus (Puasa orang yang sangat istimewa)

Ini adalah golongan yang hampir tidak memikirkan masalah keduniawian lagi bahkan untuk makanan berbuka puasa pun mereka tidak sempat untuk memikirkannya, yang ada dalam hati mereka selalu kedamaian berdekatan dengan Sang Khaliq, yang dalam istilah sufi "Zauq" tingkatan puasa seperti ini tentunya hanya bisa dilakukan orang shaleh, waliyullah, dan para Nabi serta Rasul.

Pertanyaannya di tingkatan manakah puasa kita saat ini? Apakah ditingkatan puasa orang Awam yang hanya dapat lapar dan haus saja dalam berpuasa, ataukah kita telah mampu meningkatkan kepada tingkatan puasa yang lebih bernilai lagi?

Jawabannya tentu kita yang merasakan dan mengetahui. Untuk saat ini walaupun tidak mampu sampai pada tingkatan puasa teristimewa, paling tidak kita telah berpuasa pada pada tingakatan puasa istimewa, dan jangan sampai berpuasa tingkatan puasa orang awam.

Wallahu A'alam Bishowab

Sumber: Oase Ramadhan Bunga Rampai Materi Kultum Ramadhan 1445 H oleh Prof. Dr. H.A. Rusdiana, MM.

(NSF)