Konten dari Pengguna

3 Contoh Modul Pelatihan yang Dapat Dijadikan Referensi

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh modul pelatihan. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh modul pelatihan. Foto: Pexels

Contoh modul pelatihan di artikel ini dapat dijadikan acuan dalam menyusun media pembelajaran. Modul pelatihan umumnya diberikan kepada peserta pelatihan atau seminar.

Mengutip artikel ilmiah berjudul Pengembangan Modul Pelatihan untuk Meningkatkan Kualitas Hasil Pelatihan di Balai Latihan Kerja oleh Sumini, modul pelatihan adalah salah satu media pembelajaran yang bisa digunakan untuk membagikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja pada peserta pelatihan.

Tujuan utama penyusunan modul pelatihan adalah untuk memberikan pemahaman yang mendalam kepada peserta. Dengan begitu, mereka bisa mengaplikasikan pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajari.

Contoh Modul Pelatihan

Ilustrasi contoh modul pelatihan. Foto: Pexels

Modul pelatihan memiliki peran penting dalam meningkatkan aksesibilitas, keterlibatan, dan retensi pembelajaran. Isi modul harus menggunakan bahasa yang baik dan benar serta enak dibaca.

Berikut beberapa contoh modul pelataihan:

Contoh 1

Modul Pelatihan Pengembangan Ajar/Modul Pembelajaran

Pendahuluan

Materi pembelajaran merupakan satu bagian yang ada dalam rencana pembelajaran semester yang merupakan rincian dari satu bahan kajian atau beberapa bahan kajian yang terkait dengan mata kuliah yang diampu.

Materi pembelajaran dapat disusun dan dirancang berdasarkan karakteristik masing-masing mata kuliah serta kompetensi yang diharapkan sehingga materi pembelajaran harus selalu yang terbaru dan sesuai dengan perkembangan jaman.

Penyusunan buku ajar/modul ajar merujuk kepada CPL dan CPMK sehingga lulusan yang dihasilkan akan sesuai dengan profil lulusan yang mempunyai keahlian di bidangnya.

Penyusunan bahan ajar/modul ajar disesuaikan dengan tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran seperti yang tercantum dalam SN-DIKTI Pasal9 ayat 2.

Pembahasan

A. Karakteristik Pembelajaran

Buku Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi mahasiswa dengan dosen dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Junaidi, 2020). Sumber belajar dapat berupa modul ajar yang dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik proses pembelajaran.

B. Pengertian Modul Ajar

Modul merupakan bagian dari bahan ajar yang disusun secara sistematis. Modul memuat satu paket pengalaman belajar yang terencana dan disusun agar mahasiswa menguasai tujuan belajar yang spesifik. Modul ajar adalah buku dalam bentuk modul terpisah yang sesuai dengan sub-CPMK dan disusun berdasarkan rancangan pembelajaran (Arifin, 2017).

C. Dasar dan Kriteria Penyusunan Modul Ajar

Penyusunan modul perlu mengikuti aturan yang telah ditetapkan bersama sehingga pembelajaran dapat lebih efektif. Dasar penyusunan modul adalah Rencana Pembelajaran Semester dengan memperhatikan materi ajar.

D. Prosedur Penyusunan Modul

Modul ajar yang baik harus mampu membuat pembelajaran menjadi lebih efektif. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa hal yang terkait dengan mutu modul yaitu:

E. Desain Modul Ajar

Desain modul tergantung kepada Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang disusun oleh dosen. Di dalam RPS telah memuat strategi, media, materi dan metode penilaian sehingga RPS dapat menjadi acuan dalam mendesain penulisan modul.

PENUTUP

Penulisan modul ajar merupakan salah satu bagian dalam menyusun materi pembelajaran yang disusun secara sistematis dan dapat membantu dalam mencapai tujuan pembelajaran pada setiap sub-CPMK.

Untuk menghasilkan modul pembelajraan yang baik maka dosen harus memahami kriteria modul yang baik, cara mendesain modul, dan mampu menyusun modul dengan kaidah penulisan yang baik.

Baca Juga: Jawaban Cerita Refleksi Modul 2 Topik 2 PPG Dalam Jabatan 2024

Contoh 2

Modul Pelatihan Autonomus Learning: Intervensi Psikologis untuk Meningkatkan Self-Regulated Learning pada Mahasiswa

Pendahuluan

Jaman semakin maju dan berubah begitu cepatnya, mahasiswa sebagai pembelajar juga memiliki tantangan yang semakin meningkat.

Persyaratan administratif, hardskill, softskill, perubahan kurikulum, kuliah online dan persiapan lain untuk memasuki duni kerja merupakan beberapa tantangan penting dari sekian tantangan yang ada.

Tantangan tersebut membutuhkan kapasitas mahasiswa untuk merencanakan strategi apa yang digunakan untuk mengelola proses belajar secara mandiri di perguruan tinggi.

Belajar mandiri (autonomous learning) adalah kemampuan seseorang dalam memperoleh keterampilan atau pengetahuan secara mandiri berdasarkan proses yang ditentukan individu tersebut (Chene, 1983).

Pada kenyataanya tidak semua mahasiswa memiliki kapasitas belajar mandiri yang menjadi bekal dalam mengelola kapasitas diri, lingkungan dan tugas dengan tujuan menyesuaikan diri dengan tuntutan dan perubahan yang semakin bervariasi.

Oleh karena itu modul ini diharapkan mampu memfasilitasi mahasiswa dalam mengidentifikasi kapasitas belajar mandiri, mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang menjadi pengahambat dan pendorong dalam belajar mandiri, meningkatkan kemampuan/ kapasitas belajar mandiri, mampu mengatasi berbagai faktor yang menghambat proses belajar mandiri, dan menjadikan belajar mandiri adalah sesuatu proses belajar yang menyenangkan.

Penjelasan Kegiatan Pelatihan: Kemandirian dalam Eksplorasi Berbagai Kegiatan

A. Tujuan

1. Peserta mampu menjelaskan cara-cara yang digunakan untuk mengeksplorasi berbagai kegiatan bermanfaat maupun mencari materi pembelajaran di dalam maupun di luar perguruan tinggi.

2. Peserta mampu memanfaatkan sumber daya yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi berbagai kegiatan dan materi pembelajaran di dalam maupun di luar perguruan tinggi.

3. Peserta dapat mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat eksplorasi berbagai kegiatan dan materi pembelajaran di dalam maupun diluar perguruan tinggi.

4. Peserta dapat mendapatkan insight dan wawasan baru melalui diskusi mengenai sumber daya apa saja yang bisa dimanfaatkan dan faktor pendukung serta penghambat dari eksplorasi berbagai kegiatan dan materi pembelajaran di dalam maupun di luar perguruan tinggi.

B. Metode dan Waktu

1. Ceramah, presentasi, diskusi: 60 menit

2. Tugas mengisi lembar kerja: 20-30 menit

C. Alat Bantu

1. Laptop/komputer dan lembar kerja

D. Kegiatan

1. Trainer memaparkan materi mengenai bagaimana cara-cara mengeksplorasi berbagai kegiatan dan materi pembelajaran di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dibutuhkan untuk mendukung proses perkuliahan.

2. Trainer memberikan lembar kerja 1 kepada peserta untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber daya apa saja yang bisa digunakan untuk mengeksplorasi, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat eksplorasi.

3. Trainer meminta dua atau tiga peserta untuk mempresentasikan hasil kerjanya.

4. Trainer memandu peserta dalam proses diskusi hasil dari lembar kerja 1 tentang eksplorasi materi dengan menggunakan sumber daya yang sedia, identifikasi faktor penghambat dan pendukung eksplorasi materi. Apakah identifikasi dan pemanfaatan sumber daya dilakukan dengan realistis dan efektif.

Penutupan

1. Trainer meminta peserta menyimpulkan materi yang telah dipelajari.

2. Trainer melakukan refleksi mengenai pentingnya melakukan eksplorasi berbagai kegiatan dan materi secara mandiri. Eksplorasi yang dilakukan akan membantu meningkatkan self-regulated learning sebagai bekal untuk menjalani proses perkuliahan di perguruan tinggi.

3. Trainer menyimpulkan materi yang telah disampaikan.

Contoh 3

Modul Pelatihan Peningkatan Kompetensi Numerasi untuk Guru

A. Gambaran Umum Modul

Modul ini akan menguraikan tentang numerasi sebagai kemampuan bernalar matematis. Modul ini juga akan mendeskripsikan proses formulasi, penggunaan, dan penginterpretasian masalah di berbagai konteks dunia nyata.

Selain itu, modul ini akan membantu peserta pelatihan untuk mengetahui dimana posisi pengetahuannya (berkembang, layak, cakap, mahir) berdasarkan aktivitas yang akan dilakukan.

B. Target Kompetensi

Setelah mengikuti pelatihan, peserta diklat dapat mendiskripsikan numerasi sebagai kemampuan bernalar matematis dan proses dalam memformulasikan, menggunakan, dan menginterpretasikan masalah di berbagai konteks dunia nyata.

C. Tujuan Pembelajaran

1. Peserta pelatihan dapat menjelaskan kemampuan numerasi sebagai kemampuan bernalar matematis.

2. Peserta diklat dapat membedakan proses formulasi, penggunaan, dan penginterpretasian masalah di berbagai konteks dunia nyata.

D. Pola Pembelajaran

Pelatihan ini dirancang dengan pola in-on-in. Pembelajaran yang digunakan pada pelatihan ini berbasis aktivitas dimana peserta akan membentuk pengalaman yang membantu pengetahuan dan keterampilannya berkembang.

Selain itu, peserta akan menerapkannya saat kembali ke instansi dia bekerja. Refleksi akan dilakukan berdasarkan pengalaman penerapan nyata yang dilakukan.

E. Tagihan

Adapun beberapa tagihan yang harus dilakukan/dikumpulkan adalah:

1. Membaca referensi terkait literasi numerasi.

2. Mengumpulkan lembar hasil wawancara atau laporan penerapan di sekolah.

3. Membuat refleksi diri.

Kegiatan Pelatihan: Numerasi sebagai Kemampuan Bernalar Matematis

A. Pengantar

Aset utama dari manusia yang membuat manusia unggul di atas makhluk lainnya adalah kemampuan untuk bernalar. Dalam modul ini, kita akan melihat dan memahami bahwa numerasi merupakan kemampuan bernalar matematis.

Sehingga perlu dipahami juga bagaimana kemampuan bernalar dalam konteks matematika.

B. Aktivitas Pembelajaran

1. Pendahuluan

Pada modul ini akan dipelajari tentang:

a. Kemampuan numerasi sebagai kemampuan bernalar matematis.

b. Perbedaan proses formulasi, penggunaan, dan penginterpretasian masalah di berbagai konteks dunia nyata.

Untuk memahami numerasi sebagai kemampuan bernalar matematis, silakan perhatikan contoh soal berikut!

Soal:

Terdapat persegi panjang dengan panjang 10 meter dan lebar 8 meter. Tentukan luas persegi panjang tersebut!

a. Apakah soal tersebut termasuk soal numerasi?

b. Apakah soal tersebut dapat diselesaikan secara langsung dnegan menerapkan rumus luas suatu bangun datar?

2. Aplikasi

Sekarang Anda telah memahami bahwa numerasi merupakan kemampuan bernalar matematis. Untuk memperkaya wawasan Bapak/Ibu terkait hal tersebut, ayo, lakukan kegiatan berikut!

a. Pada kelompok Anda, pilihlah 1 bab atau subtema yang memuat soal numerasi pada mata pelajaran pada buku siswa di sekolah Bapak/Ibu selain matematika untuk diidentifikasi!

b. Deskripsikan kegiatan bernalar matematis dari soal tersebut!

c. Lakukan presentasi hasil diskusi Bapak/Ibu dengan teman Bapak/Ibu terkait proses penyelesaian soal tersebut!

(NSF)