3 Khutbah Jumat Menyambut Bulan Dzulhijjah sebagai Referensi

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 16 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu waktu yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Sebagai bulan ke–12 dalam kalender Hijriyah, bulan ini dipenuhi berbagai keistimewaan serta rangkaian ibadah yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya.
Di dalamnya terdapat hari-hari yang sangat dicintai Allah SWT, seperti pelaksanaan ibadah haji hingga perayaan Hari Raya Idul Adha. Karena keistimewaan tersebut, bulan Dzulhijjah sering kali dijadikan sebagai tema dalam khutbah Jumat.
Hal ini bertujuan agar pesan-pesan kebaikan di dalamnya dapat dipahami jemaah dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi yang butuh referensi khutbah Jumat bulan Dzulhijjah, simak beberapa contohnya melalui artikel ini!
Contoh Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah
Berikut ini beberapa contoh khutbah Jumat untuk menyambut bulan Dzulhijjah yang bisa dijadikan bahan referensi.
Contoh Khutbah #1
Judul: Melanjutkan Spirit Kurban
Sumber: Materi Khutbah Jumat Sepanjang Tahun oleh Muhammad Khatib, S.Pd.I (2018).
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Qurban atau adhiyah bermula sejak zaman Nabi Ibrahim yang diperintah Allah SWT melalui mimpinya untuk menyembelih putra kesayangan sekaligus satu-satunya saat itu; Ismail. Ketaatan Ismail dan keteguhan Ibrahim telah terbukti dengan kesungguhan menjalankan perintah Allah itu, meskipun secara manusiawi pasti sangat berat di hati. Maka di saat leher Ismail telah siap, seketika itu Allah menggantinya dengan seekor domba. Seperti itulah kemudian umat Islam disyariatkan untuk menyembelih hewan qurban.
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Sesungguhnya, Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah”. (QS. Al-Kautsar : 1-2)
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ
"Dan unta-unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya)". (QS. Al-Hajj : 36)
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Ibadah qurban memiliki hikmah yang dalam, baik secara spiritual maupun sosial. Qurban mendekatkan hamba kepada Allah SWT sekaligus menumbuhkan kepedulian kepada sesama, melalui pembagian daging kepada yang membutuhkan maupun yang mampu sebagai bentuk penguatan ukhuwah dan keimanan.
Jika makna qurban seperti ini kita pahami, maka spirit pengorbanan tidak boleh berhenti pada Idul Adha saja. Nilai untuk peduli, memberi manfaat, dan mengorbankan sesuatu yang berharga demi kebaikan harus terus hidup dalam setiap aspek kehidupan. Dalam Islam, hal ini dikenal sebagai at-tadhiyah, yaitu semangat pengorbanan yang berkelanjutan.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Menurut DR. Abdul Halim Mahmud dalam kitab Rukn At-Tadhiyah, pengorbanan dalam Islam memiliki beberapa hikmah utama. Pertama, setiap amal dalam Islam membutuhkan pengorbanan. Kedua, qurban dan pengorbanan sama-sama menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ketiga, keduanya memperkuat solidaritas dan tolong-menolong antar sesama muslim. Keempat, keduanya membawa kebaikan bagi pelakunya.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Sejak Islam dikumandangkan, sejak Muhammad diangkat sebagai Nabi dan Rasulullah, sejak saat itu pula sejarah pengorbanan dimulai. Baik pengorbanan harta, pengorbanan waktu, pengorbanan fikiran, hingga pengorbanan nyawa dilalui oleh generasi pertama umat ini.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Saat ini di negeri ini kita tidak menjumpai jihad fi sabilillah yang memberi kesempatan untuk mengorbankan nyawa di jalan Allah. Namun demikian, medan pengorbanan lain masih terbuka luas, dan siapa yang menjaga semangat ini berpeluang mengikuti jejak orang-orang terbaik menuju surga.
Pertama, dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Inilah bentuk pengorbanan yang harus terus dijalankan bersama. Dakwah menjadi penopang agama, yang menjaga umat dari penyimpangan, menguatkan keimanan, serta mengajak untuk menjalankan Islam secara kaffah dan memperjuangkannya.
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran : 104)
Kedua, berinfaq dan sedekah baik yang wajib maupun sunnah. Seorang muslim hendaknya melanjutkan spirit qurban dengan terus mengeluarkan hartanya di jalan kebaikan, baik melalui zakat maupun sedekah sunnah yang tidak terikat oleh waktu dan jumlah tertentu.
Dengan membantu fakir miskin dan kaum dhuafa, kita tidak hanya bersyukur kepada Allah SWT, tetapi juga memperkuat ukhuwah serta menumbuhkan rasa saling cinta. Jangan sampai kita termasuk orang yang mendustakan agama karena tidak peduli terhadap kebutuhan sesama.
Ketiga, berkontribusi sesuai kompetensi. Setiap muslim yang bekerja hendaknya meniatkan pekerjaannya sebagai ibadah, bagian dari upaya membangun peradaban Islam serta memberi manfaat bagi orang lain.
Dengan demikian, seluruh tenaga, waktu, dan kemampuan yang dikeluarkan menjadi bentuk pengorbanan yang bernilai ibadah, sekaligus mendorong peningkatan kinerja dan prestasi.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Contoh Khutbah #2
Judul: Giat Beramal di Bulan Dzulhijjah
Sumber: Buku Khutbah Zaynul Atqiya': Mimbar Dakwah LIM Lirboyo Kediri oleh Tim Kajian Ilmiah Lembaga Ittihadul Muballighin Ponpes Lirboyo.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ ذَوِى اْلأَرْحَامِ. قَالَ تَعَالَى : اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Alhamdulillah kita masih senantiasa diberikan nikmat kesehatan, iman dan islam oleh Allah Swt sehingga masih dapat menunaikan kewajiban yang telah diamanahkan kepada kita yaitu ibadah Salat Jumat. Sebagai seorang hamba sudah sepantasnya bagi kita untuk selalu bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan kita nikmat-Nya dan marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kepada-Nya sebagai perwujudan rasa syukur kita serta selalu berusaha beramal lebih baik dari hari sebelumnya.
Karena bila amal seseorang masih sama dengan hari kemarin maka ia termasuk orang yang merugi dan jika lebih buruk dari hari kemarin maka celakalah orang tersebut. Naudzubillah min Dzalik.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Sebagai generasi penerus bangsa, kita seharusnya dapat meniru amal-amal yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kita, apalagi kita sekarang berada dalam bulan yang diistimewakan oleh Allah Swt yaitu bulan Dzulhijjah. Dalam bulan ini, Allah Swt telah mensyariatkan puasa di hari Arafah yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal sembilan Dzulhijjah dengan janji pahala yang sangat agung. Seperti yang dijelaskan nabi Muhammad saw:
"Nabi Muhammad Saw ditanya tentang puasa arafah. Beliau menjawab: "Puasa arafah dapat melebur dosa di tahun yang telah lewat dan tahun yang akan datang." (HR Muslim)
Kesunahan puasa ini anjuran bagi orang-orang yang tidak melakukan ibadah haji. Para ulama juga menganjurkan puasa di hari sebelumnya yaitu tanggal delapan Dzulhijjah, guna untuk mengantisipasi bila hari tersebut ternyata sudah tanggal sembilan Dzulhijjah.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Merupakan kesempatan besar bagi kita sebagai orang muslim untuk mendapatkan pahala yang berlipat dalam bulan ini, karena nabi Muhammad Saw tidak hanya menganjurkan puasa saja di hari tersebut melainkan juga ibadah-ibadah yang lain. Maka marilah kita giatkan lagi ibadah kita kepada Allah Swt, karena Allah Swt juga memberikan keistimewaan pada sepuluh hari di bulan Dzulhijjah dengan pahala yang berlipat ganda.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Betapa besarnya Allah Swt menyampaikan nikmatnya kepada hamba-Nya yang muslim dengan pahala yang begitu besar. Sungguh merugi bagi orang-orang yang tidak mau beribadah di bulan yang menjadi ladang pahala ini. Oleh karena itu, marilah kita meningkatkan amal ibadah kita. Semoga Allah Swt memberikan kita kekuatan dan kemudahan. Amin ya rabbal 'alamin.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالقُرْءَانِ. وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًا وَرَحْمَةً. اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِينَا. وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا. وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ ءَانَآءَ الَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ. وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Contoh Khutbah #3
Judul: Meraih Cinta Allah
Sumber: Buku Khutbah Sejuta Umat oleh Muhammad Khatib
Khutbah Pertama
الْحَمدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بنَاءً وَالشَّمْسَ سِرَاجًا وَ القَمَرَ مُنِيرًا، أَشْهَدُ ان لا اله الا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الَّذِي اَرْسَلَ رَسُولَهُ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَاشْهَدُ ان مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَرْفَعُ البَرِيَّةِ قَدْ رَا شَهَادَةً مَنْ قَالَ لَهَا فَرَجَهُ مِنَ الخَطِيئَاتِ مَغْفُورًا الَّذِي تَقَلبَ مِنَ الصَّالِحَتِ وَأَنَا لَهُ ثَوَابًا وَاجُورًا اللهُم صَل وَسَلِمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ يُحِبُّ الفُقَرَاء وَالمَسَاكِينَ وَرَحِمَ اليَتِيمَ وَأَطْفَالًا وَصَغِيرًا، سَيدِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاصْحَابِهِ وَمَنْ تَبْعَهُمْ
مَا تَعَاقَبَتْ الْأَوْقَاتُ وَالسَّاعَاتُ لَيْلًا ونَهَارًا، امَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَى اللَّهِ أَوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Di penghujung tahun Hijriah ini, marilah kita intropeksi terhadap keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah, jika grafiknya mengalami penurunan maka naikkanlah dengan melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya tanpa terkecuali. Kita memang harus berusaha meningkatkan nilai keimanan dan ketakwaan, karena hidup di dunia ini begitu singkat dan tanpa terasa umur kita semakin bertambah, yang berarti semakin dekat kita akan menghadapNya.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Ketika seorang muslim ditanya, "Apakah anda mencintai Allah?" Jawaban pasti, ya. Seseorang mudah mengatakan cinta, akan tetapi untuk mewujudkan cintanya tidak semudah yang diucapkan. Ia butuh perjuangan dan pengorbanan yang tulus dan ikhlas, terlebih cinta kepada Allah, untuk meraihnya penuh liku, ujian dan cobaan. Di samping itu cinta kepada Allah yang agung itu, juga memiliki ukuran-ukuran tertentu dan aturan-aturan yang mesti dilakukan.
Karena itu, kita jangan mudah tergoda setan, sehingga merasa mencintai Allah, padahal perilaku kita penuh dengan kemunafikan dan sering melanggar aturan-aturanNya. Ada beberapa hal yang bisa kita jadikan tolok ukur sekaligus pertanda bahwa diri kita ini benar-benar mencintai Allah:
Pertama, tidak benci dan tidak takut mati,
Seperti kita temui dalam kehidupan sehari-hari, bila seseorang mencintai saudaranya sesama muslim, tentu ia amat berharap dan selalu merindukan orang yang dicintainya itu. Begitu juga bila seseorang mencintai Allah, pasti ia berharap bertemu dengan-Nya melalui proses kematian. Memang benar, ada juga orang yang ikhlas mencintai Allah, namun ketika mengingat datangnya kematian ia merasa takut dan belum siap untuk pulang ke akhirat. Hal ini dibolehkan asal ketakutannya itu karena masih merasa banyak dosa yang belum terampuni atau nilai ibadahnya yang masih banyak kekurangan, sehingga ia berusaha memperbaiki segala kekurangannya. Tetapi bagi orang telah mencapai puncaknya cinta kepada Allah, kematian justru menjadi dambaan baginya, karena ia menganggap dunia ini kotor dan penuh fitnah, ia tidak tergiur sama sekali, yang dicintai hanyalah Allah SWT.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kedua, yaitu mendahulukan apa yang dicintai Allah dari pada apa yang ia cintai. Ketika seseorang hendak melakukan suatu perbuatan, maka yang harus direnungkan terlebih dahulu adalah, apakah perbuatan yang akan dilakukan itu diridhai Allah apa tidak? Bagi orang yang mencintai Allah pasti lebih memilih perbuatan yang disenangi Allah, meskipun bertolak belakang dengan keinginannya atau ajakan hawa nafsunya, karena ia tahu balasannya adalah surga. Sebagaimana janji Allah SWT.
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبَّهُ وَنَهَى النَّفْسَ عَن الهَوَى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى .
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya)". QS. an-Naziaat 40-41.
Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bersabda, Orang yang cerdik adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk hidup sesudah mati. Dan orang yang dungu adalah orang yang menuruti hawa nafsunya dan mengharapkan sesuatu angan-angan kosong kepada Allah.
Ketiga, selalu berdzikir kepada Allah,
Orang yang mencintai Allah, lisannya selalu basah dengan dzikir. Sedangkan hatinya tak pernah sunyi dari mengingat Allah. Seperti halnya kita jumpai dalam pergaulan sehari-hari, orang yang mencintai saudaranya sesama muslim tentu akan lebih banyak mengingat dan menyebutnya bahkan dengan hal-hal yang ada kaitannya dengan orang yang mencintainya itu, ia tak akan lupa. Demikian juga orang yang mencintai Allah, ia selalu menyebutNya dan mengingat kebesaran kekuasaanNya, ia juga orang yang mencintai al-Qur'an dan mencintai RasulNya Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Allah berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تَحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرُ لَكُمْ ذُبُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيم
"Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". QS. Ali Imran 31.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Keempat, senang menyendiri untuk tafakur, munajat, menelaah kitab-Nya, dan shalat tahajud. Jika hati seseorang dipenuhi cinta kepada Allah, maka ia akan berusaha membangun komunikasi batin dengan Nya melalui media tafakur yaitu berfikir tentang tanda-tanda kekuasaan Allah, baik yang terpampang di alam semesta yang luas (ayatul kauniyah) maupun yang tersurat dalam al-Qur'an (ayatul qauliyah). Ia juga tidak melewatkan waktu tengah malam untuk munajat dan shalat tahajud.
Semua itu dilakukan untuk mencapai kebahagiaan dan kenikmatan hakiki atas dasar cinta sejati kepada Allah SWT serta meraih derajat terpuji di sisiNya, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur'an:
وَمِنَ اليَلِ فَتَهَجَدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحَمُودًا .
"Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji". QS. al-Isra' 79.
Kelima, rela berkorban untuk yang dicintainya,
Mencintai Allah akan melahirkan sikap rela berkorban karena berkorban adalah konsekuensi dari rasa cinta kepada sesuatu. Cinta kepada keluarga berarti kita harus siap berkorban apa saja yang kita miliki. Apalagi kepada Allah, berarti kita harus siap berkorban untuk membela syariat-Nya. Tidak hanya harta, tetapi nyawapun kita pertaruhkan:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ .
"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya". (QS. Al-Baqarah 207)
Apa yang menjadi alasan seseorang enggan berkorban di jalan Allah? Padahal apa pun yang kita miliki termasuk nyawa hakikatnya adalah milik Allah, kita hanya mempunyai hak pakai. Dan yang harus kita pahami bahwa apa yang kita korbankan semata-mata hanya mencari ridha-Nya, bukan untuk tujuan lain. Bagi orang mukmin, berkorban di jalan Allah adalah ukuran umum, untuk mengetahui kadar keimanan seseorang. Bagaimana ia dikatakan mukmin sejati, bila rumahnya bagus dan mewah sementara rumah-rumah ibadah terbengkalai tidak terurus.
Apakah ia tetap dikatakan orang beriman, ketika ia menghambur-hamburkan uang, sementara masih banyak orang miskin dan anak-anak yatim yang butuh bantuan. Wujud cinta kepada Allah adalah rela berkorban apa saja di jalan yang diridhai-Nya.
Keenam adalah merahasiakan cintanya,
Kebenaran cinta kepada Allah tidak mesti harus dikatakan. Cinta, tidak diukur dengan manisnya kata-kata tetapi ia dibuktikan dengan amal perbuatan nyata. Bahkan kecintaan yang diobral, diberitahukan kepada setiap orang, pertanda ia masih ragu dengan kecintaan itu sendiri. Apalagi kecintaan kepada Allah, bila selalu diberitahukan kepada setiap orang, kita takut akan kemasukan riya' (pamer) yang dengan begitu serta-merta akan menghapus semua bentuk pengakuan cinta tersebut. Cinta kepada Allah harus dirawat dalam hati dan dinyatakan dalam realisasi taqwa yang sebenarnya.
Khutbah Kedua
الحمدُ للهِ المُوَيدِ الصَّابِرِينَ بِعَزِيزِ نَصْرِهِ وَمُبَشِّرِ الشَّاكِرِينَ لِحَيدِ شُكُرُه وَمُوَفِق ,المُخْتَارِينَ لِلقِيَامِ بِأَمْرِهِ أَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ وَاسْلَمَ لا مَرْهِ فِيمَا حَكَمَ وَأَبْرَمَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ ان مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ مُنْتَهَى الدهورِ صَلَاةَ دَائِمَةً بِلَا فَنَاءِ وَلَا فَتُورِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
امَّا بَعْدُ ؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ أَمَرَكُمُ بأمرِ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ ، وَتَنَى بِمَلَائِكَتِهِ وَآيَهُ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ عِبَادِهِ ، فَقَالَ عَنْ مِنْ فَائِلِ إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُونَ عَلَى النَّبِيِّ ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَعِيدِ نَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسَلِينَ وَأَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِينَ.
اللهُمَّ اغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، أَنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبٌ الدَّعَوَاتِ اللَّهُمَّ احْفَظَ عَلَيْهِمْ وَدَائِعَ أَدْيَانِهِمْ وَأَخْرِجُهُمْ مِنَ السُّجُونِ إِلَى سَعَةِ أَوْطَائِهِمْ وَلَا تَجْعَلُهُمْ فِتْنَةٌ لِلظَّالِمِينَ وتجهم بِرَحمَتِكَ مِنَ القَوْمِ الْكَافِرُ مِنَ رَبَّنَا اتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةٌ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ يَامُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَابْتَاءِ ذِي القربى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرَ وَالبَغْيَ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Baca juga: Bolehkah Puasa Dzulhijjah Tapi Masih Punya Utang Puasa? Ini Penjelasannya
(RK)
