3 Khutbah Jumat Pasca Ramadhan yang Menyentuh Hati

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 17 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Khutbah Jumat menjadi bagian penting yang menentukan sahnya sholat Jumat. Khutbah biasanya disampaikan dalam dua sesi dengan jeda duduk di antaranya.
Di bulan Syawal, materi khutbah kerap membahas keutamaan menjaga ibadah pasca Ramadhan. Khatib dapat mengajak jamaah untuk semakin meningkatkan kualitas ibadahnya di bulan yang mulia ini.
Dengan begitu, jemaah diharapkan dapat terus meningkatkan iman dan takwanya sampai bertemu di bulan Ramadhan berikutnya. Sebagai referensi, simak contoh khutbah Jumat pasca Ramadhan menyentuh hati di bawah ini.
Contoh Khutbah Jumat Pasca Ramadhan Menyentuh Hati
Berikut contoh khutbah Jumat pasca Ramadhan yang menyentuh hati dan dapat dijadikan referensi bagi khatib yang akan bertugas. Materi ini bisa disesuaikan kembali dengan kondisi jamaah serta pesan yang ingin ditekankan.
Contoh Khutbah #1
Sumber: Laman Kementerian Agama (Kemenag)
Judul: 3 Cara Menjaga Spirit Ibadah Pasca-Ramadhan
الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ .فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Segala puji bagi Allah swt, Tuhan semesta alam yang terus mengalirkan nikmat yang tak bisa dihitung satu persatu kepada kita, di antaranya adalah nikmat iman dan takwa sehingga kita masih bisa menikmati manisnya Islam yang akan membawa kita selamat dunia akhirat. Tiada kata lain yang patut diucapkan kecuali kalimat Alhamdulillahirabbil Alamin. Dengan terus bersyukur, insyaAllah karunia nikmat yang diberikan akan terus ditambah oleh Allah swt.
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras”.(QS. Surat Ibrahim: 7)
Syukur yang kita ungkapkan ini juga harus senantiasa direalisasikan dalam wujud nyata melalui penguatan ketakwaan kepada Allah swt yakni dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan syukur dan taqwa ini, maka kita akan senantiasa menjadi pribadi yang senantiasa diberi perlindungan dan petunjuk dalam mengarungi samudera kehidupan di dunia dan bisa terus menjalankan misi utama hidup di dunia yakni beribadah kepada Allah swt. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam putaran waktu dan keseharian umat Islam, bulan Ramadhan menjadi momentum intensifnya kegiatan ibadah yang dilakukan baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Frekuensi ibadah seperti puasa, shalat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan ibadah-ibadah lainnya menjadi warna dominan di bulan mulia tersebut. Semangat ini seiring dengan kemuliaan Ramadhan yang di dalamnya banyak memiliki keutamaan dan keberkahan. Ramadhan menjadi bulan ‘penggemblengan’ jasmani dan rohani umat Islam untuk menjadikannya pribadi yang senantiasa dekat dengan sang khalik, Allah swt.
Namun pertanyaannya, bagaimana pasca-Ramadhan? Apakah kita mampu mempertahankan kualitas dan kuantitas ibadah kita? Apakah pasca-Ramadhan, kita kembali seperti sedia kala dengan semangat ibadah seadanya? Apakah takwa, sebagai buah dari perintah puasa Ramadhan, sudah kita rasakan dalam diri kita? Tentu pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri sebagai bahan muhasabah atau introspeksi diri agar spirit ibadah kita tidak mengendur pasca-Ramadhan.
Sehingga pada kesempatan khutbah ini, khatib ingin mengajak kita semua untuk melihat kembali lintasan perjalanan ibadah kita selama Ramadhan untuk menjadi spirit dan motivasi agar pasca Ramadhan, ibadah kita bisa ditingkatkan, atau minimal sama dengan ramadhan. Melihat masa lalu itu penting sebagai modal untuk menghadapi masa depan sebagaimana Firman Allah:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ḥasyr :18)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Semangat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah sebenarnya sudah tergambar dari makna kata Syawal yang merupakan bulan setelah Ramadhan sekaligus waktu perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Dari segi bahasa, kata “Syawal” (شَوَّالُ) berasal dari kata “Syala” (شَالَ) yang memiliki arti “irtafaá” (اِرْتَفَعَ) yakni meningkatkan. Makna ini seharusnya menjadi inspirasi kita untuk tetap mempertahankan grafik kualitas dan kuantitas ibadah pasca-Ramadhan. Dalam mempertahankannya, perlu upaya serius di antaranya adalah dengan melakukan 3 M yakni Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah.
Muhasabah adalah melakukan introspeksi diri terhadap proses perjalanan ibadah di bulan Ramadhan. Muhasabah ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri tentang: Apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan? Apakah kita sudah memiliki niat yang benar dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan? Apa yang menjadikan kita semangat beribadah di bulan Ramadhan? Pernahkan kita melanggar kewajiban-kewajiban di bulan Ramadhan? Dan tentunya pertanyaan-pertanyaan introspektif lainnya untuk mengevaluasi ibadah kita selama ini.
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan memotivasi kita untuk semangat dan memperbaiki diri sehingga akan berdampak kepada kualitas dan kuantitas ibadah pasca-Ramadhan. Terkait pentingnya Muhasabah ini Rasulullah bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Artinya: “Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.' (HR Tirmidzi).
Selanjutnya adalah mujahadah yakni bersungguh-sungguh dalam berjuang untuk mempertahankan tren positif ibadah bulan Ramadhan. Di bulan Syawal ini, kita harus tancapkan tekad untuk terus melestarikan kebiasaan-kebiasaan positif selama Ramadhan. Perjuangan ini tentu akan banyak menghadapi tantangan, baik dari lingkungan sekitar kita maupun dari diri kita sendiri. Oleh karenanya, kita harus memiliki tekad kuat dan benar agar hambatan dan tantangan yang bisa mengendurkan semangat ibadah kita ini bisa kita kalahkan.
Allah telah memberikan motivasi pada orang yang bersungguh-sungguh dalam berjuang sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 69:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang orang yang berbuat baik.”
Cara selanjutnya adalah muraqabah yakni mendekatkan diri kepada Allah. Dengan muraqabah ini, akan muncul kesadaran diri selalu diawasi oleh Allah swt sekaligus memunculkan kewaspadaan untuk tidak melanggar perintah Allah sekaligus bersemangat untuk menjalankan segala perintah-Nya. Sikap-sikap ini merupakan nilai-nilai yang ada dalam diri orang-orang yang bertakwa. Mereka adalah orang yakin dan percaya kepada yang ghaib dan tak tampak oleh mata. Rasulullah saw bersabda:
أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Artinya: “Hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, sebab meski engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu...” (HR Bukhari).
Nilai-nilai ketakwaan dengan senantiasa melakukan muraqabah ini seharusnya memang sudah tertancap dalam hati kita karena muara dari ibadah puasa di bulan Ramadhan sendiri adalah ketakwaan. Hal ini sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Demikian khutbah Jumat kali ini, semoga kita bisa senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadah kita pasca-Ramadhan dengan Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah.
Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah swt dalam mengemban misi ibadah ini. Amin.
Contoh Khutbah #2
Sumber: Laman Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Judul: 5 Langkah untuk Menjaga Istiqamah Amalan Setelah Ramadhan
اَلسَّلَامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةاُللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدُ الْأَمِيْنُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ،
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْنِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ حَقَّ تُقَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
صدق الله العظيم
Jamaah Jumat rahimakumullah...
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Takwa yang mengantarkan kita pada keridhaan Allah, takwa yang menjadi bekal terbaik dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al Hasyr ayat 18 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18)
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah...
Baru saja kita meninggalkan bulan suci Ramadhan, bulan penuh berkah, ampunan dan rahmat Allah. Bulan di mana kita dilatih untuk menjadi pribadi yang sabar, disiplin, dermawan, serta meningkatkan kualitas ibadah kita.
Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah: Apakah semangat ibadah yang telah kita bangun selama Ramadhan hanya bertahan satu bulan saja?
Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Allah yang konsisten dalam ketaatan sepanjang tahun. Ramadhan memang telah berlalu, namun Rabb-nya Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetap hidup dan mengawasi kita setiap saat. Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)
Maka dari itu, semangat beribadah yang telah kita rasakan selama Ramadhan hendaknya terus kita lanjutkan. Di antaranya:
Pertama, menjaga shalat lima waktu berjamaah di masjid
Salah satu bentuk ketaatan dan tanda kesungguhan seorang hamba dalam menjaga hubungannya dengan Allah SWT adalah dengan menjaga shalat lima waktu secara berjamaah di masjid.
Shalat adalah tiang agama, ibadah pertama yang akan dihisab di hari kiamat, dan merupakan pembeda antara orang beriman dan orang munafik. Allah SWT berfirman dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 43 :
وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ
"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk."
Ayat ini memerintahkan kita tidak hanya menunaikan shalat, tapi juga melakukannya bersama orang-orang yang rukuk—yaitu secara berjamaah. Rasulullah SAW bersabda:
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
"Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat." (HR Bukhari dan Muslim)
Maka dari itu, mari kita jaga semangat Ramadhan yang telah membiasakan kita shalat berjamaah di masjid. Jadikan itu sebagai kebiasaan harian, bukan musiman. Langkahkan kaki ke masjid untuk meraih cinta Allah, keberkahan, dan balasan surga. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللّٰهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ
“Barangsiapa pergi ke masjid di waktu pagi atau sore, maka Allah akan menyiapkan untuknya tempat tinggal di surga setiap kali dia pergi di pagi atau sore hari.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kedua, membiasakan diri membaca Alquran setiap hari
Alquran adalah petunjuk hidup bagi umat Islam. Ia adalah kalam Allah yang diturunkan untuk menerangi hati, menuntun jalan, dan menjadi penyembuh bagi jiwa. Oleh karena itu, membiasakan diri membaca Alquran setiap hari adalah bentuk ibadah yang sangat mulia dan penuh keberkahan. Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Isra ayat 9 :
إِنَّ هَـٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus...” (QS Al-Isra: 9)
Dengan membaca Alquran setiap hari, kita sedang menjaga hubungan ruhani dengan Allah, menyejukkan hati, dan memperkuat iman. Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
اِقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Alquran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi para pembacanya.”(HR Muslim)
Jangan biarkan hari-hari kita berlalu tanpa menyentuh kalamullah. Meskipun hanya satu halaman atau beberapa ayat, rutinkanlah setiap hari. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang rutin meski sedikit.
Jamaah yang berbahagia...
Ketiga, memperbanyak doa dan dzikir
Doa dan dzikir adalah amalan ringan di lisan, namun bernilai besar di sisi Allah. Dengan berdoa, kita menunjukkan ketundukan dan kebutuhan kita kepada-Nya. Dengan berdzikir, hati kita menjadi tenang dan hidup dalam cahaya iman. Allah berfirman di dalam surah Al Baqarah ayat 152 :
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari-Ku.”
Dan dalam ayat lain, Allah juga menegaskan:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS Ar-Ra’d: 28)
Rasulullah SAW pun sangat menekankan pentingnya dzikir. Beliau bersabda:
لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللّٰهِ
“Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan mengingat Allah.” (HR Tirmidzi, hasan sahih)
Dan tentang doa, Rasulullah SAW bersabda:
اَلدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah inti ibadah.” (HR Tirmidzi, shahih)
Keempat, puasa sunnah, seperti Senin-Kamis atau puasa enam hari di bulan Syawal; Berkaitan dengan ini Rasulullah SAW pernah bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
"Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR Muslim)
Kelima, menjaga akhlak dan adab dalam kehidupan sehari-hari ; Ramadhan telah melatih kita untuk meninggalkan dosa dan maksiat. Jangan sampai setelah Ramadhan, kita kembali ke dalam kelalaian dan kemaksiatan. Allah ﷻ berfirman di dalam surat An Nahl ayat 92 :
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali benangnya yang sudah dipintal dengan kuat..."
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak membatalkan amal shalih kita dengan kemaksiatan dan kelalaian setelah Ramadhan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah...
Mari kita jadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih bertakwa. Jangan biarkan semangat ibadah kita padam hanya karena bulan Ramadhan telah pergi.
Jadikan setiap hari kita seolah-olah berada di bulan Ramadhan, dengan hati yang bersih, ibadah yang istiqomah, dan semangat ketaatan yang membara. Allah Subhanahu wata’ala berfirman di dalam surah Fussilat ayat 30 :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan, dan memberikan kekuatan kepada kita untuk terus menjaga semangat ibadah hingga akhir hayat. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
Contoh Khutbah #3
Sumber: Buku Kumpulan Khutbah Jumat Dilengkapi Khutbah Idul Fitri & Idul ‘Adha
Judul: Amaliyah Sunnah di Bulan Syawal
Jamaah jumah rahimakumullah
Puja dan puji kepunyaan Allah Rabbul 'Alamin.Sang Penguasa Tunggal Alam Semesta. Rabb yang tidak pernah henti mengalirkan berbagai ragam nikmatNya kepada kita, meskipun bibir kita jarang mengungkapkan rasa syukur kepadaNya. Berkat kasih sayang-Nya jualah, di hari yang mulia ini, hati kita disucikan, langkah kita diringankan, sehingga dengan penuh keridhaan dan kerendahan hati, bersimpuh sujud mengagungkan asma-Nya. Selaksa do'a kita rintihkan, semoga ibadah jumat yang kita dirikan ini, diterima dan menjadi asset kebaikan kita di sisiNya. Amin ya arhamar rahim.
Salawat nan taslim, semoga tetap tercurah selalu keharibaan kekasih kita, Nabiyullah Muhammad saw. Nabi akhiruz zaman, seorang nabi yang lembaran kehidupannya, begitu mempesona, yang tidak bosan hati mengaguminya, karena keindahan kepribadian beliau, laksana mata air sejuk di tengah gurun tandus.
Jamaah jumah rahimakumullah
Sebagai muslim, hal esensial, yang patut kita lakukan adalah menjaga dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt. Olehnya itu, lewat kesempatan jumat kali ini, kami tegaskan kembali, marilah kita perkokoh benteng keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt. Takwa yang secara linguistik, diterjemahkan dengan kata takut. Takut, manakala kita dengan sadar dan sengaja mengabaikan semua perintah Allah. Takut, manakala kita dengan penuh kesombongan dan kecongkakan melanggar semua larangan-Nya. Karenanya, kalimat takwa ini, tidak boleh kita jadikan sekedar ungkapan hiasan, yang menghiasi ruang pendengaran kita. Sejatinya, pesan takwa ini, mesti kita pahami secara utuh, mesti kita pahami secara syamil dan paripurna, kemudian mewujudnyatakannya dalam kehidupan keseharian kita.
Jamaah jumah rahimakumullah
Saat ini, tanpa terasa, kita tengah berada di Jum'at ke... dari bulan Syawal 14... H. Terhitung beberapa hari sudah Ramadhan. berlalu meninggalkan kita. Tanpa ada kepastian, apakah kehadirannya, telah menyucikan jiwa dan membakar habis semua dosa-dosa kita ataukah tidak. Tidak ada kepastian, apakah di tahun mendatang, kita masih bisa bersua dengannya, ataukah justru Allah telah memanggil kita kembali kehadirat-Nya. Hanya kepada-Nya jualah kita memohon dan meminta.
Jamaah jumah rahimakumullah
Syawal, bila ditinjau dari segi bahasa bermakna peningkatan. Jika demikian, maka makna tersirat yang dapat dipahami adalah pasca ramadhan, diharapkan kita dapat meraih derajat takwa. Olehnya itu, di bulan Syawal ini, sejatinya, harus semakin meningkat kualitas shalat lima waktu kita, shalat sunnah kita, tilawah qur'an kita, qiyamul lail, infak dan sedekah kita dan seterusnya dan selanjutnya. Namun sayangnya, realita yang tampak dalam keseharian kita, justru sebaliknya. Syawwal bukan menjadi bulan peningkatan justru malah menjadi bulan penurunan. Baik penurunan dalam masalah ibadah maupun penurunan dalam kualitas diri kita.
Jamaah jumah rahimakumullah
Jika di bulan ramadhan, hampir semua masjid penuh dan sesak, tempat-tempat hiburan ditutup rapat-rapat, tangan-tangan begitu ringan untuk berbagi, dan berbagai kemaksiatan pun dikubur sedalam-dalamnya. Lantas, kenapa setelah ramadhan berlalu, masjid-masjid kembali sepi dari jamaah shalat lima waktu, tempat-tempat hiburan, mulai kembali ramai dipadati pengunjungnya, cacimaki, luapan emosional dan api kemarahan kembali membudaya. Kemana kita sembunyikan nilai-nilai ramadhan? Maka hanya kepada Allah jualah kita memohon perlindungan.
Jamaah jumah rahimakumullah
Fenomena itu, sesungguhnya memberikan sinyal kepada kita, bahwa puasa orang-orang yang demikian itu, sama sekali tidak memberikan dampak yang positif dan bahkan puasanya itu, tidak mampu mengantarkannya meraih derajat takwa. Seperti yang dikehendaki oleh Allah swt, laallakum tattaqun, agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.
Jamaah jumah rahimakumullah
Idealnya bagi kita adalah setelah mengikuti proses tarbiyah ruhiyah, selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, harus dan mesti, semakin meningkat, meningkat dan meningkat grafik amaliyah ibadah kita, bukan sebaliknya. Apapun kondisinya, biarlah ramadhan berlalu, biarlah ia pergi, karena itu merupakan sunnatullah, akan tetapi yang terpenting bagi kita adalah tetap bergairah dan tetap istiqomah dalam melaksanakan semua syariat Allah swt. Sikap istiqomah dalam beramal adalah dengan mengerjakan amalan tersebut secara kontinyu, secara terus-menerus. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:
أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهُ أَدْوَامُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus menerus, meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim) Jamaah jumah rahimakumullah."
Tidak begitu banyak amal khusus di bulan Syawal ini, akan tetapi Allah SWT telah memberikan kesempatan kepada kita dengan satu amal khusus berupa puasa sunnah selama 6 hari di bulan ini. Diantara keistimewaan puasa sunnah ini adalah kita akan memperoleh pahala selama setahun penuh, jika kita mengerjakan puasa ramadhan secara sempurna dan melengkapinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal ini. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِرًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ »
"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun lamanya" (HR. Muslim).
Jamaah jumah rahimakumullah
Adapun tata cara pelaksanaannya adalah seperti yang dijelaskan oleh Sayyiq Sabiq dalam Fiqih Sunnah bahwa menurut pendapat Imam Ahmad, puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh juga tidak secara berurutan dan tidak ada keutamaan cara yang pertama atas cara yang kedua. Sedangkan menurut madzhab Syafi'i dan Hanafi, puasa Syawal lebih utama dilakukan secara berurutan. Baik berurutan maupun tidak, tidak perlu kita perdebatkan dan permasalahkan. Karena yang terpenting bagi kita adalah bersegera dan berlomba-lomba untuk melaksanakannya, masih ada waktu, masih ada kesempatan, sehingga dengan demikian keutamaan yang disabdakan Nabi saw dapat kita raih.
Jamaah jumah rahimakumullah
Meskipun ramadhan sudah berlalu meninggalkan kita, akan tetapi, satu hal yang tidak boleh hilang dan berlalu dari kita adalah nilai-nilai ramadhan. Ramadhan telah mendidik kita menjadi pribadi yang jujur, maka implementasikan sifat jujur ini dalam keseharian kita. Ramadhan membentuk kita menjadi pribadi yang disiplin, maka praktekkan sifat disiplin ini, dalam kehidupan kita. Ramadhan telah membuat kita, menjadi pribadi yang sabar, maka wujudkan sifat sabar ini, dalam aktifitas kita.
Ramadhan menginginkan kita semua agar menjadi pribadi-pribadi muslim yang taqwa, baik, santun, lemah-lembut, maka hadirkan semua sifat-sifat mulia ini, dalam setiap interaksi kita dengan sesama. Mudah-mudahan Allah terima semua amal ibadah kita, Allah limpahkan kita kesehatan dan kekuatan, Allah berkahi usia kita, Allah ampuni dosa kita, dosa orangtua kita, dosa leluhur-leluhur kita, dosa pemimpin-pemimpin kita dan semoga Allah swt, mengembalikan kita semua kehadirat-Nya dalam keadaan husnul khatimah.
بَارَكَ اللهُ لِي وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الكَرِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ والذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُواهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ
Baca juga: 2 Khutbah Jumat tentang Menjemput Malam Lailatul Qadar yang Penuh Hikmah
(RK)
