3 Puisi tentang Isra Miraj yang Memiliki Makna Mendalam

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Isra Miraj merupakan salah satu peristiwa bersejarah yang membuat kagum setiap Muslim. Banyak puisi tentang Isra Miraj yang akhirnya tercipta sebagai ekspresi kekaguman sekaligus keimanan terhadap peristiwa ini.
Isra Miraj sendiri termasuk mukjizat Nabi Muhammad saw. Dalam peristiwa ini, Allah Swt memperjalankan Rasulullah saw dari Kabah (Makkah) menuju Baitul Maqdis (Palestina), kemudian diangkat ke Sidratul Muntaha yang terletak di langit.
Perjalanan panjang itu dilakukan hanya dalam waktu satu malam. Hal yang terdengar mustahil tapi nyata terjadi atas kuasa Allah Swt.
Oleh karena itu, Isra Miraj sering disebut peristiwa dahsyat dan diperingati setiap tanggal 27 Rajab. Tahun ini, momen Isra Miraj jatuh pada 8 Februari 2024.
Puisi tentang Isra Miraj
Dalam peringatan Isra Miraj, biasanya diselenggarakan berbagai acara, salah satunya pembacaan puisi. Bagi yang tengah mencari referensi, berikut beberapa contoh puisi tentang Isra Miraj yang indah dan mengandung makna mendalam.
1. Puisi Pertama
Puisi pertama dikutip dari buku Islam Rahmatan Lil'alamin: Antologi Puisi Guru dan Siswa oleh Ahmad Taufik Nasution. Puisinya berjudul "Isra Mi'raj" oleh Citra Amaliah Hasibuan.
Puisi ini bermakna mengenang peristiwa Isra Miraj serta hikmah yang ada di baliknya. Penyair menyampaikan dalam larik-larik yang mudah dipahami, lalu ditutup dengan nasihat yang menyentuh.
Isra Mi'raj
Ketika itu dua puluh tujuh bulan Rajab
Terjadilah peristiwa yang maha hebat
Nabi Muhammad
Ber-Isra Miraj
Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha
Malaikat Jibril sang utusan
Kendaraannya lebih mewah
Dari kendaraan masa kini
Burok... burok...
Dengan kecepatan kilat
Menembus jagat raya
Melintasi langit demi langit
Ke Shidratul Muntaha
Di kala itu Nabi Muhammad menerima perintah
Salat lima kali sehari semalam
Yang diwajibkan
Bagi semua insan
Di penjuru dunia
Kemudian...
Allah tunjukkan
Tanda-tanda kebesaran-Nya
Tanda-tanda keagungan-Nya
Tanda-tanda kekuasaan-Nya
Bagi umat Islam
Dalam perjalanan
Nabi berjumpa
Orang-orang pezina, diantara tangannya ada daging yang bernanah
Nabi melihat pemakan riba yang perutnya membuncit
Nabi melihat pemakan harta anak yatim, bibirnya seperti bibir unta
Kawan...
Laksanakan perintah-Nya
Jangan diturut orang yang sesat
agar selamat dunia akhirat
Baca Juga: 5 Puisi Islami Menyentuh Hati yang Menyejukkan
2. Puisi Kedua
Puisi kedua ini mengungkapkan perasaan penyair terhadap kebesaran Allah Swt. Salah satu tanda kebesaran-Nya adalah peristiwa Isra Miraj yang sulit dicerna akal, tapi sungguh terjadi di masa lalu.
Berikut larik-larik indah berjudul "Isra Mi'raj" dari Fath Wiladisastra yang diterbitkan dalam buku Tanah Kelahiran Antologi Puisi.
Isra Mi'raj
Aku berlindung kepada Allah
Dari godaan syaiton yang terkutuk
Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pengasih
Pencurah Kasih
Pelimpah Sayang
Diantara tanda-tanda kebesaranNya
Dengan segala keagunganNya
Maha suci Allah yang telah menjalankan hambaNya (Muhammad)
Di malam yang gelap gulita
Berlentera taqwa
Berbekal keimanan
Bersahabat Jibril
Diantara tanda-tanda kebesaranNya
Dengan segala keagunganNya
Dari tanah haram
Hingga negeri para nabi
Diantara tanda-tanda kebesaranNya
Dengan segala keagunganNya
Pintu langit terbuka
Penghuni langit bergembira
Menyambut kekasih yang mulia
Diantara tanda-tanda kebesaranNya
Dengan segala keagunganNya
Maha benar Allah dengan segala firmanNya
3. Puisi Ketiga
Puisi ketiga ini ditulis Zis al-Hakim dalam bukunya berjudul Dari Puisi dengan judul "Mengajak Mencintai Aqsha".
Sebagaimana judulnya, puisi ini mengajak umat Muslim untuk senantiasa menaruh perhatian ke Masjidil Aqsha yang saat ini tengah dijajah. Seperti yang diketahui, Masjidil Aqsha merupakan tempat Rasulullah saw mengimami salat berjamaah bersama seluruh nabi dalam peristiwa Isra Miraj.
Mengajak Mencintai Aqsha
Jika darimu tak lagi memancarkan adzan, dari mana lagi aku bisa menemukan Rumah ketiga yang dicintai Tuhan. Sedang untuk sampai Sidartul Muntaha harus bertolak dari pelukmu, Aqsha. Entahlah, pada sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun lagi, apakah engkau masih berdiri untuk dilihat cucu dan anakku nanti
Kehilanganmu adalah kehilangan banyak hal: Sejarah pertemuan dengan Tuhan, perkumpulan para utusan, pengokohan tiang agama, bahkan Isra Miraj engkau adalah latarnya.
Wahai engkau yang memilki hati, belajarlah mencintainya. Engkau mungkin kesulitan menemuinya dengan kakimu. Tapi tolong temui ia dengan hatimu, buka telapak tanganmu dengan lebar, ucapkan dengan penuh kesungguhan, "Tuhan, Bebaskanlah Aqsha, sebagaimana Kau bebaskan kedua Rumahmu yang lain. Dan anugerahkanlah kami cinta kepadanya sebagaimana Engkau mencintainya."
(DEL)
