Konten dari Pengguna

3 Tahap Proses Pembentukan Urine Pada Ginjal Manusia

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi buang air kecil/kencing. Foto: Shutterstock/KumparanSains
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buang air kecil/kencing. Foto: Shutterstock/KumparanSains

Urine merupakan hasil sisa dari metabolisme dalam tubuh yang melalui proses sekresi dari ginjal dan kemudian dikeluarkan melalui saluran kandung kemih. Di dalam urine biasanya mengandung beberapa zat yang tidak lagi diperlukan oleh tubuh dan warnanya kerap berbeda-beda.

Dijelaskan dalam buku Seri IPA Biologi terbitan Yudhistira Ghalia Indonesia, umumnya urine yang dikeluarkan akan berwarna jernih dan sedikit kuning karena adanya kandungan zat warna empedu (bilirubin). Namun, apabila warna urine tersebut berbeda dari biasanya, bisa jadi itu karena pengaruh obat-obatan dan makanan.

Selain itu, produksi urine juga dipengaruhi oleh hormon antidiuretik atau Anti Diuretic Homone (ADH) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis posterior. Hormon ini akan memengaruhi penyerapan air pada ginjal.

Apabila kadar hormon ADH rendah, penyerapan air akan berkurang sehingga volume urine yang dihasilkan banyak dan encer. Sebaliknya, jika kadar hormon ADH tinggi, penyerapan air akan meningkat dan volume urine yang dihasilkan lebih sedikit dan pekat.

Lalu, bagaimana proses pembentukan urine pada manusia terjadi?

Ilustrasi urine. Foto: Pixabay

Proses Pembentukan Urine pada Ginjal

Menyadur buku Ginjal Sehat Dengan Tanaman Herbal Pilihan terbitan Guepedia, proses pembentukan urine terjadi dalam tiga tahap, yaitu penyaringan (filtrasi), penyerapan kembali (reabsorpsi), dan pemekatan (augmentasi). Untuk mengetahui secara lengkapnya, simak ulasan berikut:

1. Penyaringan (filtrasi)

Pembentukan urine dimulai dari darah yang mengalir melalui arteri aferen ginjal, lalu masuk ke dalam glomerulus yang tersusun atas kapiler-kapiler darah. Saat darah masuk ke glomerulus, tekanan darah pun akan menjadi tinggi sehingga dapat mendorong air dan zat-zat yang memiliki ukuran kecil keluar melalui pori-pori kapiler dan menghasilkan filtrat.

Cairan hasil penyaringan tersebut (filtrat), tersusun atas, urobilin, urea, glukosa, air, asam amino, satrium, kalium, kalsium, dan klor. Filtrat selanjutnya disimpan sementara di dalam kapsula bowman yang kemudian disebut urine primer. Tahapan pembentukan urine primer ini disebut degan filtrasi.

2. Penyerapan Kembali (Reabsorpsi)

Urine primer yang terbentuk pada tahap filtrasi akan masuk ke tubulus proksimal. Di dalamnya terjadi proses penyerapan kembali zat-zat yang masih diperlukan oleh tubuh (tahap reabsorpsi).

Glukosa, asam amino, ion kalium, dan zat-zat yang masih diperlukan oleh tubuh juga diangkut ke dalam sel, kemudian ke dalam kapiler darah di dalam ginjal. Sedangkan urea hanya sedikit yang diserap kembali.

Hasil dari proses reabsorpsi disebut urine sekunder yang mengandung air, garam, urea (penimbul bau pada urine), dan urobilin (pemberi warna kuning pada urine).

Urine sekunder yang terbentuk dari proses ini selanjutnya akan mengalir ke lengkung henle, lalu menuju tubulus distal. Selama mengalir dalam lengkung henle tersebut, air dalam urine sekunder juga terus akan direabsorpsi.

Ilustrasi buang air kecil. Foto: Unsplash

3. Pemekatan (Augmentasi)

Pada bagian tubulus distal masih ada lagi proses penyerapan air, ion natrium, klor, dan urea. Di tempat inilah terjadi proses augmentasi, yakni pengeluaran zat-zat yang tidak diperlukan tubuh ke dalam urine sekunder. Ketika sudah bercampur barulah tercipta urine sesungguhnya, kemudian disalurkan ke pelvis renalis (rongga ginjal).

Urine yang terbentuk selanjutnya keluar dari ginjal melalui ureter, menuju kandung kemih yang merupakan tempat penyimpanan urine sementara. Kandung kemih memiliki dinding yang elastis dan mampu meregang untuk dapat menampung sekitar 0.5 liter urine.

Proses pengeluaran urine dari dalam kandung kemih disebabkan oleh adanya tekanan akibat adanya sinyal yang menunjukkan bahwa kandung kemih sudah penuh. Kontraksi otot perut dan otot-otot kandung kemih akan terjadi saat adanya sinyal penuh dalam kandung kemih. Akibat dari kontraksi ini, urine dapat keluar dari tubuh melalui uretra.

(IMR)