3 Tokoh yang Memiliki Peran Besar terhadap Proses Perumusan Pancasila

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tiga tokoh yang memiliki peran besar terhadap proses perumusan Pancasila adalah mereka yang berkontribusi secara signifikan dalam menyusun Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang lahir pada 1 Juni 1945.
Sebelum ditetapkan sebagai dasar negara, Pancasila mengalami proses perumusan yang melibatkan berbagai diskusi dan pemikiran mendalam oleh para pendiri bangsa. Proses ini berlangsung pada sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Pada sidang ini, berbagai tokoh pendiri bangsa berperan penting dalam merumuskan nilai-nilai dasar yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lantas, siapa saja tiga tokoh yang memiliki peran besar terhadap proses perumusan Pancasila? Berikut informasinya.
Siapa Saja Tiga Tokoh yang Memiliki Peran Besar terhadap Proses Perumusan Pancasila?
Mengutip Buku Ajar Mata Kuliah Wajib Umum Pendidikan Pancasila oleh Paristiyanti Nurwardani, dkk., tiga tokoh yang memiliki peran besar terhadap proses perumusan Pancasila adalah Muhammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno. Ketiga tokoh ini memiliki kontribusi yang signifikan dalam merumuskan dan menyusun dasar negara Indonesia.
Dirangkum dari modul Sejarah Perumusan Pancasila susunan Suranto, berikut peran dari ketiga tokoh tersebut dalam menyusun Pancasila sebagai dasar negara Indonesia:
1. Muhammad Yamin
Muhammad Yamin lahir pada 24 Agustus 1903 di Sawahlunto, Sumatera Barat. Ia adalah seorang sastrawan, sejarawan, politikus, dan ahli hukum. Yamin dikenal sebagai salah satu intelektual terkemuka pada zamannya yang memiliki wawasan luas tentang sejarah dan kebudayaan Indonesia.
Muhammad Yamin berperan aktif dalam sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada 29 Mei 1945, Yamin mengajukan lima asas dasar sebagai fondasi negara Indonesia merdeka dalam pidatonya, yang kemudian dikenal sebagai salah satu cikal bakal Pancasila. Lima asas yang diusulkan Yamin adalah:
Peri Kebangsaan
Peri Kemanusiaan
Peri Ketuhanan
Peri Kerakyatan
Kesejahteraan Rakyat
Baca Juga: Sejarah Dinamika Perumusan Pancasila yang Mengandung Banyak Pelajaran
2. Soepomo
Prof. Dr. Mr. Soepomo adalah seorang ahli hukum dan pengajar yang memiliki pemahaman mendalam tentang hukum adat dan hukum kolonial. Ia lahir pada 22 Januari 1903 di Sukoharjo, Jawa Tengah.
Soepomo dikenal sebagai salah satu perumus konstitusi Indonesia dan memiliki peran penting dalam penetapan dasar negara. Pada tanggal 31 Mei 1945, Soepomo memaparkan berbagai tiga teori negara, yakni:
Negara Individualistik adalah negara yang dibentuk berdasarkan kontrak sosial antara warganya, dengan fokus pada kepentingan individu, seperti yang dikemukakan oleh Thomas Hobbes, John Locke, Jean-Jacques Rousseau, dan H.J. Laski.
Negara Golongan adalah teori yang diajarkan oleh Karl Marx dan Vladimir Lenin, yang melihat negara sebagai alat untuk kepentingan kelas tertentu.
Negara Integralistik adalah negara yang tidak memihak pada satu golongan tertentu dan berdiri di atas semua kepentingan, sebagaimana dipaparkan oleh Spinoza, Adam Muller, dan Hegel.
Soepomo menolak konsep negara individualistik dan negara golongan, dan mengusulkan model negara integralistik atau negara kesatuan yang melayani semua pihak. Pandangan Soepomo ini mempengaruhi penyusunan sila-sila Pancasila.
3. Soekarno
Ir. Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur. Ia adalah seorang arsitek, pejuang kemerdekaan, dan pemimpin politik yang kemudian menjadi Presiden pertama Republik Indonesia.
Soekarno juga dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh dalam perumusan Pancasila. Pada 1 Juni 1945, ia menyampaikan pidato yang dikenal sebagai "Lahirnya Pancasila." Dalam pidato tersebut, Soekarno mengajukan lima dasar negara yang disebut Pancasila:
Kebangsaan Indonesia (nasionalisme)
Peri Kemanusiaan (internasionalisme)
Musyawarah, mufakat, perwakilan
Mufakat atau demokrasi
Kesejahteraan sosial
Ketuhanan yang berkebudayaan
Pidato Soekarno diterima dengan baik oleh peserta sidang BPUPKI dan menjadi landasan untuk perumusan lebih lanjut dari Pancasila sebagai ideologi negara. Soekarno kemudian diangkat sebagai salah satu anggota panitia kecil yang bertugas menampung dan mengidentifikasi usulan anggota BPUPKI terkait dasar negara.
Ketiga tokoh ini, dengan pandangan dan kontribusi masing-masing, memainkan peran kunci dalam pembentukan Pancasila yang menjadi dasar dan ideologi negara Republik Indonesia.
(SAI)
