4 Kultum Ramadhan Hari ke-6 yang Bisa Jadi Bahan Renungan

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama bulan Ramadhan, penyampaian kultum atau kuliah tujuh menit oleh ustaz biasanya dilakukan setelah sholat subuh atau tarawih. Kultum menjadi sarana untuk menyampaikan nasihat dan memperkuat keimanan di tengah suasana Ramadhan.
Memasuki Ramadhan hari ke-6, kultum dapat diisi dengan pesan pengingat untuk menjaga konsistensi semangat ibadah hingga akhir Ramadhan. Bagi yang sedang membutuhkan referensi ide kultum Ramadhan hari ke-6, simak beberapa contohnya di bawah ini.
Contoh Kultum Ramadhan Hari Ke-6
Materi kultum Ramadhan hari ke-6 perlu disusun secara ringkas, jelas, dan sederhana agar mudah dipahami. Berikut beberapa contoh yang dapat dijadikan sebagai bahan renungan umat Muslim.
Contoh Kultum Ramadhan #1
Judul: Keutamaan Tarawih
Sumber: Buku Kumpulan Kultum Ramadan: Berkaca Pada Jiwa karya Prito Windiarto dan Taupiq Hidayat
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْعَمْنَا بِنِعْمَةِ الإِيْمَانِ و الإسلام والصلاة والسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اله وأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ أَشْهَدُ أن لا إله إلا الله رب العالمين وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ أَمَّا بَعْدُ اللَّهُ خَاتِمُ النَّبِيِّينَ
Alhamdulillaahilladzii an 'am naa bini'matiliimaani walislaami wash-sholaatu was-salaamu 'alaa muhammadin wa 'ala aalihi wa ash-haabihi ajma'in asyhadu alla ilaaha illallahu rabbul'aalamiina wa asyhadu anna muhammadarrosulullooh khootimuunnabiyyiina. Amma ba'du.
Alhamdulillah. Segenap puji untukNya yang telah memberikan kita kenikmatan Iman dan Islam. Sholawat dan salam teruntuk Nabi Muhammad SAW, pada keluarga, para sahabatnya.
Salah satu ibadah spesial di bulan Ramadhan selain puasa (shaum) adalah shalat tarawih. Shalat sunnah qiyamul lail ini hanya ada di bulan suci ini. Ibadah sunnah muakkadah ini sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Banyak sekali keutamaan dan keistimewaan ketika kita menunaikan shalat ini. Berikut adalah beberapa di antaranya.
Pertama, shalat tarawih bisa menjadi wasilah diampuninya dosa. Nabi SAW. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
"Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (salat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari dan Muslim).
Pengampunan dosa dalam hadits tersebut dapat mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits. Namun, ada pendapat lain mengatakan yang dimaksud pengampunan dosa adalah khusus untuk dosa kecil. Meski begitu, mengingat banyaknya dosa yang kita lakukan, semoga shalat tarawih yang kita lakukan bisa menggugurkannya. Membersihkan dosa-dosa kita.
Dalam riwayat lain dari Abdurrahman bin Auf, Rasulullah SAW. bersabda:
"Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di mana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya (tarawih) untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa berpuasa Ramadhan dan Qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya." (HR Ahmad, Ibnu Majah).
Kedua, Sunnah Muakkadah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Shalat tarawih adalah ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Berikut adalah kutipan laman Suara Muhammadiyah: diriwayatkan dari Ibnu Syihab, Urwah menyampaikan kepadanya bahwa Aisyah telah melaporkan jika Rasulullah pada suatu malam (pada bulan Ramadhan) berangkat ke masjid dan mendirikan salat di sana.
Kemudian orang banyak mengikuti beliau. Keesokan harinya orang bercerita tentang salat Rasulullah itu sehingga jamaah semakin banyak. Keesokan harinya orang juga bercerita lagi sehingga pada malam keempat jamaah tidak lagi tertampung di masjid. Paginya, setelah selesai salat subuh, Nabi bersabda:
"Amma ba'du. Sesungguhnya aku tahu kemampuan kalian. Akan tetapi aku ragu bila salat tarawih itu diwajibkan atas kalian, dan kalian tidak mengerjakannya," (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).
Meski sunnah, kita jangan sampai melewatkan ibadah yang muakkadah (sangat dianjurkan ini). Wallahu a'lam bishowab.
Contoh Kultum Ramadhan #2
Judul: Menjadi Manusia Terbaik
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an melalui malaikat pilihan, yaitu Malaikat Jibril, kepada rasul pilihan, Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an diturunkan dari tempat yang mulia, yaitu Lauhul Mahfudz, di negeri yang mulia, yaitu Mekkah dan Madinah, pada bulan yang mulia, yaitu bulan Ramadhan, serta pada malam yang paling mulia, yaitu malam Lailatul Qadar.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan petunjuk kepada umatnya melalui sabda beliau:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ
Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari, Abu Dawud).
Menjadi manusia terbaik bukan hanya diukur dengan seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi lebih dari itu seberapa bermanfaatkah ilmu yang dia miliki untuk orang lain? Tentunya, orang yang memiliki sedikit ilmu lalu dia mengamalkannya dan mendakwahkannya akan lebih baik daripada orang yang memiliki banyak ilmu namun tidak mengamalkan dan mendakwahkannya.
Orang yang telah mengetahui satu huruf dari al-Quran, lalu dengan pengetahuannya itu dia mengajarkan anak-anaknya, keluarganya, dan masyarakatnya maka dia adalah manusia terbaik. Karena dia telah memberikan banyak manfaat dari ilmu yang telah dia dapatkan, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan dia berkata; sungguh aku termasuk orang-orang muslim". (QS. Fushilat: 33).
Oleh karenanya, marilah kita menjadi manusia terbaik yaitu manusia-manusia yang selalu belajar dan mengajarkan al-Quran tanpa mengenal batas usia. Dimulai dengan belajar membacanya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid, belajar mentadabburinya (merenungi makna-makna yang terkandung, dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian kultum hari ini, semoga kita senantiasa mendapat rahmat dan ridho dari Allah SWT. Amiin.
Contoh Kultum Ramadhan #3
Judul: Berbuka dan Sahur Menurut Rasulullah SAW
Sumber: Kultum 30 Ramadhan karya Heri Suprapto
Jamaah shalat Isya dan Tarawih yang dirahmati Allah,
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat hadir di masjid ini untuk melaksanakan shalat Isya dan Tarawih secara berjamaah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Pada kesempatan ini, kultum akan membahas tentang berbuka dan sahur menurut Rasulullah SAW. Kedua amalan ini bukan hanya bagian dari puasa, tetapi juga mengandung keberkahan dan memiliki nilai sunnah yang dianjurkan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dalam menjalankannya, umat Islam juga dianjurkan untuk bersahur sebelum berpuasa dan segera berbuka saat waktunya tiba.
Rasulullah SAW menganjurkan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Anas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
تَسَخَرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً
Artinya: "Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.”
Lalu bagaimana sahur yang dianjurkan Rasulullah SAW? Ada beberapa hal yang bisa dijadikan pedoman agar sahur yang dilakukan sesuai dengan sunnah beliau.
Pertama, bersahur meskipun hanya sedikit. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk tetap sahur walaupun hanya dengan seteguk air, karena di dalam sahur terdapat keberkahan dan sudah dihitung sebagai menjalankan sunnah.
Kedua, mengakhirkan waktu sahur. Rasulullah SAW mencontohkan untuk makan sahur mendekati waktu subuh, karena hal tersebut lebih utama dan menunjukkan kesiapan dalam menjalankan puasa.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Selain sahur, Rasulullah SAW juga memberikan tuntunan dalam berbuka puasa. Salah satunya adalah menyegerakan berbuka ketika waktunya telah tiba, karena hal tersebut merupakan kebaikan bagi orang yang berpuasa.
Kemudian, berbuka dengan kurma atau air putih. Rasulullah SAW mencontohkan berbuka dengan kurma, dan bila tidak ada, maka cukup dengan air putih.
Selain itu, dianjurkan membaca doa ketika berbuka. Doa tersebut sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat dan kekuatan dalam menjalankan puasa.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Demikian beberapa tuntunan sahur dan berbuka menurut Rasulullah SAW. Semoga kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga puasa yang dijalankan semakin sempurna dan penuh keberkahan.
Akhir kata, semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan menjadikan Ramadhan ini sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan kita. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Contoh Kultum Ramadhan #4
Judul: Menjaga Diri dari Komentar Negatif di Media Sosial
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, serta mempertemukan kita kembali dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala perbuatan yang dapat mengurangi pahala ibadah. Salah satu hal yang perlu dijaga adalah ucapan, termasuk apa yang disampaikan melalui media sosial di era digital saat ini. Rasulullah SAW telah mengingatkan hal tersebut dalam salah satu sabdanya:
إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ.
Artinya: "Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor dan menghina. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa'." (HR Muslim).
Jamaah sekalian,
Di zaman digital ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Namun, sering kali kita melihat kolom komentar dipenuhi dengan kata-kata kasar, fitnah, dan caci maki. Padahal, sebagai seorang Muslim, kita diperintahkan untuk menjaga lisan dan perkataan. Rasulullah SAW bersabda:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.
Artinya: "Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam." (HR Al-Bukhari).
Ketika kita menulis komentar di media sosial, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kata-kata ini bermanfaat? Apakah ini akan membawa kedamaian atau justru menimbulkan kebencian? Sebab, komentar negatif tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi juga dapat menurunkan kualitas ibadah kita.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Puasa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk melatih diri agar lebih berhati-hati dalam berucap, baik secara langsung maupun di media sosial. Mari manfaatkan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, berbagi ilmu, dan mempererat ukhuwah Islamiyah. Jangan sampai jari-jari kita menuliskan hal-hal yang kelak akan kita sesali di hadapan Allah SWT.
Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk menjaga lisan, baik dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Semoga puasa kita diterima, dan kita menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadhan ini. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Di tengah arus informasi yang semakin cepat dan dinamika kehidupan yang terus bergerak, Ramadan menjadi momen untuk refleksi diri dan kembali pada nilai empati serta kepedulian. Sepanjang bulan suci ini, kumparan hadir dengan beragam program, liputan langsung, dan informasi relevan seputar Ramadan.
Cek informasi selengkapnya di kum.pr/ramadan2026
Baca juga: 5 Kultum Ramadhan Singkat 5 Menit yang Penuh Nasihat Kebaikan
(RK)
