Konten dari Pengguna

5 Kultum Ramadhan Singkat 5 Menit yang Penuh Nasihat Kebaikan

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 10 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kultum Ramadhan singkat 5 menit. Foto: Ahmet Polat/pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kultum Ramadhan singkat 5 menit. Foto: Ahmet Polat/pexels

Kuliah tujuh menit (kultum) menjadi salah satu rangkaian ibadah selama bulan Ramadhan. Ceramah singkat ini merupakan sarana dakwah yang efektif untuk menyampaikan pesan kebaikan secara ringkas, tetapi tetap bermakna.

Karena waktu penyampaiannya yang terbatas, materi kultum harus disampaikan dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan mudah dipahami. Penyampaiannya harus berfokus pada satu tema agar jemaah dapat menangkap inti pesannya.

Sebagai contoh, simak beberapa kultum Ramadhan singkat 5 menit di bawah ini!

Contoh Kultum Ramadhan Singkat 5 Menit

Ilustrasi kultum Ramadhan singkat 5 menit. Foto: Alena Darmel/pexels

Berikut contoh teks kultum Ramadhan singkat 5 menit yang bisa dijadikan referensi:

1. Berpuasa Lahir dan Batin

Ibadah puasa yang dikehendaki Islam adalah puasa lahir dan batin. Puasa lahir dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, dan jima' di siang hari. Sedangkan puasa batin dilakukan dengan menahan diri dari hal-hal yang merusak pahala puasa.

Jika yang dilakukan hanya berpuasa lahir, kita khawatir akan menjadi orang yang merugi. Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمِ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

"Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja." (HR. Ahmad No. 9685, Ibnu Majah No. 1690, Ad Darimi No. 2720)

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَ العَمَلَ بِهِ وَ الجَهْلِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَن يَدَعَ طعامه وشرابه

"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, mengamalkannya dan bersikap bodoh, maka Allah tidak butuh terhadap sikapnya meninggalkan makan dan minumnya (puasanya)." (HR. Bukhari dan Abu Daud; lafazh hadits ini milik Abu Daud)

Maka, di bulan Ramadhan, kaum muslimin juga harus berupaya menggembleng dirinya untuk memerangi dan menundukkan jiwanya agar taat kepada Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

المُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ

"Mujahid adalah orang yang melawan dirinya dalam rangka menta’ati Allah..." (HR Ahmad)

Juga berlatih menjaga qalbunya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

"Dan ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut seluruhnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah tubuh tersebut seluruhnya. Ketahuilah, ia adalah qalbu." (HR. Bukhari)

Sumber: Buku 30 Materi Ceramah Ramadhan oleh Muhammad Indra Kurniawan

2. Menjaga Ketakwaan dengan Mujahadah

Mujahadah, yakni kesungguhan dalam melawan hawa nafsu dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

المُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

"Mujahid adalah orang yang melawan dirinya dalam rangka mentaati Allah, dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang." (HR. Ahmad)

Mujahadah (kesungguhan) ini tumbuh dari kedaran akan mu'ahadah (ikatan janji). Manusia bertakwa yang sadar terhadap ikatan janjinya, akan berusaha untuk melaksanakan perintah Allah Ta'ala dan menjauhi larangan-Nya dengan sungguh-sungguh.

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa jihadun nafs itu ada empat tingkatan:

  1. Mujahadatu an-nafs dalam ta'limul huda wa dinil haq (mengenal/memahami petunjuk dan agama yang benar).

  2. Mujahadatu an-nafs dalam al-'amalu bihi, mengamalkan petunjuk dan agama yang benar itu setelah mengilmuinya.

  3. Mujahadatu an-nafs dalam ad-da'wah ilal haq

    (dakwah kepada kebenaran).

  4. Mujahadatu an-nafs dalam as-shabru (kesabaran)

    menghadapi kesulitan dakwah ila-Lllah dan kejahatan manusia, serta menjalani itu semua karena Allah.

Sumber: Buku 30 Materi Ceramah Ramadhan oleh Muhammad Indra Kurniawan

3. Keutamaan Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur'an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu." (QS. Al Baqarah: 185).

Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan, "(Dalam ayat ini) Allah Ta'ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur'an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi 'alaihimus salam."

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain menjadi bulan suci yang dipenuhi dengan berkah, keutamaan Ramadhan juga sangatlah besar. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa keutamaan Ramadhan serta dalil-dalilnya.

Pertama-tama, Ramadhan adalah bulan di mana Allah SWT memberikan kesempatan kepada umat-Nya untuk beribadah lebih banyak lagi. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa."

Dalam ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa puasa di bulan Ramadhan adalah suatu kewajiban bagi umat Islam, dan tujuan dari puasa adalah untuk mendapatkan taqwa atau ketakwaan kepada Allah SWT.

Kedua, di bulan Ramadhan, pahala dari Allah SWT untuk amal ibadah yang dilakukan oleh umat Islam dilipatgandakan. Hal ini terdapat dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda,

"Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan dengan iman dan harapan pahala dari Allah SWT, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." Dalam hadis ini, terlihat betapa pentingnya beribadah dengan niat yang tulus dan penuh harapan agar mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Ketiga, di bulan Ramadhan, umat Islam juga dianjurkan untuk bersedekah dan berbuat kebaikan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 196, Allah SWT berfirman, "Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah, jika kamu melakukannya. Akan tetapi jika kamu terhalang, maka (lakukanlah) korban yang mudah. Dan janganlah mencukur rambutmu sebelum korban sampai ke tempatnya sembelihan.

Barangsiapa di antara kamu sakit atau ada kelemahan pada kepalanya (kerontokan), maka (tebuslah dengan) puasa atau sedekah atau korban. Apabila kamu dalam keadaan aman, maka barang siapa yang memilih berbuat kebajikan (di hari-hari) bulan Dzulhijjah, maka sesungguhnya Allah memberi balasan atas kebajikan itu."

Dalam ayat ini, Allah SWT menegaskan betapa pentingnya bersedekah dan berbuat kebaikan di bulan Ramadhan.

Terakhir, di bulan Ramadhan, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak ibadah malam, seperti shalat Tarawih dan Qiyamul Lail.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa melakukan shalat malam di bulan Ramadhan dengan iman dan harapan pahala dari Allah SWT, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat-Nya dan membimbing kita dalam menjalankan ibadah di bulan suci ini. Amin.

Wallahu A'alam Bishowab.

Sumber: Oase Ramadhan oleh Prof Dr. H.A. Rusdiana, MM.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mengganti Utang Puasa Lewat 2 Kali Ramadhan? Begini Ketentuannya

4. Pahala Membaca Al-Qur'an di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan dari Allah SWT. Di bulan yang mulia ini, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah untuk mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah membaca Al-Quran.

Pertama: Membaca Al-Quran di bulan Ramadhan; memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman, "Bulan Ramadhan ialah bulan di mana diturunkan Al Quran, menjadi petunjuk bagi manusia dan menjelaskan kebenaran dan petunjuk serta keterangan yang memisahkan antara yang hak dan yang batil."

Dalam ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang diutamakan untuk membaca Al-Quran karena di bulan ini diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia.

Kedua: Pentingnya membaca Al-Quran di bulan Ramadhan; Rasulullah SAW juga telah mengajarkan betapa pentingnya membaca Al-Quran di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Quran, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipatnya."

Dalam hadits ini, terlihat betapa besar pahala yang akan didapatkan oleh seseorang yang membaca Al-Quran di bulan Ramadhan.

Ketiga: membaca Al-Quran di bulan Ramadhan; mendapatkan pahala yang besar, membaca Al-Quran di bulan Ramadhan juga bisa membantu kita untuk mendapatkan keberkahan dan kedamaian jiwa.

Dalam Surat Ar-Ra'd ayat 28, Allah SWT berfirman, "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan zikir kepada Allah hati menjadi tenteram."

Dalam ayat ini, Allah SWT menegaskan betapa pentingnya untuk selalu mengingat Allah SWT dalam kehidupan kita. Dengan membaca Al-Quran di bulan Ramadhan, kita bisa mengingat Allah SWT lebih banyak dan merasakan kedamaian jiwa yang bisa membantu kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan bulan Ramadhan ini untuk memperbanyak membaca Al-Quran. Dengan membaca Al-Quran di bulan Ramadhan, kita bisa mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT, merasakan keberkahan dan kedamaian jiwa, serta menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk hidup kita. Semoga kita bisa memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadhan ini dan mendapatkan pahala serta keberkahan dari Allah SWT.

Wallahu A'alam Bishowab.

Sumber: Oase Ramadhan oleh Prof Dr. H.A. Rusdiana, MM.

5. Ramadhan Bulan Kemenangan

Banyak orang menilai bahwa ibadah puasa identik dengan kemalasan dan tidak produktif. Hal ini bisa jadi benar, ketika melihat realitas umat yang sedang 'sakit' seperti saat ini. Kebanyakan umat Islam ketika menjalankan ajaran Islam hanya sebatas ibadah ritual dan tidak memperhatikan esensi atau makna yang terkandung di dalamnya.

Akibatnya, ketika mereka menjalankan ibadah puasa hanya sekadar menahan lapar dan dahaga. Mereka belum mampu menjadikan puasa sebagai sumber kekuatan dan inspirasi untuk mencapai kemenangan umat. Sebagaimana sejarah Islam telah membuktikan hal tersebut, lewat para pejuang dan peletak peradaban Islam.

Sekadar untuk mengingatkan kita, berikut ini catatan sejarah panjang umat Islam, yang telah mampu membuktikan bahwa Ramadhan adalah bulan kemenangan, bukan bulan untuk bermalas-malasan. Di antaranya adalah:

Pertama, peristiwa Perang Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Perang Badar ini disebut sebagai "Yaumul Furqân" (hari pemisah antara yang hak dan batil).

Kedua, peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan kota Makkah. Kejadian ini berlangsung persis di bulan Ramadhan tanggal 10 tahun 8 Hijriah. Sejarah pembebasan kota Makkah menjadi tonggak kemenangan gemilang umat Islam, khususnya bagi kaum Muhajirin yang terusir oleh kaum kafir Quraisy dari tanah air mereka sendiri. Di bulan yang sama pula, Khalid bin Walid menghancurkan patung al-'Uzza.

Ketiga, kaum Tsaqîf menyatakan keislamannya dihadapan Rasulullah. Setelah mengumumkan keislamannya, mereka menghancurkan patung yang dulu mereka sembah yang bernama al-Lâta. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 Hijriah.

Keempat, kemenangan umat Islam dalam Perang Tabuk. Perang ini menjadi perang terakhir yang diikuti langsung oleh Nabi Muhammad Perang ini berkecamuk dan berakhir dengan kemenangan umat Islam pada tanggal 8 Ramadhan tahun 9 Hijriah.

Kelima, tentara Islam di bawah pimpinan Thâriq bin Ziyâd berhasil menyeberangi selat Gibraltar atau Jabal Thariq untuk masuk ke Andalusia (Spanyol) kemudian berhasil menguasainya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijriah.

Keenam, pada tanggal 15 Ramadhan tahun 658 Hijriah, umat Islam berhasil mengalahkan tentara Mongol di bawah Ain Jalut, Palestina Utara.

Ketujuh, kemenangan umat Islam di Mesir melawan tentara Israel. Saat itu, tentara Mesir berhasil merebut benteng Israel, Barlev, yang diklaim tidak akan mungkin terbobol selamanya. Namun tepat pada tanggal 10 Ramadhan 1393 Hijriah atau 6 Oktober 1973 Masehi, benteng Barlev dapat dihancurkan.

Jamaah yang berbahagia...

Dengan demikian, bulan Ramadhan bukanlah sekadar bulan peningkatan kesalehan spiritual semata. Namun Ramadhan dalam sejarahnya, telah mampu memberikan spirit untuk tegaknya peradaban Islam di muka bumi ini. Oleh karena itu, sebagai seorang mukmin sejati harus mampu memaksimalkan waktunya untuk melakukan berbagai kebaikan.

Apalagi keberkahan bulan Ramadhan terbatas hanya satu bulan. Jangan sampai bulan yang penuh berkah ini terlewat, tanpa ada goresan kemenangan sedikitpun bagi kita.

Pesan Umar dalam hal ini sangat tepat, ketika beliau memerintahkan kepada pengawainya dan mengatakan dalam sebuah surat, "Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Oleh karena itu, janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok, karena pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai."

Sumber: Buku Kumpulan Kultum Terlengkap Sepanjang Tahun Jilid 2 oleh Hasan El-Qudsy (2012)

Di tengah arus informasi yang semakin cepat dan dinamika kehidupan yang terus bergerak, Ramadan menjadi momen untuk refleksi diri dan kembali pada nilai empati serta kepedulian. Sepanjang bulan suci ini, kumparan hadir dengan beragam program, liputan langsung, dan informasi relevan seputar Ramadan.

Cek informasi selengkapnya di kum.pr/ramadan2026

(NSF)