Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.2
Konten dari Pengguna
5 Orang yang Tidak Diwajibkan Berpuasa Ramadhan
27 Februari 2025 10:44 WIB
·
waktu baca 6 menitTulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Memasuki bulan Ramadhan, seluruh umat Muslim diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa . Namun tahukah Anda bahwa ada sebagian orang yang tidak diwajibkan berpuasa Ramadhan?
ADVERTISEMENT
Orang yang masuk dalam golongan ini biasanya memiliki kondisi yang tidak memungkinkan untuk berpuasa. Sehingga, mereka wajib menggantinya dengan cara lain yang ditentukan oleh syariat.
Ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki kemudahan dan tidak membebani umat di luar batas kemampuannya. Lantas, siapa saja yang tidak diwajibkan berpuasa Ramadhan? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Orang yang Tidak Diwajibkan Berpuasa Ramadhan
Setiap Muslim perlu memahami bahwa ibadah puasa Ramadhan tidak bertujuan untuk memberatkan umat. Itu mengapa Allah SWT memberikan keringanan (rukshah) bagi mereka yang menghadapi kendala ketika menjalankannya.
Rukhsah ini memungkinkan orang-orang dengan kondisi tertentu tidak berpuasa. Sebagai gantinya, mereka dapat meng-qada (mengganti puasa di hari lain) atau membayar fidyah sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 184:
ADVERTISEMENT
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ١٨٤
Artinya: "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS Al-Baqarah: 184)
Mengutip artikel ilmiah berjudul Golongan yang Mendapatkan Rukhsah dalam Ibadah Puasa dan Konsekuensi Hukumnya oleh Irsyad Rafi (STIBA Makassar), berikut adalah golongan orang yang tidak diwajibkan berpuasa Ramadhan .
ADVERTISEMENT
1. Orang Sakit
Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 184, salah satu golongan yang tidak wajib berpuasa adalah orang sakit. Namun, setelah sembuh, mereka wajib meng-qada puasanya sebanyak hari yang ditinggalkan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٨٥
Artinya: "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur." (QS Al-Baqarah: 185)
ADVERTISEMENT
Dalam Islam, golongan orang sakit terbagi menjadi tiga kondisi. Jadi, tidak semua orang sakit gugur kewajibannya untuk menunaikan puasa Ramadhan . Adapun ketentuannya yakni sebagai berikut:
1. Orang Sakit Ringan
Pertama, orang yang mengalami sakit ringan dan ketika berpuasa tak memberikan dampak serius terhadap kesehatannya, maka tetap diwajibkan berpuasa. Mereka tidak termasuk dalam golongan yang mendapatkan rukhsah. Contohnya adalah pilek, perut keroncongan, atau sakit kepala ringan.
2. Sakit yang Bertambah Parah
Golongan kedua adalah orang yang sakitnya bertambah parah atau proses sembuhnya menjadi lebih lama jika berpuasa. Tetapi, kondisi ini tidak sampai membahayakan kesehatannya. Maka, mereka dianjurkan untuk tidak berpuasa dan makruh jika tetap melaksanakannya.
3. Sakit Parah
Terakhir, orang yang sakit parah, di mana berpuasa justru akan menyulitkan dirinya, bahkan berisiko mengancam nyawa. Dalam kondisi ini, mereka diharamkan untuk berpuasa.
ADVERTISEMENT
Sebab, Allah SWT telah melarang umat-Nya untuk membahayakan diri sendiri, sebagaimana firman-Nya dalam surat An-Nisa ayat 29 berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ٢٩
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS An-Nisa: 29)
2. Musafir
Musafir (orang yang bepergian jauh) diberikan keringanan untuk tidak berpuasa serta boleh meng-qasar (meringkas atau mengurangi jumlah rakaat) salatnya. Namun, ia tetap wajib meng-qada puasa yang ditinggalkan di hari lain.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, para ulama sepakat bahwa musafir terbagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kondisi mereka selama perjalanan berbeda-beda, sebagian musafir masih mampu berpuasa, sementara yang lain tidak. Berikut penjelasannya:
1. Berat untuk Berpuasa
Kondisi pertama adalah ketika seorang musafir merasa berat untuk berpuasa atau kesulitan melakukan aktivitas dengan baik selama perjalanan. Dalam keadaan ini, lebih utama baginya untuk tidak berpuasa. Hal ini dijelaskan dalam hadis Jabir bin Abdillah ra.
"Rasulullah SAW ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu, ada seseorang yang diberi naungan. Lalu, Nabi SAW mengatakan, "Siapa ini?" Orang-orang pun mengatakan, "Ini adalah orang yang sedang berpuasa." Kemudian Nabi SAW bersabda, "Bukanlah suatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar."
ADVERTISEMENT
2. Tidak Berat untuk Berpuasa
Kondisi kedua adalah ketika seorang musafir tidak merasa berat saat berpuasa dan tetap mampu menjalankan aktivitas dengan baik. Dalam keadaan ini, lebih utama baginya untuk berpuasa, sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:
"Kami pernah keluar bersama Nabi SAW di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. Sehingga, ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Di antara kamu tidak ada yang berpuasa. Hanya Nabi SAW saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu."
3. Jika Berpuasa Akan Mendatangkan Kesulitan
Kondisi ketiga adalah ketika berpuasa justru menyulitkan seorang musafir hingga membahayakan dirinya atau berisiko mengancam nyawa. Dalam keadaan ini, ia tidak diwajibkan berpuasa, bahkan diharamkan untuk melakukannya. Hal ini dijelaskan dalam hadis berikut:
ADVERTISEMENT
"Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar apda tahun (Fattu Makkah) menuju Makkah di bulan Ramadhan. Beliau ketika itu berpuasa, hingga ketika di Kura' al-Gamim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah), orang-orang ketika itu masih berpuasa. Kemudian, beliau meminta diambilkan segelas air. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau meminum air tersebut. Setelah beliau melakukannya, ada yang mengatakan: "Sesungguhnya sebagian orang ada yang tetap berpuasa." Rasulullah SAW pun mengatakan, "Mereka itu adalah orang yang durhaka. Mereka itu adalah orang yang durhaka."
3. Wanita Haid dan Nifas
Wanita yang sedang haid atau nifas dilarang berpuasa. Jika haid atau nifas datang di tengah hari saat berpuasa, mereka diperbolehkan berbuka dan wajib meng-qada di hari lain. Namun, jika tetap berpuasa, maka puasanya tidak sah.
ADVERTISEMENT
Hal ini dijelaskan dalam sebuah riwayat dari Aisyah ra berikut: "Kami haid di zaman Rasulullah, maka kami diperintahkan untuk mengganti puasa dan tidak diperintahkan untuk mengganti salat."
4. Orang Tua Renta yang Lemah dan Orang Sakit Tanpa Harapan Sembuh
Golongan selanjutnya adalah orang lanjut usia yang sangat lemah serta orang sakit yang tidak memiliki harapan sembuh. Mereka tidak diwajibkan berpuasa maupun meng-qada, tetapi harus membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Ketentuan ini tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 184.
5. Wanita Hamil dan Menyusui
Sebenarnya, wanita hamil dan menyusui tidak termasuk golongan yang secara otomatis mendapat rukhsah untuk tidak berpuasa. Namun, dalam kondisi tertentu, mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan wajib meng-qada di hari lain.
Keringanan ini diberikan ketika kondisi kesehatannya tidak prima, sehingga jika berpuasa justru dapat membahayakan ibu maupun bayinya.
ADVERTISEMENT
(NSF)