5 Penyebab Mandi Wajib Tidak Sah yang Perlu Diketahui Umat Muslim

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Dalam ajaran Islam, mandi wajib atau mandi junub adalah mandi untuk menghilangkan hadas besar dengan cara membasuh seluruh tubuh. Beberapa hal yang menyebabkan mandi wajib antara lain bersetubuh, keluarnya air mani karena bermimpi atau lainnya, selesainya menstruasi, setelah melahirkan, dan setelah berhenti nifas.
Mandi wajib tidak boleh dilakukan hingga melewati waktu salat fardu berikutnya. Jika waktu salat fardu berlalu dan masih dalam keadaan hadas, maka ia dianggap meninggalkan salat.
Mandi wajib memiliki syarat-syarat sah dan hal-hal yang wajib dilakukan. Syarat ini perlu dipenuhi umat Muslim agar mandi wajib yang dilakukan dianggap sah dan dapat menunaikan ibadah-ibadah.
Penyebab Mandi Wajib Tidak Sah
Mandi wajib memiliki beberapa syarat sah dan kewajiban yang perlu dilakukan. Apabila syarat sah dan kewajiban ini tidak dipenuhi, maka mandi wajibnya tidak sah. Beberapa hal penyebab mandi wajib tidak sah adalah:
1. Tidak Menggunakan Air yang Suci dan Bersih
Menggunakan air yang suci dan bersih merupakan syarat sah mandi wajib. Menurut Syaikh Abdul Qadir Ar-Rahbawi dalam Panduan Lengkap Shalat Menurut Empat Imam Madzhab (2007: 112), air yang suci dan bersih ini sifatnya mutlak, tidak bisa digantikan dengan jenis air apa pun.
Mandi wajib juga tidak bisa digantikan dengan tayamum. Apabila tidak memenuhi syarat ini, maka mandi wajibnya dianggap tidak sah.
Baca juga: Bacaan Doa Mandi Besar atau Adus sesuai Ajaran Islam
2. Tidak Melakukan Tata Cara Mandi Wajib dengan Benar
Melakukan mandi wajib berbeda dengan melakukan mandi biasa. Mandi wajib memiliki tata cara tertentu yang harus dipenuhi. Apabila tidak melakukan tata cara mandi wajib dengan benar dan tidak sesuai urutan, maka mandinya dianggap tidak sah.
Adapun tata cara pelaksanaan mandi wajib adalah sebagai berikut.
Berniat
Membasuh kedua tangan hingga pergelangan tangan
Membasuh kemaluan dengan tangan kiri
Berwudu sebagaimana hendak salat
Memasukkan jari-jari dengan dibasahi air ke pangkal rambut
Menyiram kepala sebanyak tiga kali diteruskan mandi seperti biasa
Tata cara tersebut didasarkan pada hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim. Aisyah RA berkata:
"Sesungguhnya Rasulullah SAW apabila mandi junub, maka beliau memulai dengan mencuci kedua tangan, lalu menuangkan air dengan tangan kanan hingga ke tangan kirinya dan mencuci kemaluannya. Kemudian beliau berwudu seperti halnya ketika hendak salat.
Lalu beliau mengambil air dan menyiramkannya kepada jari-jemarinya ke dalam urat rambut hingga bila air terasa membasahi kulit, maka beliau meraupkan kedua telapak tangan lagi, lalu disiramkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali. Setelah itu, beliau menuangkan atau menyiramkan air ke seluruh tubuhnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Tidak Melafalkan Niat
Seperti yang sudah disebutkan, berniat merupakan salah satu tata cara mandi junub. Niat ini dilafalkan bersamaan dengan basuhan air pertama ke tubuh.
Apabila seseorang tidak melafalkan niat mandi wajib, maka mandinya menjadi tidak sah. Mengutip Fikih Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV oleh Yusak Burhanudin (2021: 29), berniat merupakan salah satu rukun mandi wajib, yaitu hal-hal yang harus dilakukan ketika mandi wajib.
Bacaan niat mandi wajib yang benar adalah sebagai berikut:
نويت العمل لرفع الحدث الآ كبر فرضا الله تعالى
Nawaitul ghusla liraf'il hadasil akbari fardlal lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku niat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar, fardu karena Allah Ta'ala."
Cara melakukan mandi wajib untuk perempuan dan laki-laki tidak berbeda. Namun, Ad-Daruquthni dalam kitab Al-Ifrad menyebutkan, perempuan tidak perlu mengurai atau melepaskan ikatan rambutnya saat mandi wajib apabila penyebabnya adalah bersetubuh atau keluarnya mani.
Meski begitu, apabila penyebab mandi wajib adalah selesai haid dan nifas, maka wajib baginya untuk mengurai rambutnya. Hal ini didasarkan pada hadits berikut:
"Apabila seorang perempuan mandi setelah selesai haid, uraikanlah rambutnya dan cucilah dengan hollyhock dan isynan (nama tumbuh-tumbuhan), dan jika ingin mandi janabat, tuangkanlah air ke atas kepalanya dengan satu kali siraman dan remas-remaslah rambutnya." (HR. Ath-Thabrani)
4. Tidak Membasuh Seluruh Tubuh
Membasuh seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki merupakan syarat sah wajib dari mandi junub. Apabila tidak menyiram air ke seluruh tubuh sampai merata dan masih menyisakan bagian tubuh yang kering, maka mandi wajib menjadi tidak sah.
5. Tidak Menggosok Bagian-Bagian Tubuh
Seseorang yang melakukan mandi wajib diharuskan untuk menggosok atau menggerak-gerakkan tangan di seluruh tubuh yang bisa dijangkau. Dengan gosokan tersebut, air bisa mengenai seluruh bagian tubuh.
Apabila tidak menggosoknya, dikhawatirkan ada bagian tubuh yang tidak terkena air sehingga mandi wajibnya menjadi tidak sah.
Frequently Asked Question Section
Apa itu mandi wajib?

Apa itu mandi wajib?
Mandi wajib atau mandi junub adalah mandi untuk menghilangkan hadas besar dengan cara membasuh seluruh tubuh.
Apa boleh mandi wajib dilakukan hingga melewati waktu salat?

Apa boleh mandi wajib dilakukan hingga melewati waktu salat?
Mandi wajib tidak boleh dilakukan hingga melewati waktu salat fardu berikutnya. Jika waktu salat fardu berlalu dan masih dalam keadaan hadas, dianggap meninggalkan salat.
Bagaimana bacaan niat mandi wajib?

Bagaimana bacaan niat mandi wajib?
Berikut bacaan niat mandi wajib: Nawaitul ghusla liraf'il hadasil akbari fardlal lillaahi ta'aalaa.
(SFR)
