5 Suku di Pulau Jawa dengan Karakteristik dan Budaya yang Khas

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai salah satu pulau terbesar di Indonesia, Pulau Jawa terkenal akan keragaman budaya dan tradisinya. Kekayaan ini dipengaruhi oleh faktor banyaknya suku yang mendiami pulau tersebut.
Setiap suku di Pulau Jawa memiliki karakteristik dan budaya masing-masing. Contohnya, suku Jawa dikenal dengan pertunjukan wayangnya, suku Sunda dengan tari Jaipong yang memukau, hingga suku Baduy yang menjaga kepercayaan dan tradisi sejak dulu.
Agar dapat memahami karakteristik dan keberagaman budayanya, simak penjelasan mengenai 5 suku di Pulau Jawa berikut ini.
Suku di Pulau Jawa
Merangkum buku Cara Sukses Menempuh Ulangan Bersama Arif terbitan Grasindo Indonesia, berikut macam-macam suku yang menempati Pulau Jawa.
1. Suku Jawa
Suku Jawa merupakan suku mayoritas di Pulau Jawa dengan populasi sekitar 40% dari total penduduk Indonesia Mereka menganut budaya kejawen dan berbicara dalam bahasa Jawa.
Seni di kalangan suku Jawa dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Budha. Sebagai contoh, kesenian Wayang bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabrata yang berasal dari ajaran Hindu.
Dalam buku Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita oleh Sahabat Khatulistiwa, suku Jawa sendiri sangat beragam, mulai dari batik, keris, hingga musik gamelan. Budaya Jawa sangat menekankan pada kesopanan dan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Suku Sunda
Suku Sunda adalah salah satu suku di Pulau Jawa yang berasal dari bagian barat. Persebaran wilayahnya mencapai Banten hingga sekitar Jawa Tengah.
Suku Sunda terkenal akan sifatnya yang sopan, riang, ramah, dan bersahaja. Hal ini juga terlihat dari tutur bahasa Sunda yang lemah lembut dan halus saat berkomunikasi dengan orang lain.
Usia kebudayaan Sunda cukup tua. Periode kejayaannya terjadi pada saat kekuasaan Kerajaan Tarumanegara dan Sunda. Kebudayaan Sunda juga sangat beragam, mulai dari tari jaipongan, tari merak, dan tari topeng, wayang golek, angklung, dan lain-lain.
Baca Juga: 4 Suku dan Masyarakat Adat Kalimantan Tengah di Indonesia
3. Suku Betawi
Suku Betawi adalah salah satu suku di Pulau Jawa yang memiliki karakteristik dan kebudayaan khas. Menurut Lilly T. Erwin dalam Peta 100 Tempat Makan Makanan khas Betawi, Betawi merupakan suku asli Jakarta yang terbentuk dari perpaduan budaya Tionghoa, Melayu, Arab, dan Belanda.
Karakteristik suku Betawi terlihat dari bahasa Betawi yang merupakan campuran berbagai bahasa. Kulinernya juga begitu khas, seperti kerak telor, soto Betawi, dan dodol Betawi.
Selain itu, suku Betawi juga memiliki tradisi dan kesenian khas seperti lenong, ondel-ondel, dan marawis.
4. Suku Baduy
Suku Baduy adalah salah satu suku di Pulau Jawa yang dikenal karena mempertahankan gaya hidup tradisional dan melestarikan adat istiadat mereka. Mereka mengisolasi diri dari dunia luar dan mempertahankan gaya hidup sederhana.
Suku Baduy terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy mempraktikkan pertanian tradisional dan kerajinan tangan, serta mengenakan pakaian adat untuk sehari-hari.
Mereka dikenal dengan larangan-larangan tertentu. Misalnya, larangan memotong pohon dan membawa masuk barang-barang dari luar ke wilayah mereka.
Suku Baduy juga dikenal dengan kepercayaan dan upacara adat yang khas, seperti upacara Seren Taun yang merupakan perayaan panen tahunan.
5. Suku Tengger
Disadur dari buku Bali Bukan India karya Santo Saba Piliang, suku Tengger adalah salah satu suku yang mendiami dataran tinggi di sekitar Pegunungan Tengger, Bromo, dan Semeru di Jawa Timur. Mereka memiliki karakteristik dan kebudayaan yang unik.
Bagi suku Tengger, Gunung Bromo atau Gunung Brahma dipercaya sebagai gunung suci. Mereka mengadakan berbagai upacara keagamaan, seperti upacara Yadnya Kasada sebagai bentuk penghormatan kepada gunung suci dan Sang Hyang Widi.
Suku Tengger juga memiliki beragam tradisi dan upacara adat yang masih dilestarikan hingga saat ini. Contohnya adalah upacara Kasada, Mecaru, dan tradisi-tradisi lain yang mengandung makna sakral.
(SAI)
