6 Dongeng Pendek untuk Anak SD yang Menghibur dan Penuh Pesan Moral

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 12 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dongeng adalah jenis karya sastra yang memuat tentang cerita anak. Kemunculannya berawal dari tradisi lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi sejak awal peradaban manusia.
Mengutip buku Kreatif Mendongeng untuk Kecerdasan Jamak Anak oleh Heru Kurniawan (2016), cerita yang dimuat dalam dongeng merupakan rekayasa dan imajinasi belaka. Tema yang diambil sangat beragam, bisa membahas tentang dunia hewan, peri, dan lain-lain.
Ada banyak dongeng Nusantara yang populer di kalangan anak-anak, mulai dari Malin Kundang, Si Kancil, Bawang Merah Bawang putih, hingga Sangkuriang. Semuanya memiliki amanat dan pesan moral yang bisa dipetik pelajarannya.
Dongeng dapat menjadi metode yang bagus untuk memberikan pengajaran yang menyenangkan bagi anak-anak. Lantas, apa saja contoh dongeng pendek untuk anak SD yang bisa dijadikan referensi? Simak selengkapnya di bawah ini.
Baca Juga: Contoh Cerita Dongeng Bahasa Inggris untuk Anak-Anak
Ciri-Ciri Dongeng
Sebelum membahas contoh dongeng pendek, penting untuk mengetahui karakteristik atau ciri-ciri yang membedakan dongeng dari cerita lain. Dikutip dari Arif Cerdas untuk Sekolah Dasar Kelas 3 oleh Christiana Umi (2020: 55), adapun ciri-ciri dongeng, yaitu:
Memakai alur cerita yang sederhana.
Alur ceritanya singkat dan bergerak cepat.
Karakter tokoh yang ada dalam cerita tidak diceritakan secara detail.
Peristiwa yang ada dalam cerita kebanyakan fiktif atau khayalan.
Lebih menekankan pada bagian isi atau peristiwa.
Pendahuluan cerita biasanya sangat singkat.
Ceritanya disampaikan dari mulut ke mulut atau secara lisan.
Pesan atau tema terkadang dituliskan dalam cerita.
Cerita digunakan untuk menghibur dan menyampaikan pesan moral.
Tidak diketahui pasti pengarangnya.
Baca Juga: Contoh Dongeng Sunda Pendek beserta Terjemahan dan Pesan Moralnya
Kumpulan Dongeng Pendek untuk Anak SD
Dirangkum dari buku Kumpulan Dongeng Hewan Favorit Anak karya Yunita R. Saragi (2017), berikut ini kumpulan dongeng pendek untuk anak SD selengkapnya yang bisa dibacakan:
1. Aji Saka
Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.
Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun.
Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.
Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.
Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.
Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.
Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya.
Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.
Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.
Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.
2. Asal Mula Guntur
Dahulu kala peri dan manusia hidup berdampingan dengan rukun. Mekhala, si peri cantik dan pandai, berguru pada Shie, seorang pertapa sakti.
Selain Mekhala, Guru Shie juga mempunyai murid laki-laki bernama Ramasaur. Murid laki-laki ini selalu iri pada Mekhala karena kalah pandai. Namun Guru Shie tetap menyayangi kedua muridnya. Dan tidak pernah membedakan mereka.
Suatu hari Guru Shie memanggil mereka dan berkata, “Besok, berikan padaku secawan penuh air embun. Siapa yang lebih cepat mendapatkannya, beruntunglah dia. Embun itu akan kuubah menjadi permata, yang bisa mengabulkan permintaan apapun.”
Mekhala dan Ramasaur tertegun. Terbayang oleh Ramasaur ia akan meminta harta dan kemewahan. Sehingga ia bisa menjadi orang terkaya di negerinya. Namun Mekhala malah berpikir keras. Mendapatkan secawan air embun tentu tidak mudah, gumam Mekhala di dalam hati.
Esoknya pagi-pagi sekali kedua murid itu telah berada di hutan. Ramasaur dengan ceroboh mencabuti rumput dan tanaman kecil lainnya. Tetapi hasilnya sangat mengecewakan. Air embun selalu tumpah sebelum dituang ke cawan.
Sebaliknya, Mekhala dengan hati-hati menyerap embun dengan sehelai kain lunak. Perlahan diperasnya lalu dimasukan ke cawan. Hasilnya sangat menggembirakan. Tak lama kemudian cawannya telah penuh. Mekhala segera menemui Guru Shie dan memberikan hasil pekerjaannya.
Guru Shie menerimanya dengan gembira. Mekhala memang murid yang cerdik. Seperti janjinya, Guru Shie mengubah embun itu menjadi sebuah permata sebesar ibu jari. “
Jika kau menginginkan sesuatu, angkatlah permata ini sejajar dengan keningmu. Lalu ucapkan keinginanmu,” ujar Guru Shie. Mekhala mengerjakan apa yang diajarkan gurunya, lalu menyebut keinginannya. Dalam sekejap Mekhala telah berada di langit biru. Melayang-layang seperti Rajawali. Indah sekali.
Sementara itu, baru pada senja hari Ramasaur berhasil mendapat secawan embun. Hasilnya pun tidak sejernih yang didapat Mekhala. Tergopoh-gopoh Ramasaur menyerahkannya pada Guru Shie.
“Meskipun kalah cepat dari Mekhala, kau akan tetap mendapat hadiah atas jerih payahmu,” kata Guru Shie sambil menyerahkan sebuah kapak sakti.
Kapak itu terbuat dari perak. Digunakan untuk membela diri bila dalam bahaya. Bila kapak itu dilemparkan ke sasaran, gunung pun bisa hancur. Ternyata Ramasaur menyalahgunakan hadiah itu. Ia iri melihat Mekhala yang bisa melayang-layang di angkasa.
Ramasaur segera melemparkan kapak itu ke arah Mekhala. Tahu ada bahaya mengancam, Mekhala menangkis kapak itu dengan permatanya. Akibatnya terjadilah benturan dahsyat dan cahaya yang sangat menyilaukan. Benturan itu terus terjadi hingga saat ini, berupa gelegar yang memekakkan telinga. Orang-orang menyebutnya“ guntur”
3. Turti, Kura-Kura Pemalu
Turti adalah kura-kura pemalu. Dia akan menyembunyikan kepalanya ke dalam cangkang jika bertemu dengan siapa pun. Dia suka berenang di danau Hutan Pine jika danau sedang sunyi.
Pagi itu, Turti melangkah perlahan ke luar rumah setelah berpamitan kepada ibunya. Saat hampir sampai di danau, dia mendengar nyanyian seekor binatang dengan diringi petikan gitar yang merdu.
Turti penasaran. Dari balik semak, dia mengintip. Ternyata itu Kuki, si kucing penyanyi yang sudah terkenal di seantero Hutan Pine. Dia sering mengadakan pertunjukan di depan Raja Leon.
Turti adalah salah satu penggemarnya. Dia sering bersembunyi di balik batu, jauh dari keramaian untuk mendengarkan Kuki bernyanyi dan memainkan gitar
Tanpa sadar, Turti mengikuti nyanyian Kuki. Tapi, tiba-tiba itu membuat Kuki menghentikan nyanyiannya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Siapa di sana?" tanya Kuki agak sedikit takut. Turti terkejut saat mengetahui Kuki mendengar suara nyanyiannya. Tak lama, Kuki tersenyum geli saat matanya melihat cangkang Turti yang menyembul di sela dedaunan.
Dia berjalan perlahan ke arah Turti bersembunyi. Turti ingin berlari. Tapi dia tahu itu percuma. Sebab dia pelari yang lamban Maka dia cepat-cepat menyembunyikan kepalanya ke dalam cangkang.
"Keluarlah dari sana. Aku tahu kau di situ," kata Kuki. di dalam gemetaran Turti cangkangnya. "Siapa nama kamu? Suaramu sangat bagus. Kau tahu?" Turti mendengar pujian itu. "Terima kasih," jawab turti pelan. 'Keluarlah dari cangkangmu. Aku tidak akan menggigitmu. Malah, aku ingin kita bernyanyi berdua."
"Benarkah?" tanya Turti masih dari Halam cangkangnya. "Iya. Kau sangat berbakat. Kebetulan, Raja Leon memintaku mencari teman untuk bernyanyi Dersama. Katanya dia sudah agak Dosan melihatku bernyanyi sendiran Kamu mau... eh, siapa namamu?"
"Turti... aku Turti!" pekik Turti masih malu-malu. "Iyaaa. Tapi kamu harus mengeluarkan kepala dari cangkang dulu supaya bisa bernyanyi Turti mengeluarkan kepalanya perlahan dan berkata, Tapi aku malu Aku tidak mungkin bisa bernyanyi di depan banyak orang Apalagi di depan raja.
"Rasa malu tidak akan membuatmu keren. Kau harus berani. Aku akan menemanimu bernyanyi," kata Kuki. "Benarkah?" "Ya, ayo kita latihan!" Pagi itu, hari pertama Turti mengalahkan rasa malunya. Dia dan Kuki menjadi dua penyanyi terkenal di Hutan Pine. Seandainya Turti terus malu, dia tidak akan pernah bisa, menemukan bakatnya.
4. Bola Warna-Warni dan Teman Baru
Komo kesepian. Dia tinggal sendirian. Ayah ibunya sudah tiada. Dia hidup sebatang kara. Setiap hari, dia hanya termenung di atas batu dan melamun. Selain mencari makan dan minum, dia tidak akan berpindah dari sana.
Suatu hari, Komo menemukan bola warna-warni. Komo sangat senang Dia memain-mainkan bola itu riang gembira. Dilemparnya, ditendangnya, diambil, begitu seterusnya hingga dia lelah dan tertidur. Akhirnya, bola itu menjadi benda kesayangannya. Bahkan jika tidur pun dia akan selalu memeluk bola itu.
Siang itu, sehabis makan. Komo bermain dengan bolanya. Dia begitu gembira, sampai dikejutkan oleh sebuah suara, "Kembalikan bolaku!"
Komo kaget dan langsung menoleh ke sumber suara. Di sana ada komodo lain sedang menatapnya garang. Komo kaget "Kamu siapa?" tanyanya. "Tidak perlu tahu siapa aku. Pokoknya kembalikan bola itu!" balas komodo tadi tak ramah.
Komo langsung memeluk bola itu k erat. Tidak bisa!" katanya. "Ini bolaku. Aku menemukannya beberapa hari yang lalu. "Iya... Itu punyaku. Aku kehilangan bola itu beberapa hari yang lalu!"
"Apa buktinya ini bola kamu?" Tantang Komo dengan berani.
"Ada tanda hitam di salah satu sisinya!" jawabnya yakin.
Komo pun cepat memeriksa bola itu. Benar. Di antara warna-warninya yang cerah ada setitik warna hitam pekat. Akhirnya, Komo pun mengalah. Dia menyerahkan bola itu dengan berat hati. Komo merasa sangat sedih. Bola itu selama ini sudah menjadi teman baiknya.
Tampaknya komodo asing itu tidak tega melihat Komo bersedih. "Baiklah! Mulai sekarang, bola ini milik kita bersama. Tiap hari, aku akan datang ke sini. Kita main bersama."
"Serius?" tanya Komo tak percaya. "Iya, serius! Tunggu aku di sini besok, ya," jawabnya. Lalu dia pun pergi
"Hei!” panggil Komo. "Siapa nama kamu?
"Panggil aku Momo!" jawabnya.
Keesokan harinya, Momo datang Komo dan Momo bermain bola bersama Alangkah bahagianya Komo Dapat bola dan juga seorang teman yang baru.
5. Mulut Siapa Paling Lebar?
Aku paling lebar!" teriak Ipo. "Aku paling lebar!" balas Popi. "Aku! Aku!" Ipo dan Popi terus menerus bertengkar. Hipi yang baru tiba merasa heran dan bertanya, "Kalian bertengkar tentang apa, sih?" "Hipi! Coba kamu lihat, pasti mulutku yang lebih besar," kata ipo.
“Tidak! Lihat, Hipi. Pasti mulutku lebih besar," kata Popi tak mau kalah. "Kalian ini. Gara-gara masalah itu, kok bisa ribut, sih?"
”Ih, kamu bagaimana, sih, Hipi? Bagi kita para kudanil, mulut yang lebar itu penting, bantah Ipo.
"Iya, tapi tak perlu bertengkar juga kali.” kata Hipi santai sambil merendam separuh badannya di dalam sungai.
“Sudahlah! Pasti mulutku yang lebih besar. Teriima sajalah kenyataan itu, Ipo.” kata Popi lagi.
"Oh, tidak bisa! Aku lebih besar. Kau lihat ini! Pak Harimau pun bisa masuk ke sini." balas Ipo.
“Di mulutku, Bu Gajah bisa masuk!” kilah Popi lagi.
Mendengar itu, Hipi jadi punya ide untuk menghentikan pertengkaran kedua temannya itu. Keesokan harinya, ia mendatangi Pak Harimau dan Bu Gajah. Dia minta bantuan pada mereka.
Saat Ipo, Popi dan Hipi bersantai di sungai, Pak Harimau dan Bu Gajah tiba. "Siapa kemarin yang katanya mau makan aku? Biar aku terkam duluan!" seru Pak Harimau dengan wajah seram. "Aku juga mendengar katanya ada yang ingin makan aku. Sini biar aku kasih pelajaran," tambah Bu Gajah galak.
Ipo dan Popi terdiam. Mereka takut pada Pak Harimau dan Bu Gajah.
"Ipo dan Popi, Pak Harimau dan Bu Gajah!" sahut Hipi sambil ang menahan tawa
Ipo dan Popi semakin takut. Mereka membenamkan dirinya ke dalam sungai hingga tak terlihat. "Kenapa? Takut, ya?" kata Pak Harimau. "Makanya, jangan sembarangan bicara, ya!" kata Bu Gajah.
Akhirnya Pak Harimau dan Bu Gajah berlalu. Hipi mengangkat tangannya sebagai tanda terima kasih. Ipo dan Popi muncul perlahan-lahan. "Sudah pergi?" tanya Ipo takut- takut.
"Sudah, jawab Hipi geli.
"Masih mau bertengkar lagi? Biar aku panggilkan Pak Harimau dan Bu Gajah lagi, nih!"
“Tidak...tidak! Kami sudah baikan, kok.?" kata Ipo.
"Mulut kita sama-sama lebar, kan? Tuh!" kata Popi menyetujui.
Ipo dan Popi membuka mulutnya lebar-lebar. Hipi juga ikut. Setelah itu mereka tertawa-tawa gembira.
6. Keledai Pembawa Garam
Pada suatu hari di musim panas, tampak seekor keledai berjalan di pegunungan. Keledai itu membawa beberapa karung berisi garam di punggungnya. Karung itu sangat berat, sementara matahari bersinar dengan teriknya.
"Aduh panas sekali. Sepertinya aku sudah tidak kuat berjalan lagi," kata keledai. Di depan sana, tampak sebuah sungai. "Ah, ada sungai! Lebih baik aku berhenti sebentar," kata keledai dengan gembira.
Tanpa berpikir panjang, ia masuk ke dalam sungai dan byuur! Keledai itu terpeleset dan tercebur. Ia berusaha untuk berdiri kembali, tetapi tidak berhasil. Lama sekali keledai berusaha untuk berdiri.
Anehnya, semakin lama berada di dalam air, ia merasakan beban di punggungnya semakin ringan. Akhirnya keledai itu bisa berdiri lagi. "Ya ampun, garamnya habis!" kata tuannya dengan marah. "Oh, maaf! garamnya larut di dalam air ya?" kata keledai.
Beberapa hari kemudian, keledai mendapat tugas lagi untuk membawa garam. Seperti biasa, ia harus berjalan melewati pegunungan bersama tuannya. "Tak lama lagi akan ada sungai di depan sana," kata keledai dalam hati.
Ketika berjalan menyeberangi sungai, keledai menjatuhkan dirinya dengan sengaja. Byuuur!. Tentu saja garam yang ada di punggungnya menjadi larut di dalam air. Bebannya menjadi ringan.
"Asyik! Jadi ringan!" kata keledai ringan. Namun, mengetahui keledai melakukan hal itu dengan sengaja, tuannya menjadi marah. "Dasar keledai malas!" kata tuannya dengan geram.
Keesokan harinya, keledai mendapat tugas membawa kapas. Sekali lagi, ia berjalan bersama tuannya melewati pegunungan. Ketika sampai di sungai, lagi-lagi keledai menjatuhkan diri dengan sengaja.
Byuuur! Namun apa yang terjadi? Muatannya menjadi berat sekali. Rupanya kapas itu menyerap air dan menjadi seberat batu. Mau tidak mau, keledai harus terus berjalan dengan beban yang ada di punggungnya. Keledai berjalan sempoyongan di bawah terik matahari sambil membawa beban berat di punggungnya.
(MSD & SFR)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan dongeng?

Apa yang dimaksud dengan dongeng?
Dongeng adalah jenis karya sastra yang memuat tentang cerita anak.
Apa saja contoh dongeng Nusantara?

Apa saja contoh dongeng Nusantara?
Malin Kundang, Si Kancil, Bawang Merah Bawang putih, Sangkuriang, dan masih banyak lagi.
Apa ciri-ciri dongeng?

Apa ciri-ciri dongeng?
Memakai alur cerita yang sederhana, alur ceritanya singkat dan bergerak cepat, karakter tokoh yang ada dalam cerita tidak diceritakan secara detail, peristiwa yang ada dalam cerita kebanyakan fiktif atau khayalan, dan lain-lain.
