Konten dari Pengguna

7 Alasan Tidak Masuk Kerja yang Profesional dan Paling Umum

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Cuti. Foto: Shutterstock/Lim Yong Hian
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Cuti. Foto: Shutterstock/Lim Yong Hian

Ada kalanya seorang karyawan tidak bisa bekerja dan masuk kantor seperti biasa. Di momen seperti ini, karyawan harus mengajukan cuti dengan menyertakan alasan tidak masuk kerja yang profesional.

Umumnya, hak cuti digunakan untuk kondisi tertentu seperti pernikahan, kelahiran anak, kematian anggota keluarga, dan lain-lain. Sementara aktivitas remeh seperti istirahat di rumah, melakukan traveling, dan me time, jarang dijadikan alasan untuk cuti.

Padahal, cuti merupakan hak setiap karyawan yang boleh digunakan kapan saja. Jadi, Anda bebas mengambilnya untuk hal-hal sederhana sekalipun. Namun agar tetap profesional, Anda bisa menyimak ragam alasan tidak masuk kerja yang disajikan lengkap dalam artikel berikut!

Alasan Tidak Masuk Kerja

Ilustrasi kerja. Foto: Mallika Home Studio/Shutterstock

Merangkum laman Timetastic dan Better Up, berikut alasan paling umum seorang karyawan memutuskan tidak masuk kerja atau mengambil cuti:

1. Sakit Ringan

Sakit bisa dijadikan alasan untuk tidak masuk kerja dalam jangka pendek. Meskipun penyakitnya ringan, seperti pilek, flu, atau sakit kepala, Anda bisa tetap mengajukan cuti. Sebab penyakit ringan pun bisa membuyarkan fokus kerja, sehingga disarankan untuk istirahat di rumah.

2. Cedera dan kecelakaan kerja

Cedera dan kecelakaan kerja termasuk alasan profesional untuk mengajukan cuti. Namun, biasanya alasan ini hanya relevan untuk pekerja di sektor manufaktur dan konstruksi.

Pasalnya, profesi mereka memang bersentuhan langsung dengan alat-alat berat atau berbahaya. Alhasil, risiko cedera atau terluka pun jadi lebih tinggi.

3. Masalah keluarga

Masalah keluarga memang terdengar kurang prefosional karena dapat merujuk pada berbagai situasi, tapi karyawan tetap dapat menggunakan alasan ini untuk izin cuti. Masalah keluarga di sini bisa merujuk pada keadaan darurat yang melibatkan orang tua, pasangan, anak, cucu, dan sanak keluarga lainnya

4. Stres

Ilustrasi stres saat bekerja. Foto: David Gyung/Shutterstock

Stres juga bisa jadi alasan seseorang menjauhi pekerjaan untuk sementara waktu. Sama seperti penyakit fisik, penyakit mental dapat memengaruhi tubuh dan membuat seseorang sulit untuk fokus.

Dalam kondisi stres atau cemas, seseorang butuh waktu menyendiri, istirahat, hingga konsultasi dengan ahli. Ini dilakukan guna memulihkan kesehatan mentalnya, sehingga karyawan dibolehkan untuk mengajukan cuti.

5. Kehilangan seseorang yang dicintai

Saat seseorang yang dicintai meninggal dunia, pekerjaan menjadi hal terakhir yang dipikirkan. Meskipun mungkin tidak bisa menghadiri pemakaman secara langsung, tapi tak ada salahnya tetap mengambil cuti untuk memproses kesedihan.

6. Janji temu dengan dokter

Konsultasi atau memeriksakan diri ke dokter biasanya hanya bisa dilakukan pada hari kerja. Itu mengapa periksa kesehatan bisa menjadi alasan profesional untuk cuti. Cuti yang diajukan bisa setengah hari ataupun seharian, tergantung kebijakan kantor masing-masing.

7. Mengasuh anak

Bagi orang tua yang bekerja, tugas mengasuh anak bisa dijadikan alasan untuk cuti. Khususnya di kondisi-kondisi mendesak, seperti saat anak sakit, pengasuhnya (baby sitter) cuti, atau anak memiliki agenda penting di sekolah yang memerlukan kehadiran orang tua.

Baca Juga: Apakah Cuti Melahirkan Tetap Digaji? Ini Aturannya di Indonesia

(DEL)