Konten dari Pengguna

7 Contoh Puisi Ode, Puisi Baru tentang Pujian yang Bisa Jadi Inspirasi

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi puisi ode.  Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi puisi ode. Foto: Pixabay

Puisi ode adalah satu dari tujuh jenis puisi baru yang dikategorikan menurut larik atau isinya. Puisi ode berisi pujian atau sanjungan untuk seseorang, suatu hal, ataupun keadaan.

Mengutip buku Pembelajaran Puisi untuk Mahasiswa oleh Dr. Mohd. Harun, kebanyakan puisi ode berkenaan dengan tokoh-tokoh yang dikagumi, seperti pahlawan, orang tua, atau para nabi dan rasul.

Kata ode diambil dari bahasa Yunani yang berarti nyanyian atau melantunkan. Konon, dahulu puisi ode dibawakan dengan nyanyian dan diikuti tari-tarian bangsawan Yunani.

Puisi ode dapat dikenali dengan pilihan katanya yang halus, sopan, dan terdengar tulus serta tema yang bersifat mulia dan menyanjung. Puisi ini juga dibawakan dengan nada yang anggun dan indah sehingga pendengar bisa menyimaknya dengan khidmat.

Baca juga: Pengertian, Tahap Pembuatan, dan Contoh Puisi Baru

Contoh Puisi Ode

Ilustrasi puisi ode. Foto: Pixabay

Dikutip dari buku Seni Mengenal Puisi tulisan Agnes Pitaloka dan Amelia Sundari beserta sumber lainnya, berikut contoh puisi ode penuh makna yang bisa menjadi inspirasi:

1. Guruku

Guruku

Engkau Pahlawanku

Pahlawan tanpa tanda jasa

Engkau menemaniku

Saatku di sekolah

Saatku belum mengenalmu

Engkau mengajariku

Mulai dari taman kanak-kanak

Hingga ku sampai kuliah

Guruku

Takkan ku lupakan semua jasamu

Yang telah bersusah payah mengajariku

Hingga aku bisa

Terima kasih guruku

2. Tafsir Ayub, Sang Nabi

(Motinggo Busye)

Empat puluh masa

Genap sudah

Sang Nabi teruji

Dalam sakit kulit yang parah

Ayub keluar lewat belukar

Dari hutan sunyi

Dekat air terjun yang bernyanyi

Wahai Nabi-Ku, titah Tuhan

Sungguh tabah kau bertahan

Sekarang ambillah

Seratus ranting kering

Rajamlah tiap ranting

Istrimu seratus kali

Ayub mengikat seratus ranting dalam seikat

Dia rajam sang istri

Satu kali.

3. Untuk Ibu

(Pejalandikakibumi)

Ibu, baginya anak adalah titipan Tuhan

Dibawa ke dunia dengan kebahagiaan

Meski nyawanya harus meregang

Sakit pun dia tahan

Dalam senyumnya ada ketulusan

Dalam tawanya ada kehangatan

Dalam tangisnya ada pengharapan

Bahasa kalbu yang terulang sejak dalam kandungan

Melahirkan adalah keberanian

Membesarkanku kadang jadi ujian

Mencintaimu adalah sebuah kehormatan

Menjadi dirimu adalah kebangaan

Baca juga: 5 Contoh Puisi Modern tentang Cinta

4. Diponegoro

Ilustrasi puisiode. Foto: Pixabay

(Chairil Anwar)

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak genta. Lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berarti

Sudah itu mati

MAJU

Bagimu Negeri

Menyediakan api

Punah di atas menghamba binasa di atas ditindas

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

Maju.

Serbu.

Serang.

Terjang.

Februari 1943

5. Ibu Kartini

(Fatkhan T. Haqque)

Ibu Kartini bunga bangsa

Harum mewangi sepanjang masa

Meski kini engkau tiada

Harum muliamu tetap terbawa

Tetap abadi hingga masa kini

Meski engkau tak hidup kembali

Serasa hati kau masih ada

Masih bicara masih berkata

Jasamu takkan kulupa

6. Puisi untuk Guru

(Muhammad Yanuar)

Engkau bagaikan cahaya

Yang menerangi jiwa

Dari segala gelap dunia

Engkau adalah setetes embun

Yang menyejukkan hati

Hati yang ditikam kebodohan

Sungguh mulia tugasmu guru

Tugas yang sangat besar

Guru engkau adalah pahlawanku

Yang tidak mengharapkan balasan

Segala yang engkau lakukan

Engkau lakukan dengan ikhlas

Guru jasamu takkan kulupa

Guru ingin kuucapkan

Terima kasih atas jasamu

7. Ode Prajurit Tanpa Nama

(Ahmadun Yosi Herfanda)

Bendera-bendera berkibar di udara.

Burung-burung bernyanyi di dahannya.

Dan orang-orang berteriak “telah bebas negeri kita”.

Tapi aku tertatih sendiri.

Di bawah patung kemerdekaan yang letih.

Dan tersuruk di bawah mimpi reformasi.

Kau pasti tak mengenaliku lagi.

Seperti dulu,

Ketika tubuhku terkapar penuh luka.

Di sudut stasiun Jatinegara,

Setelah sebutir peluru menghajarku dalam penyerbuan itu.

Dan negeri yang kacau mengubur riwayatku.

Dalam sejarah berdebu.

Setengah abad lewat kita melangkah.

Di tanah merdeka,

Sejak Soekarno-Hatta mengumumkan kebebasan negeri kita.

Lantas kau dirikan partai-partai.

Juga kursi-kursi di atasnya.

Tapi kau kini menjelma konglomerat berdasi.

Penguasa yang merampas kemerdekaan rakyat sendiri.

Gedung-gedung berjulangan.

Hotel-hotel berbintang, toko-toko swalayan,

Jalan-jalan layang,

Mengembang bersama korupsi, kolusi, monopoli, manipulasi,

Yang membengkakkan perutmu sendiri.

Sedang aku tetap prajurit tanpa nama,

Tanpa tanda jasa, tanpa seragam veteran,

Tanpa kursi jabatan, tanpa gaji bulanan,

Tanpa tanah peternakan, tanpa rekening siluman,

Tanpa istri simpanan.

Bendera-bendera kini berkibaran lagi.

Dan sambil bernyanyi “padamu negeri”.

Kau bagi-bagi uang hasil korupsi.

Sedang aku tertatih sendiri.

Letih dibakar matahari.

(ADS)

Baca juga: 5 Contoh Puisi tentang Nasionalisme

Frequently Asked Question Section

Apa yang dimaksud dengan puisi ode?
chevron-down

Puisi ode berisi pujian atau sanjungan untuk seseorang, suatu hal, ataupun suatu keadaan.

Puisi ode ditujukan untuk siapa?
chevron-down

Kebanyakan puisi ode berkenaan dengan tokoh-tokoh yang dikagumi.

Apa ciri-ciri puisi ode?
chevron-down

Puisi ode dapat dikenali dengan pilihan katanya yang halus, sopan, dan terdengar tulus serta tema yang bersifat mulia dan menyanjung.