Konten dari Pengguna

7 Puisi Terbaik di Indonesia Karya Penyair Legendaris

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi puisi terbaik di Indonesia. Foto: Pixabay/Carola68
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi puisi terbaik di Indonesia. Foto: Pixabay/Carola68

Indonesia memiliki banyak penyair puisi legendaris dengan sederet karya yang luar biasa. Tak hanya memikat lewat diksinya yang indah, puisi-puisi tersebut juga mampu menggugah emosi dan imajinasi para pembaca.

Banyak karya puisi yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini. Itu mengapa, puisi para penyair legendaris terus dinikmati oleh lintas generasi.

Ada banyak puisi terbaik di Indonesia yang dikarang oleh penyair legendaris. Tak hanya disusun dengan kata-kata yang indah, puisi tersebut juga menyimpan pesan mendalam dan penuh makna. Yuk, simak daftarnya di sini!

Deretan Puisi Terbaik di Indonesia

Ilustrasi puisi terbaik di Indonesia. Foto: Unsplash

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Melalui puisi, seseorang dapat mengekspresikan perasaan dan pemikirannya dalam bentuk kata-kata yang indah dan menyentuh.

Dihimpun dari buku Periodisasi Sastra dan Antologi Puisi Indonesia oleh Taufiqur Rahman, M.Pd.I, berikut sederet puisi terbaik di Indonesia karangan penyair legendaris yang bisa dijadikan inspirasi:

1. Aku - Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku

'Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku hidup seribu tahun lagi

2. Krawang-Bekasi - Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi

tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

terbayang kami maju akan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum bisa

memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan

kemenangan dan harapan

atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang

berdetak

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

menjaga Bung Hatta

menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami berbaring antara Krawang-Bekasi

3. Sajak Putih - Chairil Anwar

Bersandar pada tari warna pelangi

Kau depanku bertudung sutra senja

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

Meriak muka air kolam jiwa

Dan dalam dadaku memerdu lagu

Menarik menari seluruh aku

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

Meriak muka air kolam jiwa

Dan dalam dadaku memerdu lagu

Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka

Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau darah mengalir dari luka

Antara kita mati datang tidak membelah

Baca Juga: 5 Puisi Kartini untuk Anak SD yang Menginspirasi

4. Karangan Bunga - Taufik Ismail

Ilustrasi puisi terbaik di Indonesia. Foto: pixabay

Tiga anak kecil

Dalam langkah malu-mau

Datang ke salemba

Sore itu

Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka

Bagi kakak yang ditembak mati

Siang tadi

5. Kembalikan Indonesia - Taufik Ismail

Hari depan Indonesia adalah duaratus juta mulut yang

Menganga

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang

menyala bergantian.

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong

siang malam, dengan bola yang bentuknya seperti telur

angsa

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang

tenggelam karena seratus juta penduduknya.

Kembalikan

Indonesia

padaku.

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main

pingpong siang malam dengan bola telur angsa di bawah

sinar lampu 15 watt.

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan

tenggelam lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang di atasnya.

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang

menganga, dan di dalam mulut itu ada bola-bola

lampu 15 watt, sebagian putih dan sebagian hitam, yang

menyala bergantian

Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang

berenang-renang sambil main pingpong di atas

pulau Jawa yang tenggelam dan membawa seratus juta

bola lampu 15 watt ke dasar lautan.

Kembalikan

Indonesia

Padaku

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong

siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang

tenggelam karena seratus juta penduduknya.

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampi 15 watt,

sebaina berwarna putih dan sebagian hitam, yang

menyala begantian.

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang

menganga.

Kembalikan

Indonesia

padaku

6. Berdiri Aku - Amir Hamzah

Berdiri aku di senja senyap

Camar melayang menepis buih

Melayah bakau mengurai puncak

Berjulang dating ubur terkembang

Angina pulang menyejuk bumi

Menepuk teluk mengempas emas

Lari ke gunung memuncak sunyi

Berayun-ayun di atas alas

Benang raja mencelup ujung

Naik marak mengorak corak

Elang leka sayap tergulung

Dimabuk warna berarak-arak

Dalam rupa maha sempurna

Rindu sendu mengharu kalbu

Ingin dating mersa sentosa

Menyecap hidup bertemu tuju

7. Padamu Jua - Amir Hamzah

Habis kikis

segala cintaku hilang terbang

pulang kembali aku padamu

seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap

pelita jendela di malam gelap

melambai pulang perlahan

sabar, setia selalu.

Satu kekasihku

aku manusia

rindu rasa

rindu rupa.

Di mana engkau

rupa tiada

suara sayup

hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu

engkau ganas

mangsa aku dalam cakarmu

bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar

sayang berulang padamu jua

engkau pelik menarik ingin

serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi

menunggu seorang diri

lalu waktu - bukan giliranku

mati hari - bukan kawanku...

(NSF)