Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.1
Konten dari Pengguna
Adakah Larangan Puasa Setelah Nisfu Syaban? Ini Penjelasannya
18 Februari 2025 12:00 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Umat Muslim dianjurkan memperbanyak ibadah di bulan Syaban. Sebab, bulan ini dikenal sebagai salah satu waktu yang penuh keutamaan sebelum datangnya Ramadan.
ADVERTISEMENT
Banyak yang berusaha menambah amalan dengan berpuasa, terutama setelah tanggal 15 Syaban. Namun, ada beberapa pendapat dalam Islam yang membahas hukum berpuasa setelah Nisfu Syaban hukumnya haram.
Lalu, bagaimana sebenarnya hukum berpuasa setelah Nisfu Syaban? Berikut penjelasannya.
Adakah Larangan Puasa Setelah Nisfu Syaban?
Puasa setelah Nisfu Syaban memiliki aturan khusus yang perlu diperhatikan. Berdasarkan hadis Rasulullah SAW, puasa sunnah setelah tanggal 15 Syaban dilarang kecuali bagi mereka yang sudah memiliki kebiasaan puasa sunnah sebelumnya, seperti puasa Senin-Kamis.
Mengutip buku Keagungan Rajab & Sya'ban yang ditulis oleh Abdul Manan Bin Hj. Muhammad Sobari, Rasulullah SAW pernah bersabda:
ADVERTISEMENT
Selain itu, terdapat larangan untuk berpuasa sehari atau dua hari sebelum memasuki bulan Ramadan, kecuali bagi mereka yang memang rutin berpuasa pada hari tersebut. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
Namun, dalam beberapa kondisi tertentu, puasa setelah Nisfu Syaban tetap diperbolehkan. Ubaidillah Gusman dalam bukunya Tuntunan Puasa Praktis Madzhab Syafi'i & 40 Tanya Jawab Puasa menjelaskan bahwa para ulama menyepakati ada tiga situasi yang membuat seseorang boleh tetap berpuasa di paruh kedua bulan Syaban, di antaranya:
1. Melanjutkan Puasa Sebelumnya
Jika seseorang telah berpuasa sejak sebelum Nisfu Syaban, misalnya mulai dari tanggal 14 atau 15 Syaban, kemudian melanjutkannya hingga tanggal 16, 17, dan seterusnya, maka puasanya tetap diperbolehkan.
ADVERTISEMENT
Namun, ketika memasuki tanggal 29 atau 30 Syaban, yang disebut sebagai hari syak (hari ragu apakah sudah masuk Ramadan atau belum), dianjurkan untuk tidak berpuasa kecuali jika ada alasan tertentu.
2. Puasa Sesuai Kebiasaan
Jika seseorang memang sudah terbiasa menjalankan puasa sunnah tertentu, seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Daud, maka ia tetap diperbolehkan berpuasa meskipun telah memasuki separuh akhir bulan Syaban. Larangan puasa setelah Nisfu Syaban tidak berlaku bagi orang yang sudah rutin menjalankan puasa sunnah.
3. Puasa Nadzar, Qadha, atau Kafarat
Jika puasa yang dilakukan merupakan puasa wajib seperti puasa nadzar, qadha puasa Ramadan yang belum sempat diganti, atau puasa kafarat sebagai bentuk denda atas pelanggaran tertentu, maka tetap diperbolehkan berpuasa meskipun sudah melewati Nisfu Syaban.
Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa larangan puasa setelah Nisfu Syaban berlaku bagi mereka yang tiba-tiba ingin berpuasa sunnah tanpa memiliki kebiasaan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Namun, bagi yang sudah memiliki rutinitas puasa atau memiliki kewajiban untuk mengganti puasa, tetap diperbolehkan berpuasa hingga menjelang Ramadan.
(SAI)