Konten dari Pengguna

Apa Efek Samping Tidak Haid Setelah Melahirkan? Ini Penjelasannya Menurut Ahli

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Periode siklus menstruasi. Foto: WindNight/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Periode siklus menstruasi. Foto: WindNight/shutterstock

Usai menjalani persalinan, wanita akan mendapatkan haid pertamanya di waktu yang berbeda-beda mulai dari 10 minggu hingga 1 tahun setelah melahirkan. Bagaimana efek samping tidak haid setelah melahirkan? Apakah berbahaya?

Para ahli mengatakan bahwa periode menstruasi wanita pasca melahirkan memang cenderung tidak stabil. Dijelaskan dalam laman Parents, hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari perubahan hormon, stres, proses menyusui, dan lain-lain.

Oleh karena itu, para ibu diminta untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya. Namun, apabila masa haid datang dalam waktu yang cukup lama sekitar 1 tahun atau lebih pasca melahirkan, maka ia bisa mengonsultasikannya pada dokter.

Biasanya, wanita yang mengalami masa haid terlampau lama akan mendapatkan gejala-gejala mirip seperti PMS (Pramenstrual Syndrome). Selain itu, ada juga efek samping yang dirasakan karena tidak haid setelah melahirkan. Apa sajakah itu?

Efek Samping Tidak Haid Setelah Melahirkan

Ilustrasi Periode siklus menstruasi. Foto: Helena Nechaeva/Shutterstock

Tak jarang, para ibu khawatir karena tidak kunjung mendapatkan haid pertamanya setelah melahirkan. Beberapa di antaranya takut hamil lagi karena adanya proses pembuahan di periode tersebut.

Beberapa orang juga mengkhawatirkan kondisi kesehatannya, apakah berkaitan dengan penyakit berbahaya atau tidak. Untuk memastikannya, disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter.

Dalam ilmu medis, kondisi tidak haid sama sekali setelah melahirkan disebut sebagai Amenore. Dikutip dari laman Cleveland Clinic, Amenore dibagi menjadi dua jenis, yakni Amenore primer dan sekunder.

Amenore primer biasanya dirasakan oleh remaja usia 15 tahun ke atas yang tidak pernah mendapatkan menstruasi pertamanya. Sedangkan Amenore sekunder dirasakan oleh wanita dewasa yang tidak mendapatkan menstruasi lebih dari waktu seharusnya.

Dalam pembahasan ini, seorang wanita yang tidak mengalami haid setelah melahirkan bisa dikategorikan sebagai penderita Amenore sekunder. Namun, penetapan diagnosisnya tetap harus didasarkan atas keputusan dokter.

Ilustrasi Menstruasi. Foto: Shutterstock

Umumnya, Amenore sekunder dipengaruhi oleh beberapa faktor internal mulai dari stres, masa kehamilan, laktasi, dan mengidap penyakit kronis. Gejala yang bisa dirasakan juga cukup beragam, mulai dari kekeringan vagina, sakit kepala, penurunan fungsi penglihatan, jerawat, dan lain-lain.

Kondisi ini memang tidak mengancam jiwa. Namun, Amenore dapat mendatangkan beberapa efek samping pada kesehatan seorang wanita.

Jika dokter mendiagnosis seorang pasien dengan Amenore, maka pasien tersebut berisiko terkena osteoporosis dan penyakit kardiovaskular. Kondisi ini dapat terjadi akibat pasien kekurangan estrogen dalam tubuh.

Selain itu, ia juga berpotensi mengalami kemandulan atau kesulitan hamil di kemudian hari. Selama periode tersebut pun ia akan sering mengalami nyeri di area panggul dan tulang kemaluan.

Namun, kondisi ini tidak melulu dikaitkan dengan Amenore. Wanita yang tidak mengalami haid setelah melahirkan bisa saja positif hamil. Karena pasca nifas, wanita akan kembali mengalami ovulasi.

Apabila terjadi pembuahan pada masa ovulasi tersebut, maka ia bisa hamil. Untuk memastikan kebenarannya, Anda bisa mengeceknya lewat test pack atau USG.

Baca juga: Kapan Haid Setelah Melahirkan? Ini Prediksi Jadwalnya Menurut Ahli

(MSD)