Apa Itu Bibit Siklon Tropis 91s? Ini Penjelasannya Menurut BMKG

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bibit siklon tropis 91s disebut dalam pernyataan BMKG saat mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem di beberapa daerah di Indonesia. Ini adalah fenomena yang muncul saat memasuki musim pancaroba, yaitu masa peralihan dari hujan ke kemarau.
Adapun kemunculan bibit siklon tersebut biasanya berkaitan dengan peningkatan curah hujan yang tinggi, angin kencang di daerah pesisir, serta gelombang besar di beberapa perairan. Sebenarnya, apa itu bibit siklon 91s?
Apa Itu Bibit Siklon Tropis 91s?
Menurut BMKG, bibit siklon tropis adalah tahap awal terbentuknya siklon tropis yang ditandai dengan munculnya sirkulasi angin berputar serta peningkatan aktivitas konveksi awan. Adapun kode “91S” dipakai sebagai sebutan sementara oleh lembaga meteorologi untuk menandai dan memantau sistem gangguan cuaca tersebut.
Sederhananya, bibit siklon tropis 91S dapat dianggap sebagai calon badai di laut yang berpotensi membawa hujan lebat dan angin kencang di Indonesia. Kecepatan anginnya berkisar 15–34 knot dan bisa meningkat di atas 35 knot jika atmosfer mendukung.
Mengutip pernyataan di akun Instagram @infobmkg, bibit siklon tropis 91s yang terpantau berkembang di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur sejak 16 Januari 2026 kini telah dinyatakan tidak aktif.
Pelemahan sistem tersebut dipicu oleh menurunnya dukungan parameter atmosfer. Dengan demikian, bibit siklon tropis 91S dinyatakan tidak lagi berpotensi untuk berkembang menjadi siklon tropis sejak 22 Januari 2026 pukul 01.00 WIB.
Dampak Bibit Siklon Tropis 91s
Kemunculan bibit siklon tropis 91s bisa menimbulkan beberapa dampak penting, yaitu:
1. Frekuensi Hujan Lebat Meningkat
Kemunculan Bibit Siklon Tropis 91S berpotensi memicu terbentuknya awan-awan besar yang berkembang menjadi awan badai akibat tingginya kelembapan udara. Kondisi atmosfer yang tidak stabil akan membuat pergerakan awan semakin kuat dan tidak terkendali, sehingga saat mencapai wilayah Indonesia akan menimbulkan hujan lebat.
2. Banjir dan Longsor
Hujan lebat yang terjadi dalam durasi panjang berpotensi menimbulkan berbagai kerugian. Dampaknya meliputi gagal panen, bencana banjir dan tanah longsor, serta kerusakan ringan pada infrastruktur di sejumlah wilayah.
3. Munculnya Angin Kencang
Bibit Siklon Tropis 91S berpotensi memicu angin kencang akibat perbedaan tekanan udara, pengaruh rotasi bumi, serta interaksi dengan angin lain di atmosfer. Meski belum berkembang menjadi siklon tropis, sistem ini dapat menyebabkan peningkatan kecepatan angin, terutama di wilayah pesisir dan sekitarnya.
4. Menciptakan Gelombang Tinggi
Bibit Siklon Tropis 91S berpotensi meningkatkan tinggi gelombang akibat pengaruh angin kencang di perairan. Kondisi ini dapat terjadi di Samudra Hindia bagian barat dan selatan Indonesia, dengan ketinggian gelombang diperkirakan mencapai 2,5-4 meter.
Baca juga: Kapan Musim Kemarau 2026? Ini Prediksi BMKG
(RK)
