Konten dari Pengguna

Apa Itu Electoral Vote yang Menjadi Sistem Pemilu Amerika? Ini Penjelasannya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pemilu di Pemilu Amerika Serikat. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pemilu di Pemilu Amerika Serikat. Foto: Shutter Stock

Pemilu Presiden Amerika Serikat telah digelar pada Selasa (2/11). Sistem pemungutan suara di Negeri Paman Sam tersebut berbeda di Indonesia, karena mekanismenya menggunakan electoral vote atau disebut juga electoral college.

Mengutip laman USA Government, electoral vote menjadi salah satu proses resmi pemilu Amerika Serikat (AS) karena telah ditetapkan dalam konstitusi. Mekanisme ini merupakan jalan tengah antara hasil suara yang dikumpulkan dari rakyat dan suara yang ada di Kongres (DPR dan Senat).

Perlu dipahami bahwa mekanisme electoral vote hanya berlaku untuk pemilihan presiden dan wakil presiden. Lantas, sebenarnya apa itu electoral vote?

Mengenal Sistem Electoral Vote dalam Pemilu Amerika

Ilustrasi Peta Amerika Serikat. Foto: Victor Soares/Shutterstock

Merujuk pada laman National Archives, electoral vote merupakan pemungutan suara untuk memilih presiden dan wakilnya yang dilakukan oleh para electoral college atau elektoral. Anggota electoral college terdiri dari petinggi negara, tokoh berpengaruh, atau sosok yang berafiliasi dengan kandidat presiden.

Setiap negara bagian di AS memiliki anggota elektoral yang jumlahnya disesuaikan dengan populasi rakyatnya. Setiap kandidat presiden juga memiliki kelompok elektoral tersendiri, yang dikenal sebagai daftar pemilih.

Daftar pemilih tersebut umumnya dipilih oleh partai politik pengusung kandidat presiden di negara bagian. Sistem pemilihan elektoral ini berbeda-beda di setiap negara bagian. Tanggung jawabnya pun tak sama karena disesuaikan dengan UU negara bagian masing-masing.

Saat ini, total elektoral di AS adalah 538 orang. Agar calon presiden dan wakilnya bisa menang, ia harus mendapatkan minimal 270 suara elektoral.

Baca Juga: Perbedaan Electroral College dan Popular Vote dalam Pilpres Amerika Serikat

Proses Electoral College

Gladiresik Electoral College di gedung pemerintah kota Raleigh, North Carolina, Amerika Serikat. Foto: Jonathan Draken/Reuters

Merangkum laman USA Government, begini alur atau proses pemilihan presiden AS yang menggunakan mekanisme electoral vote:

  1. Pemilihan umum oleh rakyat akan dilakukan secara serentak. Sistem pemilihan ini disebut popular vote.

  2. Setelah rakyat memberikan suara untuk presiden dan wakilnya, masing-masing negara bagian akan melakukan electoral vote.

  3. Kandidat presiden membutuhkan setidaknya 270 suara elektoral untuk memenangkan pemilihan.

  4. Jika tidak ada kandidat yang memperoleh suara mayoritas elektoral, pemungutan suara akan diserahkan kepada DPR. Situasi ini pernah terjadi pada pemilu 1800 dan pemilu 1824.

Sebagai informasi, proses electoral college ini termaktub dalam konstitusi AS. Artinya, prosesnya tidak dapat diubah, kecuali amandemen konstitusional diubah terlebih dahulu.

Pro dan Kontra Sistem Electoral College

Ilustrasi pemilu di Amerika Serikat. Foto: Alexis Aubin/AFP

Setiap kebijakan tentu menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat, tak terkecuali sistem electoral college. Mengutip laman Britannica, ada sebuah survey yang dilakukan Gallup pada September 2020 tentang metode pemilu ini.

Hasilnya, 61% warga Amerika mendukung penghapusan sistem ini. Meski begitu, tetap ada warga yang menganggap electoral college sebagai sistem pemilihan yang efektif.

Berikut poin-poin pro kontra terkait sistem electoral college yang kerap didedungkan masyarakat AS.

Pro

  • Para pendiri negara (founding fathers) menetapkan electoral college dalam konstitusi AS karena menganggap ini adalah metode terbaik untuk memilih presiden.

  • Electoral college memastikan semua negara bagian terlibat dalam pemilihan presiden.

  • Electoral college menjamin kepastian hasil pemilihan presiden.

Cons

  • Alasan para founding fathers menciptakan electoral college dianggap tidak lagi relevan.

  • Electoral college memberikan terlalu banyak kekuasaan kepada "negara bagian yang berpengaruh" dan memungkinkan pemilihan presiden diputuskan oleh segelintir negara bagian saja.

  • Electoral college mengabaikan keinginan rakyat yang telah diekspresikan dalam popular vote.

(DEL)