Konten dari Pengguna

Apa Itu Frontier Market? Ini Pengertian dan Perbedaannya dengan Emerging Market

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi apa itu frontier market. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi apa itu frontier market. Foto: Unsplash.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadapi ancaman serius dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk diturunkan statusnya dari emerging market menjadi frontier market pada Mei 2026. Keputusan ini akan membawa dampak besar terhadap persepsi investor global dan aliran dana asing ke pasar modal Indonesia.

Lantas, apa itu frontier market dan mengapa Indonesia terancam masuk ke kategori tersebut? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

Apa itu Frontier Market?

Ilustrasi apa itu frontier market. Foto: Unsplash.

Istilah frontier market pertama kali digunakan pada 1992 oleh Farida Khambata saat bekerja di International Finance Corporation (IFC) World Bank. Mengutip laman Investopedia, frontier market merujuk pada pasar modal di negara berkembang yang lebih maju dibanding negara paling terbelakang, tetapi belum mencapai tingkat emerging market.

Frontier market memiliki karakteristik kapitalisasi pasar yang kecil, likuiditas rendah, dan tingkat risiko lebih tinggi dibanding emerging market. Negara-negara dalam kategori ini memiliki infrastruktur pasar modal yang belum berkembang penuh, regulasi masih terbatas, dan sistem pelaporan keuangan yang belum memadai.

Mengutip data MSCI, negara-negara yang saat ini masuk kategori frontier market di antaranya Vietnam, Filipina, Bangladesh, Kenya, Maroko, Kazakhstan, Bahrain, Yordania, dan Oman. Sementara itu, saat ini Indonesia masih berada dalam kelompok emerging market bersama Malaysia.

Perbedaan Frontier Market dengan Emerging Market

Ilustrasi apa itu frontier market. Foto: Unsplash.

Klasifikasi pasar global oleh lembaga MSCI, FTSE, dan S&P menggunakan tiga kategori utama, yaitu developed market, emerging market, dan frontier market. Frontier market merupakan subset dari emerging market dengan kapitalisasi pasar kecil, tingkat perdagangan tahunan rendah, atau tidak memenuhi syarat untuk masuk indeks emerging market.

Perbedaan antara keduanya terletak pada ukuran ekonomi dan kematangan pasar keuangan. Emerging market memiliki ekonomi besar, likuiditas tinggi, dan integrasi kuat dengan ekonomi global. Sementara frontier market memiliki ekonomi lebih kecil, kurang likuid, tetapi berpotensi memberikan imbal hasil tinggi dalam jangka panjang.

Selain itu, kapitalisasi pasar menjadi salah satu indikator pembeda. Data dari CFA Institute menunjukkan frontier market rata-rata memiliki kapitalisasi pasar sekitar 36 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan emerging market mencapai 64 persen dari PDB.

Mengapa Indonesia Terancam Masuk Kategori Frontier Market?

Ilustrasi apa itu frontier market. Foto: Unsplash.

Menurut MSCI, informasi kepemilikan saham yang diajukan regulator pasar modal Indonesia masih belum mencapai standar transparansi sesuai metode penilaian mereka.

Permasalahan utama yang disorot MSCI meliputi ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, keraguan terhadap klasifikasi pemegang saham, dan kekhawatiran adanya praktik perdagangan terkoordinasi yang mendistorsi harga sebenarnya di bursa. Apabila transparansi data tidak dapat dipenuhi hingga Mei 2026, Indonesia akan berada pada level yang sama dengan negara-negara frontier market lainnya.

Dampak langsung ancaman ini sudah terasa di pasar domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menurun tajam hingga 8,76 persen dan sempat mengalami trading halt setelah pengumuman MSCI.

Penurunan status ke frontier market juga berpotensi mempercepat arus keluar modal asing dari bursa saham dan pasar surat utang Indonesia. Lembaga investasi global yang memiliki kebijakan khusus berinvestasi di emerging market akan terpaksa menjual aset mereka di Indonesia bila status itu hilang.

BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) saat ini tengah berupaya memenuhi persyaratan transparansi data yang diminta MSCI. Fokus utamanya adalah menyediakan data kepemilikan saham di bawah 5 persen yang bersumber dari KSEI.

(FHK)

Baca juga: Apa Itu Trading Halt? Ini Pengertian dan Penyebabnya