Apa Itu Gas SO2 yang Tersebar Akibat Erupsi? Ini Informasinya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) sejak Jumat (4/9) tidak hanya menghasilkan abu vulkanik dan lontaran batu pijar, tapi juga gas SO2 atau sulfur dioksida. Gas vulkanik tersebut terdeteksi sebagai warna merah pada peta satelit.
Hal ini menjadi sorotan masyarakat, terlebih dengan banyaknya informasi terkait gas SO2 yang tersebar di media sosial. Banyak yang mengkhawatirkan dampak dari gas tersebut.
Lantas, apa itu gas SO2 dan apakah berbahaya bagi kesehatan manusia? Simak informasi lengkapnya melalui artikel berikut ini.
Pengertian Gas SO2
Merangkum informasi dari Instagram resmi @badan.geologi dan buku berjudul Pencemaran Udara dalam Ruangan oleh H.J. Mukono, SO2 atau sulfur dioksida merupakan senyawa kimia berbentuk gas beracun yang tidak berwarna.
Gas tersebut memiliki bau yang sangat menyengat dan dapat berbahaya jika berada di tingkatan ketinggian troposfer tertentu. Gas SO2 bisa berasal dari beberapa sumber, meliputi:
Pembakaran bahan hasil fosil
Pembakaran batu bara
Minyak
Kadar gas SO2 dinyatakan dengan satuan ɥg/m³ atau ppm, di mana 1 ppm sebanding dengan 2660 ɥg/m³ pada suhu 20°. Gas ini juga memiliki sifat yang sangat larut dalam air.
Penyebaran Gas SO2 di Indonesia
Badan Geologi Kementerian ESDM menegaskan bahwa peta berwarna merah yang menunjukkan penyebaran gas SO2 di beberapa wilayah Indonesia tidak berbahaya untuk kesehatan masyarakat. Sebab, bahaya dari gas SO2 ini bergantung pada letaknya di troposfer. Apabila gas berada di ketinggian ribuan meter troposfer dan tidak langsung terhirup oleh masyarakat, maka tidak berbahaya.
Peta satelit menunjukkan bahwa SO2 masih berada pada konsentrasi lebih tinggi dibandingkan udara normal di lapisan atmosfer. Artinya, keberadaannya tidak memengaruhi kualitas udara di permukaan bumi.
Satuan pada peta juga menggunakan mg/m² yang merupakan massa per satuan luas kolom udara. Sedangkan satuan untuk udara yang dihirup adalah ppm.
Konsentrasi SO2 di udara kini berada pada tingkat kurang dari 5 ppm, tergolong masih aman bagi kesehatan. Intinya, apabila gas SO2 tidak tercium baunya, maka Anda tidak perlu cemas.
Dampak Gas SO2 dan Cara Melindungi Diri
Meskipun saat ini Indonesia masih aman dari penyebaran gas SO2, tetapi alangkah baiknya untuk tetap waspada dan mempelajari panduan perlindungan diri dari gas beracun tersebut.
Mengutip buku Pencemaran Udara dalam Ruangan oleh H.J. Mukono, paparan gas SO2 dapat menyebabkan penyakit saluran napas. Kelarutan gas SO2 yang tinggi juga dapat menyebabkan iritasi hebat pada mata dan saluran pernapasan.
Efek kronis lain yang dapat timbul dari gas beracun ini adalah penurunan fungsi paru, hingga perubahan atau kerusakan struktur DNA.
Oleh karena itu, Badan Geologi Kementerian ESDM mengimbau masyarakat untuk melakukan beberapa hal ketika bau gas tercium. Beberapa di antaranya mencakup:
Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Hindari paparan gas dengan tetap berada di dalam rumah.
Jangan minum air hujan, sebab gas sulfur bereaksi dengan uap air, sehingga air hujan berpotensi bersifat asam.
Baca Juga: Arah Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau dan Cara Ceknya Secara Online
(MFT)
