Konten dari Pengguna

Apa itu Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Virus Shamonda. Foto: Hit Stop Media/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Virus Shamonda. Foto: Hit Stop Media/Shutterstock

Virus shamonda (SHAV) yang selama ini hanya menyerang hewan dilaporkan menginfeksi manusia. Otoritas Prancis menemukan kasus pertama virus shamonda pada manusia yang meninggal dunia awal Oktober 2026.

Mengutip laman ECDC, investigasi mengenai apakah virus tersebut berkontribusi langsung pada kematian pasien masih berlangsung hingga kini. Pihak yang berwenang juga masih menyelidiki bagaimana virus tersebut bisa menginfeksi manusia.

Kasus infeksi ini terjadi setelah SHAV dideteksi pada hewan ternak di Eropa saat musim panas 2026. Lantas, sebenarnya apa itu apa itu virus shamonda? SImak penjelasan berikut ini.

Apa itu Virus Shamonda?

Ilustrasi Virus Shamonda. Foto: Shutterstock

Merujuk WHO, shamonda merupakan virus yang menyebar di antara hewan ternak melalui gigitan Culicoides, yakni sejenis lalat kecil penggigit. Berikut ini klasifikasinya:

  • Famili: Bunyaviridae

  • Genus: Orthobunyavirus

  • Spesies: Schmallenberg orthobunyavirus

  • Grup: Simbu

Virus ini pertama kali ditemukan menjangkiti sapi Nigeria pada tahun 1965 dan diidentifikasi di beberapa bagian Afrika serta Asia. Ditularkan oleh lalat penggigit, virus ini tidak hanya menyerang sapi, tapi juga hewan lain seperti domba, kambing, dan kuda.

Gejala yang ditimbulkan virus shamonda pada hewan sangat ringan pada awalnya, seperti demam dan penurunan produksi susu. Namun, jika hewan hamil yang terinfeksi, virus ini bisa menyebabkan cacat bawaan, kelahiran prematur, dan masalah kesuburan.

Apakah Virus Shamonda Dapat Menular ke Manusia?

Ilustrasi Virus Shamonda. Foto: CI Photos/Shutterstock

Kasus kematian pasien yang teridentifikasi terserang virus shamonda memicu kekhawatiran di masyarakat. Peristiwa ini membuktikan bahwa ada kemungkinan virus di kalangan hewan itu menular pada manusia. Namun, apakah penularannya terjadi dengan mudah?

Menurut pernyataan dari kementerian kesehatan dan pertanian Prancis seperti yang dikutip United Nations News, pasien meninggal yang dilaporkan terserang virus shamonda itu pada awalnya sedang menjalani perawatan penyakit serius.

Sistem kekebalan tubuh pasien sangat lemah karena penyakitnya. Kondisi ini membuatnya lebih rentan terhadap infeksi virus daripada masyarakat umum.

Pihak berwenang Prancis menduga infeksi pada pasien itu terjadi melalui gigitan nyamuk di Prancis timur, tempat virus tersebut beredar di antara ternak pada awal tahun ini. Mereka juga mengatakan bahwa komplikasi otak pasien kemungkinan besar terkait dengan shamonda, meskipun investigasi terhadap infeksi dan kematian tersebut masih berlangsung hingga kini.

Karena pasien itu mengalami kondisi yang memang rentan dan tinggal di daerah tempat virus itu beredar, maka risiko terinfeksinya lebih tinggi.

Organisasi Kesehatan Dunia PBB sendiri menyatakan bahwa berdasarkan pengetahuan terkini tentang penularan virus shamonda, kematian pasien di Prancis itu termasuk kasus langka. Kecil kemungkinannya virus itu menyebar lebih luas di kalangan manusia untuk saat ini.

Meski begitu, Direktur Jenderal badan kesehatan PBB, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa WHO sedang bekerja sama dengan pihak berwenang Prancis untuk menetapkan bagaimana pasien tersebut terinfeksi, kemungkinan jalur penularan, dan potensi risiko terhadap kesehatan masyarakat.

Baca Juga: Penjelasan Dinkes Bali tentang Virus Zika yang Dapat Peringatan dari AS

(DEL)