Apa Saja Nilai yang Sering Muncul dalam Cerita Lintas Zaman?

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa kelas 10 mempelajari berbagai jenis teks, termasuk cerita lintas zaman atau hikayat. Hikayat merupakan karya sastra lama berbentuk prosa Melayu yang biasanya berisi kisah rekaan, keagamaan, historis, atau biografis.
Dalam bab ini, siswa diajak untuk lebih memahami dan mendalami analisis sastra melalui berbagai latihan soal. Salah satu pertanyaan yang kerap muncul berkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita lintas zaman.
Pertanyaan tersebut bertujuan untuk melatih siswa agar mampu mengidentifikasi pesan moral, nilai kehidupan, serta makna tersirat di balik alur cerita. Melalui latihan ini, siswa diharapkan semakin kritis dalam membaca dan mampu mengambil pelajaran dari setiap kisah yang dipelajari.
Bagi siswa yang masih kesulitan menjawab pertanyaan tersebut, berikut referensi jawabannya yang dapat disimak!
Nilai yang Sering Muncul dalam Cerita Lintas Zaman
Dikutip dari kanal YouTube Edu Kelas, terdapat beberapa nilai penting yang sering muncul dalam cerita lintas zaman. Berikut di antaranya:
Nilai pendidikan: Nilai yang berkaitan dengan semangat dan kesadaran seseorang untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Nilai religius: Nilai yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta.
Nilai moral: Nilai ini berkaitan dengan ajaran tentang kebaikan, kejujuran, dan kebenaran.
Nilai sosial: Nilai ini berhubungan dengan interaksi antarindividu dalam kehidupan bermasyarakat.
Kaidah Bahasa dalam Hikayat dan Cerpen
Selain mempelajari nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat, siswa kelas 10 juga dikenalkan dengan kaidah bahasa dalam hikayat dan cerpen. Sebagai teks yang menggambarkan alur cerita, keduanya tidak lepas dari penggunaan konjungsi urutan waktu.
Dikutip dari buku Explore Bahasa Indonesia Jilid 1 untuk SMP/MTs Kelas VII karya Erwan Rachmat, konjungsi urutan waktu digunakan untuk menunjukkan rangkaian peristiwa berdasarkan waktu terjadinya, baik sebelum, saat, maupun setelah kejadian. Pada hikayat, konjungsi ini umumnya menggunakan kata-kata arkais atau bahasa lama yang khas.
Selain itu, penggunaan majas atau gaya bahasa juga sangat erat kaitannya dengan cerita fiksi. Majas berfungsi untuk memperindah penyampaian cerita sehingga terasa lebih menarik untuk dibaca.
Mengutip kanal YouTube Edu Kelas, berikut beberapa majas yang sering digunakan dalam hikayat maupun cerpen:
1. Antonomasia adalah majas yang menyebut seseorang berdasarkan ciri atau sifatnya yang menonjol.
Contoh : Tak tahu mengapa, saat itu aku mengucapkan terima kasih kepada perempuan tua itu.
2. Personifikasi adalah majas yang menyatakan benda mati maupun benda hidup yang bukan manusia (hewan/tumbuhan) sebagai sesuatu yang seolah-olah bersifat dan berlaku layaknya manusia.
Contoh : Samar-samar nyanyian jangkrik terdengar di sampingku.
3. Simile adalah majas yang membandingkan suatu hal dengan hal lainnya secara eksplisit menggunakan kata penghubung atau kata pembanding. Kata penghubung atau kata pembanding yang biasa digunakan antara lain: seperti, laksana, bak, dan bagaikan.
Contoh : Mereka selalu bertengkar bak kucing dan anjing
4. Metafora adalah majas yang menggunakan kata atau kelompok kata untuk mewakili hal lain yang bukan sebenarnya, mulai dari bandingan benda fisik, sifat, ide, atau perbuatan lain.
Contoh: Ia adalah tulang punggung keluarga
5. Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan dengan cara melebih-lebihkan sesuatu dari yang sebenarnya.
Contoh: Aku tak dapat berbicara, tanganku dingin bak es yang keluar dari freezer.
Baca Juga: 20 Contoh Soal TKA SMP Bahasa Indonesia 2026 beserta Kunci Jawabannya
(ANB)
