Apa yang Terjadi dengan Rafah? Ini Faktanya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seruan All Eyes on Rafah berkumandang di media sosial. Tujuannya mengajak orang-orang untuk menaruh perhatian lebih terhadap kondisi masyarakat Gaza di Rafah. Pertanyaannya, sebenarnya apa yang terjadi dengan Rafah?
Merujuk pada laman UNRWA, Rafah merupakan wilayah yang terletak di bagian selatan jalur Gaza dan berbatasan dengan Mesir. Sejak tahun 1948, kota kecil itu menjadi kamp pengungsian bagi warga yang kehilangan rumah akibat peristiwa Nakba 1948.
Mengutip laman Al Jazeera, Nakba 1948 adalah istilah untuk menggambarkan pembersihan etnis (ethnic cleansing) oleh pasukan Zionis yang saat itu ingin mendirikan negara Israel di tanah Palestina. Sebanyak lebih dari 750.000 warga Palestina diusir dari rumah mereka, sehingga mereka terpaksa mencari tempat untuk mengungsi, termasuk di Rafah.
Apa yang Terjadi dengan Rafah?
Sebagaimana yang diketahui, sejak Oktober 2023 lalu, pasukan Israel terus membombardir Gaza hingga menewaskan puluhan ribu warga sipil. Menurut keterangan Al Jazeera (28/5), ada lebih dari 36.000 warga Gaza yang meninggal dalam 7 bulan terakhir, 15.000 di antaranya merupakan anak-anak.
Warga yang masih hidup tinggal di kamp pengungsian atau area yang dijamin aman (safe zone) oleh militer Israel. Salah satu kamp terbesar dan termasuk safe zone adalah Rafah. Mengutip UNRWA, sekitar 1,2 juta penduduk Gaza mencari perlindungan di kota kecil tersebut.
Ironisnya, tak ada area di Gaza yang benar-benar aman untuk berlindung. Tercatat, hanya dalam 3 hari, pasukan Israel menyerang Rafah hingga 2 kali.
Serangan pertama pada Minggu (26/5) menyasar kamp pengungsian bagian utara kota Rafah bernama Tal as-Sultan. Kejadiannya berlangsung pada malam hari, ketika sebagian besar warga sipil tertidur.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan militer Israel menjatuhkan rudal dan tujuh bom seberat 900 kg di kamp pengungsian. Mengutip Al Jazeera, sedikitnya 45 orang meninggal dalam serangan tersebut. Sedangkan jumlah yang terluka sulit ditentukan, karena sudah tidak ada rumah sakit yang beroperasi di wilayah tersebut.
Dilaporkan The Guardian, serangan tersebut dilakukan untuk membunuh anggota Hamas yang menurut militer Israel sedang berada di kamp pengungsian Tal as-Sultan. Faktanya, justru warga sipil yang paling terdampak dari ledakan itu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun mengakui dalam pidatonya pada Senin (27/5) di parlemen Israel bahwa serangan yang mereka lakukan termasuk kesalahan tragis. “Meskipun kami berupaya semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti warga sipil yang tidak bersalah, tadi malam, terjadi kesalahan yang tragis,” katanya.
Meskipun Netanyahu mengakui kesalahan, tapi bukan berarti pasukan Israel benar-benar menyudahi serangannya ke Rafah. Terbukti pada Selasa (28/5), militer Israel melancarjan serangan kedua ke Rafah.
Sasarannya adalah al-Mawasi, sebuah kamp di Rafah yang sebagian besar penghuninya adalah perempuan dan anak-anak. Berdasarkan laporan Al Jazeera, serangan tersebut menewaskan 21 orang, 13 orang di antaranya adalah perempuan dan anak perempuan.
Baca Juga: Saat Dunia Mengecam, AS Malah Anggap Serangan Israel ke Rafah Tidak Lewati Batas
(DEL)
