Apakah Anda Sudah Mengetahui tentang Pendidikan dalam Situasi Darurat?

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam situasi darurat akibat bencana, pemenuhan hak siswa untuk mendapatkan layanan pendidikan tetap menjadi prioritas utama. Pendidikan dalam kondisi ini dirancang agar proses belajar dapat berlangsung meski berada di tengah keterbatasan, seperti konflik, bencana alam, maupun pandemi.
Salah satu bentuk implementasinya diwujudkan melalui program Sekolah Peduli dan Aman Bencana (SPAB). Penerapan SPAB di lingkungan sekolah diharapkan mampu menumbuhkan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah sejak dini.
Untuk mengukur efektivitas program, biasanya dilakukan evaluasi terhadap pemahaman peserta. Salah satu pertanyaan yang sering diajukan, apakah sebelumnya Anda sudah mengetahui tentang pendidikan dalam situasi darurat?
Apakah Sebelumnya Anda Sudah Mengetahui tentang Pendidikan dalam Situasi Darurat?
Pertanyaan ini kerap muncul dalam kuesioner sosialisasi program SPAB. Pendidikan dalam situasi darurat merujuk pada proses pembelajaran yang tetap berlangsung di tengah kondisi krisis yang berpotensi mengganggu keberlangsungan pendidikan serta kesejahteraan siswa.
Di Indonesia, pendekatan ini terintegrasi dalam kerangka SPAB yang menekankan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pendidikan darurat memiliki peran penting dalam mengurangi dampak jangka panjang, seperti risiko putus sekolah.
Mengacu pada laman UNESCO, kondisi darurat dapat memengaruhi pendidikan melalui beberapa hal berikut:
Penutupan sekolah: Situasi darurat dapat menyebabkan kerusakan fasilitas sekolah sehingga tidak bisa digunakan. Dalam beberapa kondisi, sekolah juga difungsikan sebagai tempat pengungsian sementara.
Keterbatasan sumber daya: Peralatan belajar dan materi pendidikan bisa hilang atau tidak dapat diakses. Kondisi ini membuat proses pembelajaran menjadi terhambat.
Dampak pada kesehatan dan kesejahteraan: Peserta didik, guru, serta tenaga kependidikan dapat mengalami tekanan fisik maupun psikologis yang memengaruhi kemampuan untuk mengikuti kegiatan belajar.
Pelaksanaan Pendidikan dalam Situasi Darurat
Mengutip laman BPBD Kotim, pelaksanaan pendidikan dalam situasi darurat melalui program SPAB terbagi dalam tiga tahap utama, yaitu prabencana, saat tanggap darurat, dan pascabencana.
1. Prabencana
Tahap ini berfokus pada upaya pencegahan dan kesiapsiagaan, antara lain:
Penguatan sistem dan kebijakan SPAB
Menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran yang aman terhadap bencana
Meningkatkan kemampuan manajemen bencana di satuan pendidikan
Melaksanakan pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana
2. Penanganan Situasi Darurat
Saat bencana terjadi, langkah-langkah yang dapat dilakukan meliputi:
Mengaktifkan pos pendidikan/klaster pendidikan di tempat bencana
Mengkaji dampak dan kebutuhan
Menyusun rencana respon pendidikan dalam situasi darurat
Menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kondisi lapangan
Memfasilitasi penyelenggaraan sekolah darurat
Memberikan layanan dukungan psikososial
Memastikan tingkat keamanan dan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan
Mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam penanganan
3. Pemulihan Pascabencana
Setelah kondisi mulai membaik, fokus diarahkan pada pemulihan, antara lain:
Memfungsikan kembali seluruh sarana dan prasarana pembelajaran (rehabilitasi dan rekonstruksi)
Memulihkan proses pembelajaran
Mengejar ketertinggalan capaian hasil belajar peserta didik
Memberikan dukungan psikososial atau pemulihan trauma
Baca Juga: Bagaimana Memaknai Peran Sekolah dalam Melindungi Peserta Didik dari Bencana?
(SA)
