Apakah Hantavirus Berpotensi Menjadi Pandemi? Ini Pendapat Ahli

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius tengah menjadi perhatian dunia. Hantavirus sendiri adalah penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat, seperti tikus.
Tiga penumpang kapal pesiar tersebut dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi hantavirus. Sementara itu, penumpang lain yang terinfeksi diketahui menunjukkan gejala.
Berkaca dari COVID-19, kehadiran hantavirus memicu kekhawatiran akan munculnya pandemi baru. Pertanyaannya, apakah hantavirus berpotensi menjadi pandemi? Yuk, simak artikel ini untuk mengetahui faktanya!
Apakah Hantavirus Berpotensi Menjadi Pandemi?
Hantavirus merupakan salah satu virus langka yang dapat menyebabkan penyakit serius. Virus ini bahkan disebut mematikan, terutama ketika penderitanya mulai mengalami gangguan pada sistem pernapasan.
Mengutip situs Today.com, meski tergolong berbahaya, para ahli menegaskan bahwa situasi ini berbeda dengan COVID-19, baik dari karakteristik virus maupun langkah penanganannya. Artinya, hingga saat ini, hantavirus dinilai tidak berpotensi menjadi pandemi.
Direktur Jenderal World Health Organization Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menegaskan bahwa risiko hantavirus bagi masyarakat umum masih tergolong rendah. "Berdasarkan penilaian ilmiah dan bukti yang ada, risiko bagi masyarakat umum tergolong rendah," terang Tedros.
Di sisi lain, Kari Moore Debbink, Ph.D., profesor mikrobiologi molekuler dan imunologi di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, mengatakan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan terjadinya pandemi akibat hantavirus.
"Saya rasa masyarakat tidak perlu takut bahwa virus ini tiba-tiba akan memicu pandemi. Saya akan sangat terkejut jika itu terjadi," ucapnya yang dikutip dari Today.com.
"Ini bukan situasi seperti COVID. Saya pikir kasus-kasus yang ada masih bisa dikendalikan," lanjut Kari Moore.
Sejumlah ahli lain juga menjelaskan bahwa hantavirus memiliki perilaku yang sangat berbeda dibandingkan SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Hantavirus tidak mudah menular antarmanusia, sehingga penyebarannya cenderung terbatas.
Baca Juga: Update Kasus Hantavirus di Indonesia 2026, Ini Kondisi Terkininya
Gejala Hantavirus
Ada dua jenis penyakit yang dapat muncul akibat paparan hantavirus, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Keduanya memiliki gejala yang berbeda dan dapat berkembang menjadi kondisi serius.
Disadur dari situs Centers for Disease Control and Prevention (CDC), berikut tanda gejalanya:
1. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
HPS merupakan penyakit akibat dari hantavirus yang menyerang paru-paru. Jenis ini tergolong berbahaya karena sekitar 38 persen penderitanya yang mengalamai gangguan pernapasan dilaporkan meninggal dunia.
Gejala HPS umumnya muncul dalam rentang 1-8 minggu setelah seseorang terpapar hewan pengerat yang terinfeksi. Berikut beberapa gejalanya:
Lemas atau kelelahan
Demam
Nyeri otot, terutama bagian pada paha, pinggul, punggung, dan bahu
Sakit kepala
Pusing
Mengigil
Masalah pencernaan, seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut
Batuk
Sesak napas
Rasa tertekan di dada karena paru-paru terisi cairan
2. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)
HFRS adalah penyakit akibat hantavirus yang menyerang ginjal. Gejalanya biasanya muncul dalam 1-2 minggu setelah terpapar virus. Namun, pada beberapa kasus dapat berkembang hingga 8 minggu kemudian. Berikut deretan gejalanya:
Sakit kepala hebat
Nyeri punggung dan perut
Demam dan menggigil
Mual
Penglihatan kabur
Wajah memerah
Mata merah atau meradang
Ruam pada kulit
Tekanan darah rendah
Syok (aliran darah sangat buruk)
Pendarahan internal atau kebocoran pada pembuluh darah
Gagal ginjal akut yang bisa menyebabkan penumpukan cairan
Cara Mencegah Hantavirus
Pencegahan hantavirus dilakukan dengan mengendalikan populasi rodensia, terutama untuk menghindari kontak dengan urine, tinja, air liur, maupun sarang tikus. Disadur dari situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berikut beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan:
Menutup lubang di dalam atau di luar rumah untuk mencegah tikus masuk.
Meletakkan perangkap tikus di sekitar rumah guna mengurangi populasinya.
Menutup makanan dan minuman agar terhindar dari kemungkinan kontaminasi tikus.
(NSF)
