Apakah Hujan Buatan Bahaya? Ini Penjelasan BMKG

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Meningkatnya polusi udara dan kekeringan di sejumlah wilayah mendorong pemerintah mengambil langkah serius untuk mengatasi kondisi tersebut. Salah satunya dengan hujan buatan lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Namun, praktik OMC turut memunculkan berbagai kekhawatiran di tengah masyarakat. Hal ini terlihat dari beredarnya informasi di media sosial yang menyebut air hujan hasil modifikasi cuaca mengandung bahan kimia berbahaya, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak menampungnya.
Lantas, apakah hujan buatan mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan masyarakat? Untuk mengetahui kebenarannya, simak penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berikut ini.
Apa itu Hujan Buatan?
Sebelum membahas kandungan dalam hujan buatan, mari pahami terlebih dahulu pengertian dari praktik tersebut. Dikutip dari jurnal Simulasi Teknik Modifikasi Cuaca Hujan Buatan dengan Menggunakan Adobe Flash karya Deni & Cucu, hujan buatan atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) merupakan upaya meningkatkan curah hujan alami dengan mengubah proses fisika yang terjadi dalam awan menggunakan bahan semai.
Perubahan proses fisika tersebut dilakukan melalui beberapa proses, yaitu:
Tumbukan dan penggabungan (collision dan coalescence), yaitu proses ketika butiran air dalam awan saling bertumbukan dan bergabung.
Pembentukan es (ice nucleation), yaitu proses pembentukan partikel es di dalam awan yang mendukung terjadinya presipitasi.
Dengan demikian, hujan buatan dilakukan untuk memaksimalkan potensi awan yang memiliki cukup kandungan air agar dapat menghasilkan hujan hingga mencapai permukaan tanah.
Apakah Hujan Buatan Berbahaya?
BMKG menjelaskan bahwa bahan yang digunakan dalam proses penyemaian awan aman dan tidak bersifat racun. Bahan tersebut digunakan dalam dosis yang sangat kecil sehingga tidak membuat air hujan hasil modifikasi cuaca menjadi berbahaya.
Beberapa bahan yang digunakan dalam modifikasi cuaca adalah:
Garam dapur (NaCl) berkualitas food-grade.
Kalium klorida (KCl) berkualitas food-grade.
"Bahan yang digunakan dalam modifikasi cuaca seperti garam dapur (NaCl) atau KCl berkualitas food-grade bersifat non-toksik dan digunakan dalam dosis yang sangat kecil," kata BMKG lewat akun IG resmi @infoBMKG.
Air Hujan Hasil Modifikasi Cuaca Bukan Hujan Asam
BMKG juga menegaskan bahwa hujan hasil modifikasi cuaca bukan merupakan hujan asam. Berdasarkan hasil uji laboratorium, air hujan hasil modifikasi cuaca memiliki pH di atas 7, sehingga berada dalam kondisi netral hingga basa.
Mengapa Air Hujan Pertama Terlihat Kotor?
Saat hujan pertama turun, air yang sampai ke permukaan terkadang terlihat lebih keruh atau kotor. BMKG menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena tetesan air hujan dapat membawa berbagai partikel yang berada di atmosfer saat jatuh ke permukaan bumi. Partikel yang dapat terbawa bersama air hujan antara lain:
Debu yang berada di udara.
Polusi yang berasal dari kendaraan.
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Akibatnya, air hujan yang turun pertama kali dapat terlihat lebih keruh atau kotor. Baik hujan alami maupun hasil modifikasi cuaca, kondisi tersebut berkaitan dengan partikel pencemar di atmosfer dan bukan disebabkan oleh bahan yang digunakan dalam proses pembenihan awan.
Baca Juga: Memahami Cara Bikin Hujan Buatan untuk Padamkan Api Karhutla
(ANB)
