Apakah Virus Nipah Berbahaya bagi Manusia? Ini Penjelasannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Virus Nipah adalah penyakit zoonosis langka yang dapat menular dari hewan ke manusia dan dianggap sebagai patogen berisiko tinggi. Virus ini kembali menjadi sorotan setelah wabah terbaru terjadi di India pada awal tahun 2026.
Kasus infeksi pertama kali terdeteksi di Benggala Barat dan menyebabkan lebih dari 100 orang harus menjalani karantina ketat untuk mencegah meluasnya virus. Lantas, apakah virus Nipah berbahaya bagi manusia? Simak informasi lengkapnya berikut ini!
Apakah Virus Nipah Berbahaya bagi Manusia?
Virus Nipah termasuk kategori penyakit yang sangat berbahaya. Menurut World Health Organization (WHO), tingkat kematian akibat virus Nipah mencapai 40 hingga 75 persen dari jumlah orang yang terinfeksi. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penyakit infeksi virus lainnya.
Bahaya terbesar dari Virus Nipah adalah kemampuannya menyerang sistem saraf pusat manusia. Mayoritas penderita yang terjangkit akan mengalami peradangan otak atau ensefalitis yang dapat berujung pada kematian.
Gejala dan Komplikasi Virus Nipah
Mengutip dari UK Health Security Agency (UKHSA), masa inkubasi Virus Nipah berkisar antara 4 hingga 21 hari, meski dalam kasus langka bisa mencapai 45 hari. Gejala awalnya meliputi demam tinggi yang disertai sakit kepala, kebingungan, batuk, dan kesulitan bernapas.
Selain itu, gejala lain yang sering muncul di antaranya menggigil, kelelahan ekstrem, rasa kantuk berlebihan, pusing, muntah, dan diare.
Komplikasi paling serius dapat terjadi ketika virus menyerang sistem saraf dan menyebabkan ensefalitis. Kondisi ini ditandai dengan pembengkakan otak yang dapat berakibat fatal dalam waktu singkat.
Bagi pasien yang berhasil selamat, sekitar 1 dari 5 orang akan mengalami gangguan neurologis jangka panjang. Merujuk pada UKHSA, kondisi ini bisa berupa kejang persisten dan perubahan kepribadian. Walaupun kasusnya sangat jarang terjadi, virus juga dapat aktif kembali berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi awal.
Cara Penularan Virus Nipah
Kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae merupakan inang alami Virus Nipah. Dari inang alami ini, virus dapat menyebar ke manusia melalui dua jalur, yaitu:
Kontak langsung dengan hewan yang telah terinfeksi, seperti kelelawar, babi, atau kuda.
Ketika manusia mengonsumsi buah-buahan atau produk turunannya yang telah terkontaminasi oleh air liur, urin, maupun kotoran kelelawar pembawa virus.
Pada kasus di Bangladesh dan India, salah satu sumber penularan utama virus ini adalah jus kelapa atau sari kurma mentah. Dijelaskan oleh UKHSA, minuman sari kurma mentah yang dikenal dengan nama Khejur Juice atau Tari, kerap tercemar oleh kelelawar selama proses penyadapan getah dari pohon kurma.
Virus Nipah juga dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dengan penderita atau cairan tubuh mereka. Kasus penularan dari manusia ke manusia banyak terjadi di fasilitas kesehatan dan di antara anggota keluarga yang merawat pasien.
Menurut WHO, risiko penularan semakin besar di lingkungan rumah sakit yang penuh sesak, memiliki sirkulasi udara buruk, dan tidak menerapkan prosedur pencegahan infeksi dengan baik.
(FHK)
Baca juga: Daftar Penyakit Paling Mematikan di Indonesia, Apa Saja?
