Konten dari Pengguna

Arti I Yayat U Santi, Ungkapan Khas Suku Minahasa

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Arti I Yayat U Santi, Ungkapan Khas Suku Minahasa. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Arti I Yayat U Santi, Ungkapan Khas Suku Minahasa. Foto: Pexels

Bagi suku Minahasa, arti “I yayat u santi” akan membakar semangat orang yang mendengarnya. Frasa ini kerap muncul dalam pertunjukkan Tari Kabasaran yang dianggap sakral bagi masyarakat Minahasa.

Penari yang berperan sebagai prajurit perang atau waraney akan menyerukan frasa “I yayat u santi” dengan berapi-api sambil mengacungkan tangannya. Kemudian, seruan itu disambut dengan teriakan “Wouw” dari prajurit lainnya.

Dari cara penggunaannya, dapat dipahami bahwa frasa khas Minahasa ini merupakan kalimat pembakar semangat dalam perang. Simak penjelasan maknanya lebih lanjut di bawah ini.

Arti I Yayat U Santi

Apa Arti I Yayat U Santi. Foto: Unsplash

“I yayat u santi” menjadi kalimat dengan arti yang mendalam, yaitu "angkatlah dan acungkan pedangmu!”. Sementara teriakan “Wouw” yang digunakan untuk menjawab seruan tersebut memiliki arti kurang lebih "Tentu!"

Frasa ini merupakan komando sekaligus seruan untuk membangkitkan gairah dan semangat para waraney (sebutan prajurit perang Minahasa). Seruan ini juga dimaksudkan untuk menghilangkan kecemasan dan ketakutan mereka. Dengan begitu, waraney dapat maju tanpa gentar melawan musuh.

Menyerukan “I yayat u santi” harus dilakukan sambil mengangkat salah satu tangan yang terkepal ke udara. Kemudian, suarakan dengan nyaring dan tegas agar didengar seluruh prajurit.

Di luar arena pertempuran, “I yayat u santi” terkadang diserukan untuk mengajak masyarakatnya maju bersama-sama dan pantang mundur dalam menjalani kehidupan. Dengan demikian, frasa tersebut juga dapat dimaknai sebagai seruan untuk menguatkan diri dalam menghadapi segala masalah hidup.

Ungkapan ini juga ditemukan dalam Alkitab dan dimaknai sebagai jelmaan kuasa-kuasa maut. Allah telah menaklukkan kuasa maut saat membangkitkan Yesus Kristus dari kematian.

Jadi frasa “I yayat u santi” bisa juga diartikan sebagai ajakan untuk menghadapi dan menanggulangi tantangan yang berkaitan dengan maut.

Mengenal Tari Kabasaran

Ilustrasi Tari Kabasaran. Foto: Pexels

Ungkapan “I yayat u santi” lekat dengan tarian tradisional suku Minhasa, yakni Tari Kabasaran. Mengutip buku Pelangi di Bumi Minahasa karya Conie Wishnu W, tarian ini awalnya hanya dilakukan para waraney. Mereka mengenakan pakaian berwarna merah dengan riasan wajah yang tegas dan berwibawa.

Kini penari Kabasaran tidak mesti seorang waraney lagi. Meski begitu, hanya keturunan para penari Kabasaran yang dapat menampilkan tarian sakral ini. Pasalnya, mereka harus menari menggunakan senjata yang hanya diwariskan pada garis keturunan penari Kabasaran.

Tarian Kabasaran sendiri berkaitan erat dengan sejarah panjang perang di kawasan Minahasa. Dahulu kala, suku di Sulawesi Utara ini kerap berperang dengan suku lain karena jarak yang berdekatan.

Demi mempertahankan diri, leluhur suku Minahasa berusaha memperkuat diri dengan merekrut pria berbadan besar. Kemudian pria-pria tersebut dilatih berperang menggunakan pedang (santi) dan tombak (wengko).

Gerakan latihan itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya Tari Kabasaran. Tarian ini terdiri dari tiga babak, yaitu:

  • Cakalele: Para penari berkejaran dan melompat-lompat.

  • Kumoyak: Para penari mengayunkan senjata pedang atau tombak dengan gerakan naik turun dan maju mundur.

  • Lalayaan: Para penarik melakukan gerakan bebas yang menunjukkan rasa gembira dan tanda bahwa mereka terlepas dari rasa berang.

Baca Juga: Sejarah Tari Kecak Asli Bali yang Punya Keunikan Tersendiri

(DEL)