Arti Kata Slop yang Dinobatkan Jadi Word of the Year Merriam-Webster

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seiring dengan masifnya penyebaran konten AI di media sosial, istilah slop semakin sering terdengar. Bahkan, kata slop sampai dinobatkan sebagai "2025 Word of the Year” oleh editor kamus Merriam-Webster.
Merujuk pada penjelasan Merriam-Webster, istilah slop pertama kali digunakan pada tahun 1700-an untuk menyebut lumpur. Lalu, pada tahun 1800-an, kata tersebut mulai diartikan sebagai limbah makanan.
Definisi slop kemudian berkembang semakin luas lagi di era yang serba AI seperti sekarang ini. Lantas, apa arti kata slop dalam konteks masyarakat masa kini? Simak penjelasannya berikut ini.
Arti Kata Slop
Merriam-Webster mendefinisikan slop sebagai konten digital berkualitas rendah yang biasanya diproduksi dalam jumlah banyak menggunakan kecerdasan buatan (AI). Gen Z juga sering mengartikan slop sebagai “sampah”, lalu menggunakannya untuk mengejek konten AI yang buruk.
Contoh konten “sampah" yang sering terlihat di media sosial adalah video-video absurd, berita hoax yang tampak sangat nyata, buku-buku yang ditulis oleh AI, hingga kucing yang bisa bicara. Konten tersebut banyak membuat orang-orang jengkel, tapi tak sedikit juga yang justru terhibur.
"Kata itu (slop) sangat menggambarkan situasi," kata Greg Barlow, presiden Merriam-Webster, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Associated Press, seperti yang dikutip CBC News. "Ini adalah bagian dari teknologi transformatif, AI, dan sesuatu yang dianggap menarik, menjengkelkan, serta sedikit menggelikan oleh orang-orang.”
Data terbaru dari Menlo Venture menunjukkan sekitar 1,7-1,8 miliar orang di seluruh dunia pernah menggunakan tools AI atau AI generatif setidaknya sekali. Jumlah engagement-nya mencapai 500-600 juta orang di tahun 2025 ini.
Banjirnya konten slop di media sosial tentu menimbulkan rasa takut bagi sebagian orang, karena semakin sulit untuk membedakan mana informasi asli atau palsu. Tapi, kemunculan istilah slop dapat dianggap sebagai hal positif.
Banyaknya orang yang mencari arti kata slop menunjukkan bahwa kesadaran akan konten palsu berkualitas rendah mulai tinggi. Barlow juga mengatakan bahwa lonjakan pencarian kata slop di kamus mencerminkan kejenuhan orang-orang terhadap konten AI yang hampa dan repetitif, serta keinginan mereka untuk melihat konten otentik dan kreatif lagi.
"Mereka menginginkan hal-hal yang nyata, mereka menginginkan hal-hal yang tulus," kata Barlow. "(Kata slop) ini hampir terdengar sebagai kata yang bertolak belakang ketika dikaitkan dengan AI. Dalam hal menggantikan kreativitas manusia, terkadang AI justru terlihat tidak terlalu cerdas.”
Kata slop bukan satu-satunya yang populer belakangan ini karena konten AI. Slop juga melahirkan kata baru, yakni "slopper".
Dikutip dari NDTV Lifestyle, istilah slopper merujuk pada orang-orang yang terlalu bergantung pada AI. Para slopper digambarkan sering membuat atau mengonsumsi konten AI tanpa berpikir.
Selain itu, ada juga istilah "Groksucker" yang maknanya lebih jelek. Groksucker digunakan untuk mengejek mereka yang terlalu antusias atau selalu berinteraksi dengan chatbot, seperti Grok AI.
Baca Juga: Dampak Penggunaan AI Bagi Masyarakat Berdasarkan Riset Terbaru kumparan 2025
(DEL)
