Konten dari Pengguna

Arti Silent Majority dalam Pemilu dan Dinamika Politik Indonesia

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tinta di jari usai ikut Pemilu 2024. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tinta di jari usai ikut Pemilu 2024. Foto: Shutterstock

Hasil quick count Pemilu 2024 menempatkan pasangan calon 02, Prabowo-Gibran, sebagai kandidat yang unggul sementara. Pendukung 02 mengklaim bahwa hasil tersebut merupakan gambaran dari silent majority masyarakat Indonesia.

Banyak orang awam yang belum tahu arti dari silent majority. Jika diterjemahkan secara bahasa, silent majority artinya suara mayoritas yang diam dan tidak ingin mengungkapkan pilihannya.

Sebagian pendukung 02 mengklaim dirinya sebagai silent majority selama berlangsungnya Pemilu 2024. Mereka enggan membeberkan pilihannya kepada publik dan memilih untuk merahasiakannya.

Saat hari pencoblosan tiba, barulah mereka menunjukkan keberpihakannya pada paslon 02. Bagaimana pandangan para ahli terkait fenomena silent majority ini? Simak selengkapnya dalam artikel berikut ini.

Pengertian Silent Majority dan Dampaknya

Ilustrasi Simulasi Surat Suara Pemilu. Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTO

Istilah silent majority memang cukup sering digunakan dalam ranah politik dan Pemilu. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, silent majority artinya mayoritas yang diam.

Encyclopedia Britannica mendefinisikan silent majority sebagai sekumpulan orang yang memiliki preferensi politik tertentu, namun enggan mengungkapkan pilihannya secara terbuka. Sekumpulan orang tersebut mewakili suara mayoritas di suatu negara.

Fenomena ini cukup unik dan sulit untuk diprediksi. Pasalnya, golongan silent majority cenderung diam dan merahasiakan pilihannya kepada siapapun. Bahkan ketika diwawancarai, mereka pun enggan mengungkapkannya.

Jika menilik sejarahnya, sebenarnya fenomena silent majority bukanlah hal yang baru. Pada tahun 1919, seorang kandidat presiden Amerika Serikat, Warren G. Harding menggunakan istilah tersebut secara politis dalam kampanyenya.

Kemudian sekitar tahun 1960, istilah silent majority kembali populer di kalangan masyarakat Eropa. Ini bermula ketika Richard Nixon menyampaikan istilah tersebut dalam pidato singkatnya yang ditayangkan di televisi.

Silent majority dianggap sebagai cara yang ampuh untuk mengobarkan semangat pemilih dalam pesta demokrasi. Sehingga, mereka yang tidak puas terhadap keberlangsungan Pemilu dapat diarahkan untuk memilih kandidat yang disukai.

Warga menggunakan hak politiknya ketika mengikuti Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilu 2019 di TPS 02, Pasar Baru, Jakarta, Sabtu (27/4). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Silent majority dianggap sebagai kaum mayoritas yang terbungkam. Dijelaskan dalam buku Pedagogi Kaum Terkunci susunan Ardhie Raditya (2021), mereka muncul ketika terjadi ekstasi komunikasi di suatu wilayah.

Fenomena ini bisa menjadi pilihan bagi individu yang enggan terlibat dalam politik praktis. Sehingga, mereka tidak perlu vokal dalam menyuarakan pilihannya kepada publik dan menghadapi risiko tidak disukai oleh kelompok-kelompok tertentu.

Kendati demikian, ada beberapa dampak yang bisa ditimbulkan akibat masifnya gerakan silent majority. Salah satunya yaitu mereka sulit untuk diprediksi keberpihakannya.

Terkadang, kelompok ini juga dapat menimbulkan kontroversi yang menyudutkan pihak-pihak tertentu. Sebab, kandidat politik kerap memperalatnya untuk melancarkan klaim bahwa mereka memiliki basis massa yang lebih besar.

Baca juga: Cara Kawal Pemilu 2024 untuk Menghindari Potensi Kecurangan

(MSD)