Konten dari Pengguna

Bagaimana Anda Membayangkan Tim Siaga yang Ideal untuk Sekolah Anda?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi edukasi mitigasi bencana kepada anak - Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air bersama siswa Taman Kanak-kanak dalam Edukasi Mitigasi Bencana Kebakaran di Markas Pemadam Kebakaran Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (18/10/2023).  Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi edukasi mitigasi bencana kepada anak - Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air bersama siswa Taman Kanak-kanak dalam Edukasi Mitigasi Bencana Kebakaran di Markas Pemadam Kebakaran Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (18/10/2023). Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Indonesia merupakan negara yang rawan bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan letusan gunung berapi. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, seluruh instansi pendidikan perlu memiliki tim kebencanaan atau satuan tugas keamanan di lingkungan sekolah.

Dalam konteks pendidikan, kesiapsiagaan bencana merupakan hal yang sangat penting untuk melindungi seluruh warga sekolah. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga harus mampu menjadi ruang yang aman saat kondisi darurat terjadi.

Mengutip buku Tim Siaga Bencana Sekolah susunan SMAN 2 Solok, tim siaga sekolah merupakan perwakilan warga sekolah yang telah mendapatkan pelatihan terkait pengurangan risiko bencana. Tugasnya adalah menyebarluaskan budaya sadar bencana melalui kesiapsiagaan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.

Lantas, bagaimana wujud tim siaga sekolah yang ideal? Mari simak informasi selengkapnya berikut ini.

Seperti Apa Tim Siaga Bencana Sekolah yang Ideal?

Pelajar berlindung di bawah meja saat simulasi mitigasi bencana di MTs Negeri 9 Jakarta, Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (29/4/2024). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Tim siaga bencana yang ideal adalah satuan yang mampu menjalankan peran secara terstruktur, terlatih, dan sigap dalam menghadapi berbagai kondisi darurat di lingkungan sekolah.

Prosedur ini melibatkan seluruh warga sekolah, termasuk Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Kependidikan (TU, pustakawan, petugas kebersihan), serta seluruh siswa.

Merujuk pada buku Tim Siaga Bencana Sekolah susunan SMAN 2 Solok dan laman SMAN 1 Gondang Mojokerto, berikut tugas tim siaga sekolah dalam tiga tahap utama, yaitu sebelum, saat, dan setelah bencana:

1. Tugas dan Wewenang Kepala Sekolah

Sebelum Bencana:

  • Membentuk dan memimpin Tim Siaga Bencana Sekolah.

  • Menyusun rencana darurat (contingency plan) dan memastikan ketersediaan sumber daya.

  • Menginstruksikan simulasi bencana secara berkala, minimal satu kali dalam satu semester.

  • Mengadakan pelatihan mitigasi bencana untuk guru dan staf.

  • Menjalin kerja sama dengan instansi terkait.

  • Menyediakan dan memelihara perlengkapan darurat seperti P3K, APAR, dan jalur evakuasi.

Saat Bencana:

  • Menjadi penanggung jawab utama dalam penanganan darurat.

  • Menginstruksikan evakuasi sesuai SOP.

  • Memastikan seluruh pihak menjalankan tugasnya.

  • Menyampaikan informasi secara jelas dan tenang.

  • Berkoordinasi dengan tim medis dan instansi darurat.

Pasca Bencana:

  • Memimpin pendataan korban dan kerusakan.

  • Menyampaikan informasi kepada orang tua dan pihak terkait.

  • Mengkoordinasikan bantuan dan pemulihan.

  • Mengevaluasi pelaksanaan SOP.

2. Tugas dan Wewenang Wakil Kepala Sekolah

Sejumlah pelajar melindungi kepalanya saat simulasi mitigasi bencana di MTs Negeri 9 Jakarta, Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (29/4/2024). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Sebelum Bencana:

  • Wakil Sarana Prasarana: memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, dan APAR dalam kondisi baik.

  • Wakil Kesiswaan: mensosialisasikan SOP kepada siswa dan memimpin simulasi.

  • Wakil Kurikulum: mengintegrasikan materi mitigasi dalam pembelajaran.

  • Wakil Humas: menyiapkan komunikasi dengan orang tua dan pihak luar.

Saat Bencana:

  • Mendampingi kepala sekolah dalam pengendalian situasi.

  • Bertindak sebagai koordinator lapangan.

Pasca Bencana:

  • Melaporkan kondisi sarana prasarana.

  • Membantu pendataan siswa terdampak.

  • Mengelola komunikasi eksternal.

3. Tugas dan Wewenang Guru

Sebelum Bencana:

  • Mengikuti pelatihan dan simulasi.

  • Menjelaskan prosedur darurat kepada siswa.

  • Menghafal jalur evakuasi.

  • Menyiapkan daftar kehadiran siswa.

Saat Bencana:

  • Menjadi penanggung jawab siswa di kelas.

  • Mengarahkan siswa untuk berlindung dengan aman.

  • Memimpin evakuasi ke titik kumpul.

  • Memastikan tidak ada siswa yang tertinggal.

Pasca Bencana:

  • Melakukan absensi siswa.

  • Melaporkan kondisi siswa.

  • Memberikan pertolongan pertama.

4. Tugas dan Wewenang Tenaga Kependidikan

Ilustrasi Guru. Foto: Kemendikdasmen

Sebelum Bencana:

  • Memahami SOP yang berlaku.

  • Menjaga jalur evakuasi tetap aman.

  • Menyiapkan dokumen penting.

Saat Bencana:

  • Mengikuti instruksi evakuasi.

  • Membantu mengarahkan dan menenangkan siswa.

  • Mendukung proses evakuasi.

Pasca Bencana:

  • Membantu pendataan kerusakan.

  • Menyediakan data administrasi.

5. Tugas dan Tanggung Jawab Siswa

Sebelum Bencana:

  • Menghafal jalur evakuasi.

  • Mengenali lokasi APAR dan P3K.

  • Mengikuti simulasi dengan serius.

Saat Bencana:

  • Tetap tenang dan tidak panik.

  • Mengikuti instruksi guru.

  • Berlindung dengan benar saat gempa.

  • Evakuasi secara tertib ke titik kumpul.

Pasca Bencana:

  • Tetap berada di titik kumpul.

  • Mengikuti absensi.

  • Menunggu arahan sebelum pulang.

Baca Juga: Bagaimana Memaknai Peran Sekolah dalam Melindungi Peserta Didik dari Bencana?

(ANB)