Bagaimana Cara Mengukur Kualitas Akidah Seseorang? Berikut Penjelasannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akidah merupakan pondasi utama yang menjadi dasar keimanan seorang Muslim. Kata akidah berasal dari bahasa Arab “aqada” yang berarti mengikat atau memperkuat, sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), akidah adalah keyakinan dasar atau pokok dalam Islam.
Akidah mencakup keyakinan terhadap Allah SWT, malaikat, kitab-kitab suci, para nabi dan rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar. Amalan dan akhlak seorang Muslim tidak akan bernilai bila tidak berlandaskan akidah yang benar. Oleh sebab itu, kualitas akidah menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
Pertanyaannya, bagaimana cara mengukur kualitas akidah seseorang? Baca penjelasan selengkapnya di bawah ini!
Bagaimana Cara Mengukur Kualitas Akidah Seseorang?
Dalam ajaran Islam, terdapat tiga hal utama yang perlu ditanamkan, yaitu akidah, syariat, dan akhlak. Di antara ketiganya, akidah menempati posisi pertama sebagai pondasi utama.
Menurut Abdurrohim, dkk. (2014) dalam buku Akidah Akhlak, tujuan dari akidah Islam adalah agar setiap Muslim mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah SWT semata. Selain itu, akidah memberikan ketenangan jiwa, menumbuhkan rasa sabar dalam menghadapi cobaan, serta menjadikan seorang Muslim tegar dalam setiap ujian kehidupan.
Akidah yang benar akan menjadi dasar seluruh amal dan akhlak. Jika akidah seseorang menyimpang, maka amalan yang dilakukan pun tidak akan diterima dengan baik. Hal ini menegaskan bahwa akidah adalah inti dari semua ajaran Islam.
Kualitas akidah seseorang tidak hanya terlihat dari pengakuan lisan, tetapi juga dari perilaku sehari-hari. Cara berbicara, sikap, etika, hingga kelakuan sehari-hari menjadi cerminan apakah akidah seseorang benar-benar kuat atau tidak.
Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِىءَ
Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. Tirmidzi, no. 2002. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).
Fungsi Akidah dalam Kehidupan
Akidah memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian seorang Muslim. Dalam penelitian Hartati Hatta (2021), Hubungan antara Pemahaman Materi Akidah Akhlak dengan Perilaku Sosial, pemahaman akidah terbukti berpengaruh signifikan terhadap perilaku seseorang agar selaras dengan ajaran Islam. Fungsi akidah sendiri antara lain:
Menjadi dasar keyakinan dan menjaga seorang muslim dari keraguan dalam menjalankan ibadah.
Meningkatkan keimanan sehingga seorang Muslim lebih mudah melaksanakan ibadah dan menghadapi tantangan hidup.
Membentuk karakter jujur, amanah, disiplin, dan taat kepada Allah SWT.
Memperkuat ukhuwah Islamiyah agar umat Islam saling memahami dan bekerja sama.
Mencegah dari pengaruh buruk yang menyesatkan.
Menjaga kesatuan agar tidak terjadi perpecahan dan perselisihan di tengah masyarakat muslim.
Baca juga: Kunci Jawaban Latihan Pada Modul Program Kebutuhan Khusus Bagian 2
Cara Menanamkan Pendidikan Akidah pada Anak
Pendidikan akidah sebaiknya ditanamkan sejak dini agar anak memiliki fondasi iman yang kuat. Menurut penelitian Aisa Tanjung (2018) berjudul Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa pada Materi Akidah Islam, cara menanamkan pendidikan akidah pada anak di era modern bisa dilakukan dengan berbagai cara berikut:
Membacakan kisah-kisah Islami yang meneguhkan keesaan Allah SWT.
Membiasakan anak mengaktualisasikan nilai akidah dalam kehidupan sehari-hari.
Mendorong anak untuk menuntut ilmu agama dengan bimbingan guru yang berkompeten.
Namun, ada tantangan besar yang bisa merusak akidah anak, antara lain syirik (menyekutukan Allah), tahayul (percaya pada sesuatu yang irasional), dan khurafat (kepercayaan batil yang dekat dengan syirik). Ketiganya harus dihindarkan sejak dini agar anak tumbuh dengan keyakinan yang benar dan tidak menyimpang.
(SLT)
