Bagaimana Nilai Ekoteologi Diintegrasikan dalam Pendidikan untuk Lingkungan?

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Krisis lingkungan berupa perubahan iklim, pencemaran, dan kerusakan ekosistem mendorong pentingnya pendidikan yang menanamkan kepedulian terhadap lingkungan. Nilai-nilai lingkungan juga perlu dibangun tidak hanya melalui pengetahuan, tetapi melalui aspek moral dan spiritual.
Dalam Islam, dikenal konsep ekoteologi yang memandang bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual manusia kepada Tuhan.
Lantas, bagaimana nilai-nilai ekoteologi diintegrasikan dalam proses pendidikan untuk membentuk kepedulian dan tanggung jawab warga satuan pendidikan terhadap lingkungan? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini!
Bagaimana Nilai-Nilai Ekoteologi Diintegrasikan dalam Proses Pendidikan?
Integrasi nilai ekoteologi dimulai dari penyusunan kurikulum dan materi ajar. Pelestarian lingkungan dapat dikaitkan dengan ayat Al-Quran dan hadis tentang tanggung jawab manusia terhadap alam.
Dengan begitu, peserta didik memahami bahwa menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari ibadah. Kesadaran terhadap lingkungan pun tidak hanya dibangun melalui pengetahuan, tetapi juga melalui nilai spiritual.
Beberapa bentuk integrasi nilai ekoteologi dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
Integrasi Konseptual: Nilai ekoteologi dimasukkan ke dalam pelajaran agama, sains, IPS, dan kewarganegaraan.
Pembelajaran Kontekstual: Kasus kerusakan lingkungan di sekitar, seperti pencemaran sungai dan masalah sampah, dikaji dan dihubungkan dengan tanggung jawab moral serta ibadah.
Pendekatan Interdisipliner: Penelitian, proyek sains, dan tugas akhir diarahkan pada pengembangan inovasi pelestarian lingkungan dan audit energi.
Penerapan nilai ekoteologi juga tidak berhenti di ruang kelas. Nilai tersebut bisa menjadi dasar dalam menyusun visi, misi, kebijakan, dan program sekolah guna mendukung kelestarian lingkungan.
Aksi Nyata dan Pembiasaan Budaya Sekolah
Kepedulian terhadap lingkungan dapat dibangun melalui pengalaman langsung di sekolah. Beberapa kegiatan yang dapat diterapkan di antaranya:
Pengelolaan Lingkungan: Warga sekolah terlibat dalam pengelolaan sampah, pembuatan kompos atau eco-enzyme, dan pengelolaan kebun sekolah.
Gerakan Penghijauan: Penanaman pohon dan perawatan tanaman dilakukan secara berkala sebagai wujud implementasi teologis dalam merawat alam.
Zikir Sosial: Pelestarian alam dimaknai sebagai bagian dari ibadah kolektif kepada Tuhan.
Pembiasaan tersebut perlu didukung budaya sekolah. Pendidik dan tenaga kependidikan harus mencontohkan perilaku ramah lingkungan. Sekolah juga dapat menerapkan kebijakan green school melalui pengurangan plastik, penghematan listrik, dan piket kebersihan.
Dikutip dari hasil kajian dalam artikel jurnal Istibshar Volume 1 Nomor 1 Tahun 2026 karya Shohib Hasan, penerapan nilai ekoteologi melalui pembelajaran dan budaya sekolah dapat membentuk kepedulian terhadap lingkungan, meningkatkan literasi ekologis, serta menumbuhkan tanggung jawab sosial peserta didik. Selain di sekolah, nilai tersebut juga dapat diterapkan di masyarakat melalui program penghijauan, bank sampah, dan pelatihan pertanian organik.
Baca juga: Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan dalam Mengembangkan Kemampuan Utuh Sarjana
(FHK)
