Bahasa Jawa Halus: Aturan Penggunaan dan Contoh Kalimatnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam bahasa Jawa, dikenal bentuk tingkat tutur bahasa yang khas dan jelas berdasarkan tingkat kesopanan. Sebab, saling menghormati dan memiliki sopan santun antara satu dengan lainnya adalah tradisi yang melekat dalam kebudayaan Jawa.
Masyarakat Jawa sudah diajarkan tata krama dan tingkatan sopan santun sejak masih dini. Sehingga, mereka bisa menempatkan dirinya dengan baik bagaimana berlaku dan bertutur kata kepada siapa pun yang berbicara dengannya.
Masyarakat Jawa mengenal tata bahasa krama inggil, yaitu bahasa Jawa halus yang digunakan sebagai bentuk sopan santun dan untuk menghormati lawan bicara.
Lantas, bagaimana aturan penggunaan bahasa Jawa halus atau krama inggil? Berikut informasinya beserta contoh kalimat bahasa Jawa halus yang sering digunakan sehari-hari.
Aturan Penggunaan Bahasa Jawa Halus
Bahasa Jawa halus atau krama inggil merupakan ragam bahasa Jawa yang bersifat penghormatan. Ada tiga kondisi kapan Bahasa Jawa halus ini digunakan. Dikutip dari Wiwara oleh Harimurti Kridalaksana, berikut penjelasannya.
1. Penggunaan Bahasa Jawa Halus di Situasi Formal
Penggunaan bahasa krama biasanya dipakai pada situasi pembicaraan yang formal/resmi. Misalnya dalam acara rapat, upacara adat, pengajian, maupun pidato pada upacara perkawinan.
2. Bahasa Jawa Halus Diucapkan kepada Orang yang Lebih Tua
Berbicara dengan orang yang lebih tua harus menggunakan ragam tutur bahasa Jawa halus. Ini merupakan bentuk penghormatan kepada yang lebih tua dan pengalaman hidupnya lebih banyak. Misalnya seorang anak kepada orang tuanya, siswa kepada gurunya.
3. Bahasa Jawa Halus Diucapkan kepada Orang yang Status Sosialnya Lebih Tinggi
Saat berbicara dengan mereka yang memiliki status sosial lebih tinggi, seseorang harus menggunakan Bahasa Jawa halus. Hal ini sebagai bentuk penghormatan dan kesopanan. Sebab, orang yang status sosialnya lebih tinggi dianggap lebih terhormat di kalangan masyarakat suku Jawa.
Misalnya, seorang guru kepada kepala sekolah, seorang abdi kepada keluarga keraton, seorang pekerja kepada atasan, dan lain sebagainya.
Contoh Kalimat Bahasa Jawa Halus
Supaya lebih paham, berikut beberapa contoh kalimat Bahasa Jawa halus yang dikutip dari buku Kamus Praktis Berbahasa Jawa Keseharian tulisan Siti Rofiqoh, dkk. yang biasa digunakan dalam kehidupan masyarakat suku Jawa sehari-hari.
Selamat pagi = Sugeng enjang
Selamat siang = Sugeng siang
Selamat sore = Sugeng sonten
Selamat malam = Sugeng ndalu
Bapak sudah makan belum? = Bapak sampun dhahar dereng?
Terima kasih banyak bapak dan ibu = Matur nuwun sanget kagem bapak kalih ibu.
Bapak mau kemana? = Bapak badhe tindak pundi?
Ibu sedang apa sekarang? = Ibu tasih punapa sakniki?
Air di sungai sangat keruh = Toyo ten lepek butek sanget
Saya ambil barang saya = Kula pundhut barang kula
Apa warna bajumu? = Nopo werni rasukan sampean?
Kalimat ini artinya apa ya? = Kalimat niki artosipun nopo nggih?
Bagaimana kabar Ibumu? = Kados pundi kabar ibune sampean?
Baru saja ibu memberi uang = Nembe mawon ibu maringi yotro
Ibu berangkat ke Surabaya = Ibu tindhak ten Surabaya
Tingkatan Bahasa dalam Bahasa Jawa
Sumadi dan Edi Setiyanto dalam buku Permasalahan Pemakaian Bahasa Jawa Krama menjelaskan, selain krama inggil atau krama halus, terdapat tiga tingkatan tutur kata lain dalam Bahasa Jawa, yaitu ngoko lugu, ngoko halus, dan krama lugu.
Berurutan dari ngoko lugu yang digunakan untuk tingkat kesopanan paling rendah, hingga krama alus yang digunakan untuk tingkat kesopanan paling tinggi.
1. Ngoko Lugu
Tingkat tutur ngoko pada dasarnya mencerminkan rasa tidak berjarak atau akrab antara pembicara (orang pertama) terhadap lawan bicara (orang kedua) atau orang ketiga yang dibicarakan, dan pembicara tidak memiliki rasa segan terhadap lawan bicara.
Itu sebabnya bahasa ini hanya diterapkan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih muda atau kedudukannya sejajar dengan pembicara.
Jika seseorang dengan kedudukan lebih rendah menggunakan bahasa ngoko lugu kepada yang derajatnya lebih tinggi, maka ia akan dianggap kurang sopan.
Mengutip buku Baboning Pepak Basa Jawa tulisan Budi Anwari, penggunaan bahasa Jawa ngoko lugu, antara lain:
Diucapkan oleh orang yang derajatnya lebih tinggi kepada orang dengan derajat lebih rendah.
Digunakan orang yang usianya lebih tua kepada yang usianya lebih muda.
Sesama teman yang sangat akrab.
Contoh kalimat:
Aku arep lunga menyang pasar. (Aku mau pergi ke pasar)
Kowe iku yen diwenehi apa-apa kok mesthi ora gelem, piye ta? (Kamu itu kalau dikasih apa-apa kok nggak mau, gimana sih?)
2. Ngoko Alus
Sejatinya, ngoko alus merupakan campuran ngoko lugu dan krama inggil. Ngoko alus bisa diucapkan kepada lawan bicara yang sudah akrab tetapi masih dihormati, seperti:
Teman dekat yang saling menghormati.
Orang tua yang derajatnya lebih tinggi kepada orang yang lebih muda, tetapi hubungannya sangat akrab.
Sesama rekan kerja.
Ngoko alus juga diucapkan oleh istri kepada suaminya.
Contoh kalimat:
Aku nyuwun pirsa, daleme Mas Budi kuwi, neng ndi? (Maaf saya mau tanya rumah Mas Budi di mana, ya?)
Panjenengan ora dhahar dhisik ta Pak? (Kamu belum makan dulu, ya Pak?)
Kula dolan wonten griyane simbah. (Aku pergi ke rumahnya nenek)
3. Krama Lugu
Tingkat tutur krama ialah tingkatan yang lebih tinggi dari ngoko. Basa krama mencerminkan rasa penuh sopan santun. Tingkat tutur ini menandakan adanya perasaan segan seseorang terhadap lawan bicara.
Bahasa krama juga dibagi menjadi dua macam, yaitu krama lugu dan krama halus. Seperti yang sudah dijelaskan, krama halus atau krama inggil merupakan bahasa Jawa yang tingkat kesopanannya paling tinggi. Sedangkan, krama lugu berada satu tingkat di bawahnya.
Tidak jauh berbeda dengan krama inggil, krama lugu juga digunakan oleh orang yang lebih muda terhadap yang lebih tua. Berikut contoh kalimatnya yang dikutip dari buku Bahasa Jawa XB tulisan Eko Gunawan:
Ibu tumbas jeruk kaliyan apel.
Panjenengan napa empun nate tindak teng Rembang?
Kula kesupen mboten nggarap PR.
Baca Juga: Perbedaan Aksara Swara, Aksara Murda, dan Aksara Rekan dalam Bahasa Jawa
Contoh Kosakata Jawa
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah contoh kosakata Jawa dalam bahasa Indonesia, bahasa Jawa ngoko, dan bahasa krama inggil yang bisa dipahami.
Saya (bahasa Indonesia) = kulo (bahasa Jawa ngoko) = dalem (bahasa krama inggil)
Kamu (bahasa Indonesia) = kowe (bahasa Jawa ngoko) = panjenengan (bahasa krama inggil)
Dia (bahasa Indonesia) = deweke (bahasa Jawa ngoko) = piyambakipun (bahasa krama inggil)
Kami (bahasa Indonesia) = awakedhewe (bahasa Jawa ngoko) = kito (bahasa krama inggil)
Laki-laki (bahasa Indonesia) = lanang (bahasa Jawa ngoko) = kakong (bahasa krama inggil)
Perempuan (bahasa Indonesia) = wedhok/wadhon (bahasa Jawa ngoko) = estri (bahasa krama inggil)
Apa (bahasa Indonesia) = opo (bahasa Jawa ngoko) = menopo (bahasa krama inggil)
Kapan (bahasa Indonesia) = kapan (bahasa Jawa ngoko) = kapan (bahasa krama inggil)
Siapa (bahasa Indonesia) = sopo (bahasa Jawa ngoko) = sinten (bahasa krama inggil)
Mengapa (bahasa Indonesia) = ngopo (bahasa Jawa ngoko) = kadhosmenopo (bahasa krama inggil)
Bagaimana (bahasa Indonesia) = piye (bahasa Jawa ngoko) = kadhospundi (bahasa krama inggil)
Yang mana (bahasa Indonesia) = singendhi (bahasa Jawa ngoko) = ingkangpundhi (bahasa krama inggil)
Berapa (bahasa Indonesia) = piro (bahasa Jawa ngoko) = pinten (bahasa krama inggil)
Ayah (bahasa Indonesia) = rama (bahasa Jawa ngoko) = romo (bahasa krama inggil)
Ibu (bahasa Indonesia) = ibu (bahasa Jawa ngoko) = ibu (bahasa krama inggil)
Anak (bahasa Indonesia) = lare/putra (bahasa Jawa ngoko) = putro (bahasa krama inggil)
Pagi (bahasa Indonesia) = esuk (bahasa Jawa ngoko) = enjing-injing (bahasa krama inggil)
Siang (bahasa Indonesia) = awan (bahasa Jawa ngoko) = siang (bahasa krama inggil)
Malam (bahasa Indonesia) = bengi (bahasa Jawa ngoko) = dalu/ndalu (bahasa krama inggil)
Terima kasih (bahasa Indonesia) = muwun (bahasa Jawa ngoko) = maturnuwun (bahasa krama inggil)
(ULY & SFR)
Frequently Asked Question Section
Apa itu bahasa krama inggil?

Apa itu bahasa krama inggil?
Masyarakat Jawa mengenal tata bahasa krama inggil, yaitu bahasa Jawa halus yang digunakan sebagai bentuk sopan santun dan untuk menghormati lawan bicara.
Kapan bahasa Jawa halus digunakan?

Kapan bahasa Jawa halus digunakan?
Ada tiga kondisi kapan Bahasa Jawa halus ini digunakan, yaitu penggunaan bahasa Jawa halus di situasi formal, diucapkan kepada orang yang lebih tua, dan diucapkan kepada orang yang status sosialnya lebih tinggi.
Apa itu bahasa krama lugu?

Apa itu bahasa krama lugu?
Tingkat tutur krama ialah tingkatan yang lebih tinggi dari ngoko. Basa krama mencerminkan rasa penuh sopan santun. Tingkat tutur ini menandakan adanya perasaan segan seseorang terhadap lawan bicara.
