Konten dari Pengguna

Begini Penulisan Isra Miraj yang Tepat Berdasarkan KBBI

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulisan Isra Miraj yang Tepat Berdasarkan KBBI. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Penulisan Isra Miraj yang Tepat Berdasarkan KBBI. Foto: Unsplash

Penulisan Isra Miraj sering ditemukan berbeda-beda. Tulisan yang paling umum dijumpai adalah "Isra Miraj", tapi kadang ada yang menambahkan apostrophe atau koma atas (') sehingga menjadi "Isra' Mi'raj". Sebagian yang lain menulis "Isra Mikraj". Lantas, manakah penulisan yang benar?

Pada intinya, semua penulisan di atas merujuk pada satu peristiwa penting dalam Islam. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 27 Rajab, ketika Allah SWT memperjalankan Rasulullah SAWdari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu diangkat ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh.

Meski maksudnya sama, tapi penulisan Isra Miraj tetap harus disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar. Kaidah-kaidahnya telah dirincikan para ahli bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Penulisan Isra Miraj Berdasarkan KBBI

Penulisan Isra Miraj Berdasarkan KBBI. Foto: Pexels

Menuliskan kosakata bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia memang sering diwarnai perbedaan. Dalam bahasa Arab, Isra Miraj ditulis الإسراء والمعراج yang bacanya al-'Isra' wal-Mi'raj. Inilah mengapa sebagian orang kerap menambahkan simbol koma (') atas dalam penulisan Isra Miraj.

Namun, jika Anda mencari definisi "Isra' Mi'raj" di dalam KBBI, mesin pencari tidak akan memunculkan data apa pun. Itu artinya, penulisan tersebut tidak sesuai dengan ketentuan bahasa baku KBBI.

Begitupun jika Anda mencari definisi "Isra Miraj" di KBBI. Meskipun penulisan ini umum digunakan banyak orang, tapi rupanya bukan termasuk bahasa baku.

Adapun penulisan Isra Miraj yang sesuai ketentuan KBBI adalah "Isra Mikraj". Dalam KBBI edisi VI, terdapat definisi Isra Mikraj, yakni peristiwa perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, langsung ke Sidratul Muntaha (di langit ketujuh) pada malam hari yang menghasilkan perintah salat lima waktu.

Jadi, jika Anda hendak menuliskan Isra Miraj di dalam surat, spanduk acara keagamaan, atau apa pun yang sifatnya resmi, sebaiknya gunakan tulisan "Isra Mikraj" yang sudah distandarisasi baku.

Sekilas tentang Isra Mikraj

Penulisan Isra Miraj Berdasarkan KBBI. Foto: Pexels

Sudah sedikit dijelaskan di atas bahwa dalam bahasa Arab, Isra Mikraj disebut al-'Isra' wal-Mi'raj. Jika diartikan secara harfiah, sebenarnya terdapat kata penghubung "dan" di tengah keduanya, sehingga menjadi "Isra dan Mikraj".

Namun, dalam penyerapannya ke dalam bahasa Indonesia, kata "dan" dihilangkan agar lebih sederhana. Meski begitu, harus dipahami bahwa Isra dan Mikraj merupakan dua peristiwa yang berbeda, walaupun masih serangkaian.

Secara harfiah, Isra berarti perjalanan di malam hari. Istilah ini merujuk pada perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina.

Adapun Mikraj berarti anak tangga yang dipakai untuk naik. Makna ini menjelaskan peristiwa ketika Rasulullah saw diangkat atau naik ke Sidratul Muntaha yang letaknya di langit ketujuh.

Kisah Isra dan Mikraj dijelaskan Allah SWT dalam dua surat yang berbeda di dalam Al-Quran. Perjalanan Isra ada dalam surat Al-Isra ayat 1:

"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."

Sedangkan kisah perjalanan Mikraj dijelaskan dalam surat An-Najm ayat 13-18.

"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."

Syofyan Hadi dalam bukunya yang berjudul Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw menjelaskan bahwa perbedaan letak kisah keduanya di dalam Al-Quran mengisyaratkan perbedaan tujuan Isra dan Mikraj. Meski begitu, substansi tujuan keduanya tetap sama, yakni untuk memperlihatkan tanda kebesaran Allah SWT di langit dan di bumi.

Perjalanan Isra menegaskan kebesaran Allah SWT di muka bumi. Tidak ada satu pun penduduk bumi yang dapat mengalami Isra jika bukan atas izin Allah SWT. Dalam hal ini, Rasulullah SAW menjadi satu-satunya yang merasakan mukjizat tersebut.

Sementara Mikraj adalah perjalanan yang tidak satu pun penduduk langit bisa melakukannya. Malaikat Jibril bahkan hanya mampu mengantar Rasulullah SAW sampai di Sidratul Muntaha. Selanjutnya, Rasulullah melakukan perjalanan sendirian menuju tempat yang hanya diketahui dirinya dan Allah SWT.

Baca Juga: Bolehkah Puasa Saat Isra Miraj? Ini Hukumnya dalam Islam

(DEL)