Konten dari Pengguna

Berapa Minimal Waktu Istirahat/Evaluasi Ulang Bagi Nakes yang Terdiagnosis TBC?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi layanan BPJS Kesehatan di rumah sakit. Foto: BPJS Kesehatan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi layanan BPJS Kesehatan di rumah sakit. Foto: BPJS Kesehatan

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyebar ke organ lain seperti ginjal, tulang belakang, dan otak jika tidak ditangani dengan tepat.

Karena sifatnya yang menular, TBC tentu dapat menyerang siapa saja, termasuk tenaga kesehatan di lingkungan pelayanan medis. Nakes yang terdiagnosa TBC tentu membutuhkan waktu pengobatan dan pemulihan yang tidak singkat hingga kondisi tubuh benar-benar stabil.

Setelah melewati fase penyembuhan awal, penderita TBC juga dianjurkan menjalani masa istirahat sebelum kembali beraktivitas. Ini bertujuan untuk memastikan proses penyembuhan berlangsung optimal.

Lantas, berapa lama minimal waktu istirahat atau evaluasi ulang bagi tenaga kesehatan dengan TBC positif sebelum dinyatakan layak bekerja kembali? Berikut informasi selengkapnya.

Berapa Lama Minimal Waktu Istirahat/Evaluasi Ulang yang Direkomendasikan Bagi Nakes yang Terdiagnosis TBC Positif?

Ilustrasi Dokter. Foto: Mix and Match Studio/Shutterstock

Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2022 susunan WHO, kasus TBC banyak terjadi pada usia produktif, terutama 25–34 tahun. Di Indonesia, kasus tertinggi justru ditemukan pada usia 45–54 tahun yang masih aktif bekerja.

Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan, pengobatan TBC harus dijalani sampai tuntas agar bakteri benar-benar hilang. Durasi pengobatannya relatif panjang, minimal 6–9 bulan.

Lama pengobatan bisa berbeda-beda pada setiap pasien, tergantung usia, kondisi kesehatan, jenis TBC, dan respons tubuh terhadap obat. Selain itu, lokasi infeksi di tubuh juga memengaruhi proses penyembuhan.

Ilustrasi Dokter. Foto: Shutterstock

Setelah menjalani pengobatan intensif, pasien TBC tidak serta-merta dapat langsung kembali bekerja. Mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, tenaga kesehatan yang terdiagnosis TBC umumnya perlu menjalani masa istirahat minimal sekitar 2 bulan sebelum kembali bertugas.

Selama periode tersebut, penilaian dilakukan berdasarkan gejala klinis, kondisi fisik, serta hasil pemeriksaan. Oleh karena itu, bagi penderita TBC yang masih aktif bekerja, disarankan untuk mengambil izin atau cuti istirahat selama kurang lebih 8 minggu.

Pasien dapat kembali dievaluasi kelaikan kerjanya dengan catatan gejala sudah membaik, hasil pemeriksaan dahak menunjukkan perbaikan atau negatif, serta tidak lagi berisiko menularkan penyakit.

Cara Pencegahan TBC

Ilustrasi Nakes. Foto: PeopleImages/Shutterstock

Untuk mencegah terjadinya TBC, salah satu langkah penting adalah melakukan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia 2 bulan.

Selain itu, ada beberapa upaya lain yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan TBC. Dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, berikut di antaranya:

  • Menggunakan masker saat berada di tempat ramai atau ketika berinteraksi dengan penderita TBC, serta rutin mencuci tangan.

  • Menutup mulut saat bersin, batuk, atau tertawa, sebaiknya menggunakan tisu. Tisu yang telah digunakan dimasukkan ke dalam plastik, lalu dibuang ke tempat sampah.

  • Tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.

  • Memastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik, misalnya dengan rutin membuka pintu dan jendela agar udara segar serta sinar matahari dapat masuk.

  • Tidak tidur sekamar dengan orang lain hingga dokter menyatakan TBC yang diderita sudah tidak menular.

  • Khusus bagi penderita TBC, disarankan untuk selalu menggunakan masker saat berada di sekitar orang lain, terutama selama tiga minggu pertama pengobatan.

Baca Juga: Mengenal TBC, Pengobatan hingga Penularannya

(ANB)