Bibit Siklon Tropis 98W Dideteksi di Laut Cina, Apa Dampaknya?

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BMKG baru saja merilis pernyataan mengenai pembentukan bibit siklon tropis 98W di wilayah monitoring Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC). BMKG lewat TCWC memang selalu memantau setiap kejadian siklon tropis yang meliputi tempat tumbuh, pergerakan, dan kekuatannya.
Perlu dipahami bahwa bibit siklon tropis 98W merupakan salah satu faktor yang dapat memberikan dampak cuaca dan perairan apabila berkembang menjadi siklon tropis.
Lantas, apa itu bibit siklon tropis 98W dan bagaimana dampaknya? Simak ulasan berikut untuk mengetahui informasi lengkapnya.
Memahami Bibit Siklon Tropis 98W
Melalui Instagram resminya, BMKG mengumumkan adanya pembentukan bibit siklon tropis 98W di wilayah monitoring TCWC Jakarta pada 10 September 2026 pukul 13.00 WIB. Saat ini, posisi bibit siklon tropis 98W berada di Laut Cina Selatan, timur Vietnam.
Bibit siklon tropis 98W adalah cikal bakal siklon tropis, yakni badai berkekuatan besar yang terbentuk di atas lautan. Namun, BMKG memprediksi bahwa kecil peluang bibit siklon tersebut berkembang menjadi siklon tropis.
Bibit siklon tropis 98W diperkirakan akan bergerak ke arah barat laut-utara dalam periode 24 jam ke depan. Dampaknya terhadap perairan Indonesia pun akan terjadi secara tidak langsung, yakni berupa gelombang laut setinggi 1.25 - 2.5 meter (Moderate Sea) di Laut Natunan Utara.
Meski begitu, masyarakat dan pelaku aktivitas kelautan di wilayah terdampak diimbau tetap waspada terhadap potensi gelombang yang tinggi.
Penyebab Terjadinya Siklon Tropis
Terjadinya siklon tropis disebabkan oleh beberapa faktor. Mengutip dari laman resmi BMKG, berikut syarat-syarat terbentuknya siklon tropis.
Suhu permukaan laut sekurang-kurangnya 26.5 C hingga ke kedalaman 60 meter.
Kondisi atmosfer tidak stabil yang memungkinkan terbentuknya awan Cumulonimbus atau awan guntur. Keberadaan awan tersebut merupakan penanda wilayah konvektif kuat dan penting dalam perkembangan siklon tropis.
Atmosfer yang relatif lembap di ketinggian sekitar 5 km. Ketinggian ini merupakan atmosfer paras menengah, yang apabila dalam keadaan kering tidak dapat mendukung bagi perkembangan aktivitas badai guntur di dalam siklon.
Berada pada jarak setidaknya sekitar 500 km dari khatulistiwa. Meskipun memungkinkan, siklon jarang terbentuk di dekat ekuator.
Gangguan atmosfer di dekat permukaan bumi, berupa angin yang berpusar disertai dengan pumpunan angin.
Perubahan kondisi angin terhadap ketinggian tidak terlalu besar. Jika terlalu besar, maka akan mengacaukan proses perkembangan badai guntur.
Siklus Hidup Siklon Tropis
Merujuk laman resmi BMKG, siklus hidup siklon tropis adalah sebagai berikut:
Tahap pembentukan
Tahap awal ini ditandai dengan adanya gangguan atmosfer. Jika dilihat dari citra satelit cuaca, gangguan ini ditandai dengan adanya awan-awan cumulonimbus (wilayah konvektif). Pusat sirkulasi sering kali belum terbentuk, namun terkadang sudah tampak pada ujung sabuk perawanan yang membentuk spiral.
Tahap belum Matang
Pada tahap ini, wilayah konvektif kuat membentuk sabuk perawanan melingkar (spiral) atau wilayah yang bentuknya relatif bulat. Intensitasnya meningkat secara simultan, ditandai dengan tekanan udara permukaan yang turun mencapai kurang dari 1000 mb, serta kecepatan angin maksimum yang meningkat hingga lebih dari 34 knot atau 63 km/jam (gale force wind).
Angin dengan kecepatan maksimum terkonsentrasi pada cincin yang mengelilingi pusat sirkulasi. Pusat sirkulasi pun terpantau jelas dan mulai tampak terbentuknya mata siklon.
Tahap Matang
Pada tahap matang, bentuk siklon tropis cenderung stabil. Tekanan udara minimum di pusat dan angin maksimum di sekelilingnya tidak banyak mengalami fluktuasi besar. Sirkulasi siklonik dan wilayah dengan gale force wind meluas. Citra satelit cuaca menunjukkan kondisi perawanan teratur dan lebih simetris.
Pada siklon tropis yang lebih kuat, dapat jelas terlihat adanya mata siklon. Fenomena ini ditandai dengan wilayah bersuhu paling hangat di tengah-tengah sistem perawanan dengan angin permukaan yang tenang. Selain itu, wilayahnya dikelilingi dinding perawanan konvektif tebal yang disebut sebagai dinding mata.
Jika siklon tropis berada di wilayah yang sangat mendukung perkembangannya, tahap matang biasanya hanya bertahan selama kurang lebih 24 jam sebelum intensitasnya mulai melemah.
Tahap Pelemahan
Pada tahap ini, pusat siklon yang hangat mulai menghilang, tekanan udara meningkat dan wilayah dengan kecepatan angin maksimum melebar menjauh dari pusat siklon. Tahap ini dapat terjadi dengan cepat jika siklon tropis melintas di wilayah yang tidak mendukung pertumbuhannya.
Dari citra satelit dapat terlihat jelas bahwa wilayah konvektif siklon tropis tersebut berkurang, dan sabuk perawanan perlahan menghilang. Waktu rata-rata yang dibutuhkan sebuah siklon tropis dari mulai tumbuh hingga punah adalah sekitar 7 hari. Namun, variasinya kadang bisa mencapai 1 hingga 30 hari.
Baca juga: Apa Itu Bibit Siklon Tropis 91s? Ini Penjelasannya Menurut BMKG
(MFT)
