Konten dari Pengguna

Cap Go Meh Merayakan Apa? Ini Penjelasan dan Sejarahnya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Cap Go Meh merayakan apa. Foto: Pic Kaca/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Cap Go Meh merayakan apa. Foto: Pic Kaca/Unsplash

Setelah perayaan Tahun Baru Imlek, masyarakat Tionghoa akan memperingati Cap Go Meh. Perayaan ini digelar pada malam ke-15 bulan pertama dalam kalender China.

Cap Go Meh identik dengan berbagai tradisi dan upacara yang sarat makna. Perayaan ini biasanya diawali dengan doa bersama di vihara atau klenteng, lalu dilanjutkan dengan iringan musik tradisional seperti kenong dan simbal.

Suasana semakin meriah dengan pertunjukan barongsai yang menjadi daya tarik utama. Dengan ragam kemeriahan tradisi tersebut, sebenarnya Cap Go Meh merayakan apa? Yuk, simak pembahasannya di sini!

Cap Go Meh Merayakan Apa?

Ilustrasi Cap Go Meh merayakan apa. Foto: Jason Leung/Unsplash

Mengutip Ozip Magazine, istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Tiociu atau Hokkien, yakni "Cap Go" yang berarti lima belas dan "Meh" yang berarti malam. Secara harfiah, Cap Go Meh dimaknai sebagai malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek.

Sebagaimana diketahui, Tahun Baru Imlek dirayakan selama dua minggu penuh, dimulai pada hari pertama bulan pertama kalender China dan berakhir pada hari ke-15. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa Cap Go Meh merupakan penutup rangkaian perayaan Imlek sekaligus menjadi puncak kemeriahannya.

Tradisi Cap Go Meh tidak hanya dirayakan di Indonesia. Di berbagai negara, perayaan serupa dikenal dengan sebutan Festival Lentera. Perayaan ini identik dengan lampion dan doa harapan baik untuk tahun yang baru.

Lebih dari sekadar perayaan, Cap Go Meh juga dipandang sebagai momen berbagi kebahagiaan. Dalam jurnal berjudul Peranan Paguyuban Tionghoa Purbalingga dalam Pelestarian Tradisi Cap Go Meh oleh Rina Fitriyani, disebutkan bahwa perayaan ini menjadi sarana mempererat kebersamaan dan solidaritas sosial.

Nilai tersebut selaras dengan delapan kebajikan dalam tradisi Tionghoa, yakni kesetiaan, integritas, kesopanan, kebenaran moral, kehormatan, bakti, kebajikan, dan kasih sayang.

Baca Juga: 5 Makanan Khas Cap Go Meh yang Biasa Disajikan Saat Kumpul Bersama Keluarga

Sejarah Cap Go Meh

Ilustrasi Cap Go Meh. Foto: Ellico Hasatu/Unsplash

Menurut laman Chinese Language Institute, terdapat dua versi legenda yang menjelaskan sejarah Cap Go Meh, yakni kisah Kaisar Ming dan Kaisar Jade. Berikut kisah lengkapnya:

Versi 1

Cerita pertama menyebutkan bahwa perayaan ini bermula pada masa pemerintahan Kaisar Ming dari Han yang dikenal mendukung ajaran Buddha. Menurut kisah tersebut, Kaisar Ming memerintahkan penyalaan lentera di istana pada malam ke-15 bulan pertama kalender lunar.

Hal ini terjadi setelah ia mengetahui para biksu Buddha menyalakan lentera sebagai bentuk penghormatan. Tradisi ini kemudian meluas di kalngan masyarakat dan berkembang menjadi Festival Lentera.

Versi 2

Sementara itu, versi lain berkaitan dengan sosok Kaisar Jade dalam mitologi Tionghoa. Dikisahkan, ia memiliki seekor burung bangau peliharaan yang tanpa sengaja dibunuh oleh warga desa.

Merasa murka, Kaisar Jade berencana membakar seluruh desa sebagai bentuk balas dendam. Namun, putrinya diam-diam memperingatkan warga tentang rencana tersebut.

Untuk menyelamatkan diri, warga menyalakan lentera merah dan kembang api agar desa tampak seolah-olah sudah terbakar. Upaya itu berhasil mengelabui Kaisar Jade.

Sejak saat itu, tradisi menyalakan lentera dan kembang api dipercaya menjadi cikal bakal perayaan yang akan diperingati setiap tahun.

(NSF)