Contoh Cerita Reflektif Merancang Pembelajaran Berdiferensiasi

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerita reflektif merancang pembelajaran berdiferensiasi menjadi salah satu output penting saat guru menerapkan metode berdiferensiasi kepada peserta didik. Dari cerita ini, guru dapat mengetahui apakah rancangannya bisa dimplementasikan dan mencapai tujuan pembelajaran atau tidak.
Dengan pembelajaran berdiferensiasi, guru diharapakan mampu mengakomodasi kebutuhan, minat, dan kemampuan belajar siswa. Untuk penjelasan selengkapnya, simak artikel di bawah ini.
Apa Itu Pembelajaran Berdiferensiasi?
Dikutip dari laman Balai Guru Penggerak Sumatera Selatan, pembelajaran berdiferensiasi merupakan metode pengajaran untuk memenuhi kebutuhan individual setiap siswa sesuai dengan kebutuhannya. Siswa diberikan pilihan yang bervariasi dalam hal materi pembelajaran, metode pengajaran, dan penilaian.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan metode yang dirancang untuk mengatasi perbedaan gaya belajar, tingkat kemampuan, dan minat siswa, sehingga setiap individu dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya.
Selain itu, dalam Journal on Education Volume 06, No. 03, Maret-April 2024, disebutkan bahwa model pembelajaran ini dapat membuat peserta didik tidak merasa frustrasi atau gagal dalam proses pembelajaran.
Dalam pembelajaran berdiferensiasi, ada tiga aspek utama yang perlu dipertimbangkan oleh guru, yaitu konten, proses, dan asesmen. Tiga aspek inilah yang akan membuat peserta didik mampu memahami materi pelajaran dengan baik.
Tahapan Pembelajaran Berdiferensiasi
Mengutip dari buku Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi, Jenri Ambarita, M.Pd., ada beberapa tahapan dan juga strategi untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka, yaitu:
Kenali Siswa: Anda bisa menggunakan instrumen seperti observasi, dan angket minat untuk mengumpulkan data tentang tingkat pemahaman, gaya belajar, dan minat siswa.
Tentukan Tujuan Pembelajaran yang Jelas: Tujuan ini harus mencakup keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang ingin dikembangkan.
Diferensiasi Konten: Sesuaikan tingkat kesulitan materi sesuai dengan kemampuan siswa adalah kunci dari diferensiasi konten.
Diferensiasi Proses: Sangat penting untuk memberikan variasi dalam metode pembelajaran, seperti diskusi kelompok, proyek individu, dan pembelajaran mandiri.
Evaluasi yang Beragam: Gunakan berbagai instrumen evaluasi seperti tes, proyek, dan portofolio untuk menilai kemajuan siswa.
Contoh Cerita Reflektif Merancang Pembelajaran Berdiferensiasi
Pada bagian terakhir pembelajaran berdiferensiasi, guru juga harus membuat cerita refleksi. Tujuannya untuk mengetahui proses secara keseluruhan dan juga seberapa optimal hasil metode tersebut ketika diimplementasikan.
Berikut ini adalah contoh cerita reflektif merancang pembelajaran berdiferensiasi yang bisa dijadikan referensi yang dikutip dari Jurnal PPG Daljab 2024, Ragil Tri Sujatmiko. Sebagai catatan, cerita reflektif minimal harus diisi sebanyak 50 karakter.
Sebelum saya melaksanakan pembelajaran, saya melakukan asesmen awal untuk mengetahui profil siswa secara detail. Hal ini akan mencakup minat belajar, gaya belajar, dan kemampuan awal. Setelah mengetahui data tersebut, saya dapat melakukan diferensiasi konten dan proses untuk disesuiakan dengan keberagaman peserta didik atau siswa. Terakhir, saya mengevaluasi sekaligus penilaian pembelajaran yang sudah diterapkan kepada peserta didik.
Baca Juga: Mengintegrasikan Soft Skill Dalam Kurikulum : Tanggung Jawab Guru Di Era Global
(SFN)
