Contoh Jumlah Ismiyah dalam Kalimat, Lengkap dengan Penjelasannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam istilah bahasa Arab, jumlah ismiyah adalah pola kalimat yang diawali dengan isim atau kata benda. Subjek dari jumlah ismiyah disebut mubtada, sedangkan predikatnya disebut khabar. Lantas, apa saja contoh jumlah ismiyah dalam kalimat?
Sebelum membahas mengenai contoh jumlah ismiyah, perlu dipahami terlebih dahulu apa itu mubtada dan khabar. Mubtada dan khabar merupakan kata-kata yang menyusun kalimat sehingga mengandung arti atau faedah.
Dikutip dari Metode Cepat Membaca Kitab Kuning Ulul Albab oleh Ahmad Rifa'i (2022: 49-50), mubtada adalah kata benda yang terdapat di awal kalimat dan berfungsi sebagai subjek. Sementara khabar adalah kata yang terletak setelah mubtada dan berfungsi sebagai predikat.
Mubtada dapat berupa isim dzahir (nama benda, nama orang, dan lain-lain) hingga isim dhomir (kata ganti). Sedangkan khabar dapat berupa salah satu dari kata benda, kata sifat, kata keterangan tempat, atau kata kerja.
Contoh Jumlah Ismiyah
Ada banyak contoh kalimat berpola jumlah ismiyah. Dirangkum dari Mudah Belajar Tata Bahasa Arab oleh Nuril Mu'jizah (2022: 130-135), berikut contoh jumlah ismiyah berdasarkan isim yang mengawali kalimat.
1. Contoh Jumlah Ismiyah dengan Isim Isyarah
Isim isyarah adalah kata penghubung yang digunakan untuk menunjuk sesuatu seperti ini dan itu. Jika mubtada berupa isim isyarah (kata tunjuk) dan khabar berupa kata benda, maka khabar harus menyesuaikan dengan mubtada. Contohnya:
هذَا كِتَابٌ
Artinya: Ini kitab.
تِلْكَ مَدْرَسَةٌ
Artinya: Itu masjid.
هَذِهِ مُوَظَّفَةٌ
Artinya: Ini pegawai (perempuan).
2. Contoh Jumlah Ismiyah dengan Isim Dhomir
Isim dhomir adalah kata yang digunakan untuk menyebut sesuatu sebagai kata pengganti. Jika mubtada berupa isim dhomir (kata ganti) dan khabar berupa kata benda, maka khabar harus menyesuaikan mubtada. Contohnya:
أَنَا طَالِبٌ
Artinya: Saya seorang murid.
هُوَ طَالِبٌ
Artinya: Dia seorang murid.
أَنَا وَلَدٌ
Artinya: Saya anak laki-laki.
أَنَا بِنْتٌ
Artinya: Saya anak perempuan.
Sementara jika mubtada berupa isim dhomir dan khabar berupa kata kerja, maka khabar harus menyesuaikan dengan mubtada. Contohnya:
أَنَا أَتَعَلَّمُ
Artinya: Saya belajar.
قَاسِم يَدْرُسُ
Artinya: Qasim belajar.
3. Contoh Jumlah Ismiyah dengan Isim Dzahir
Jika mubtada berupa isim dzahir dan khabar berupa kata sifat, maka khabar harus menyesuaikan mubtada. Contohnya:
الطَّالِبُ ذَكِيٌّ
Artinya: Murid itu cerdas.
جَمِيْلٌ الْبَابُ
Artinya: Pintu itu bagus.
جَدِيْدَةٌ الْمَدْرَسَةُ
Artinya: Sekolah itu baru.
Jika khabar berupa kata keterangan tempat, maka khabar tidak perlu menyesuaikan mubtada. Bentuknya selalu sama walaupun ada perbedaan subjek. Contohnya:
الطَّالِبُ فِي المَدْرَسَةِ
Artinya: Murid itu di sekolah.
الصَّالِبَةُ في المكْتَبَةِ
Artinya: Murid itu di perpustakaan.
4. Contoh Jumlah Ismiyah dengan Isim Alam
Isim alam adalah bentuk kata yang objek pembicaraannya telah ditentukan dalam bahasa Arab. Isim ini dapat menunjukkan nama benda, tempat, hewan, dan manusia. Misalnya, kata مُحَمَّدٌ (Muhammad).
Jika mubtada berupa isim alam dan khabar berupa kata sifat, maka khabar harus menyesuaikan mubtada. Contohnya:
مُحَمَّدٌ ذَكِيٌّ
Artinya: Muhammad itu cerdas.
Baca Juga: Isim Istifham: Arti, Kaidah Penggunaan, dan Contohnya dalam Alquran
(SFR)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan jumlah ismiyah?

Apa yang dimaksud dengan jumlah ismiyah?
Jumlah ismiyah adalah pola kalimat yang diawali dengan isim atau kata benda.
Apa itu mubtada?

Apa itu mubtada?
Mubtada adalah kata benda yang terdapat di awal kalimat dan berfungsi sebagai subjek.
Apa yang dimaksud dengan isim isyarah?

Apa yang dimaksud dengan isim isyarah?
Isim isyarah adalah kata penghubung yang digunakan untuk menunjuk sesuatu seperti ini dan itu.
