Konten dari Pengguna

Contoh Karya Ilmiah Singkat untuk Dijadikan Referensi yang Baik

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 7 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh karya ilmiah. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh karya ilmiah. Foto: Shutter Stock

Contoh karya ilmiah dapat dijadikan referensi untuk membuat suatu tulisan yang berlandaskan fakta. Namun, sebelum mengetahui contohnya, pahami dulu apa yang dimaksud dengan karya ilmiah.

Mengutip buku Penulisan Karya Ilmiah oleh Safaruddin, M.Pd. dkk., karya ilmiah adalah laporan tertulis yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian tentang topik tertentu yang dilakukan dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan.

Karya ilmiah bertujuan untuk menyajikan informasi berdasarkan fakta yang akurat. Karena itu, karya ilmiah sebaiknya ditulis secara sistematis, logis, dan didukung oleh data yang teruji kebenarannya.

Lalu, apa ciri-ciri karya tulis ilmiah yang dapat membedakannya dengan jenis tulisan lain? Berikut beberapa karakteristik yang dimiliki karya ilmiah:

  • Ditulis secara sistematis, sehingga antara topik dan sub-topik saling berkaitan dan mengacu pada topik utama.

  • Ditulis berdasarkan penalaran yang logis sehingga apa yang ditulis sesuai dengan akal sehat.

  • Tulisan didukung oleh data yang objektif, yakni data yang teruji kebenarannya secara empiris.

  • Objektif, artinya ditulis atau dibukukan untuk individu atau kelompok-kelompok tertentu.

  • Argumentasi teori yang benar, sahih, dan relevan.

  • Mengaitkan argumentasi empirik dengan argumentasi teoritis.

Baca juga: Contoh Kajian Pustaka dalam Karya Ilmiah

Apa Sajakah Bentuk-Bentuk Karya Ilmiah?

Ilustrasi menulis esai. Foto: Nicoleta Ionescu/Shutterstock

Mengutip buku Teknik Penulisan Karya Tulis Ilmiah; Panduan Praktis untuk Dosen, guru, dan Mahasiswa oleh Khairul Azan dan Nizamuddin, secara umum, karya ilmiah terbagi menjadi tiga jenis. Apa saja?

1. Karya Ilmiah Populer

Ini adalah karya ilmiah yang ditulis secara ringkas dan sederhana. Bahasa yang digunakan pun bersifat santai dan umum dengan tetap memperhatikan EYD yang baik dan benar.

Karya ilmiah populer biasanya disajikan di berbagai media online seperti Twitter, Instagram, dan sebagain. Topik yang diangkat up to date dan menyenangkan serta mudah dipahami semua kalangan pembaca. Apa saja karya tulis ilmiah populer? Contohnya antara lain artikel, esai, dan feature.

2. Karya Ilmiah Semi Formal

Karya ilmiah ini disampaikan dengan bahasa formal tapi lebih sederhana. Karya ilmiah semi formal umumnya disajikan dalam bentuk laporan dan makalah.

Bagian dalamnya terdiri dari halaman judul, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, pembahasan, kesimpulan dan saran, serta daftar pustaka.

3. Karya Ilmiah Formal

Ini merupakan karya ilmiah yang disusun dengan memenuhi unsur-unsur kelengkapan sesuai dengan pedoman akademis. Contoh karya ilmiah formal antara lain skripsi, tesis, dan disertasi.

Penulisan karya ilmiah formal tidak bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan kemampuan menulis yang baik dan bimbingan dari pakar di bidang keilmuan bersangkutan agar penulis mampu menyelesaikan tulisan dengan baik.

Baca juga: Pengertian dan Contoh dari Karya Tulisan Ilmiah Artikel

Bagaimana Cara Membuat Karya Tulis Ilmiah?

Ilustrasi menulis karya ilmiah. Foto: plo/shutterstock

Mengutip buku Cara Praktis Penulisan Karya Ilmiah dalam Bahasa Indonesia tulisan Novi Indrastuti, langkah penting yang perlu disiapkan sebelum menulis karya ilmiah adalah menentukan topik. Apa itu topik dalam karya tulis ilmiah?

Topik dapat diartikan sebagai pokok pokok pembicaraan atau tema yang dibahas dalam sebuah karangan. Penulis dapat ditentukan sendiri oleh penulis. Bagaimanakah cara memilih topik untuk karya ilmiah?

1. Topik Harus Dikuasai oleh Penulis

Topik yang baik adalah topik yang dipahami dan dikuasai oleh penulis. Artinya, penulis harus mengetahui setidaknya beberapa prinsip atau konsep ilmu yang akan diteliti.

Berbekal pengetahuan tersebut, penulis dapat mencari data-data melalui kajian pustaka, observasi, dan sumber lainnya sehingga informasi yang akan disajikan lebih lengkap.

Misalnya, jika ingin membuat karya ilmiah tentang puisi, penulis setidaknya harus menguasai apa itu puisi, bagaimana langkah-langkah membuat puisi, dan sebagainya.

2. Topik Menarik bagi Penulis

Pemilihan topik yang menarik bagi penulis akan membuatnya termotivasi untuk mengembangkan dan menyelesaikan tulisannya dalam waktu singkat. Dengan begitu, aktivitas menulis menjadi ringan dan menyenangkan.

3. Topik Menarik bagi Pembaca

Tidak hanya menarik bagi penulis, topik juga harus menarik minat pembaca supaya mereka lebih bersemangat untuk membacanya. Sebagai contoh, penelitian tentang sesuatu yang mutakhir, aktual, dan kontekstual.

4. Topik Bermanfaat

Topik yang akan dibahas sebaiknya dapat memberikan informasi baru bagi pembaca. Jadi, setelah membaca karya ilmiah tersebut, pengetahuannya akan ilmu tertentu pun bisa bertambah.

Setelah topik ditentukan, langkah selanjutnya adalah memilih judul yang sesuai dengan topik. Judul harus dibuat sesingkat mungkin dan dinyatakan secara jelas dan lugas.

Baca juga: Contoh Landasan Teori dalam Penulisan Karya Ilmiah

Contoh Karya Ilmiah

Ilustrasi perempuan sedang menulis. Foto: Shutter Stock

Untuk bisa memahami karya tulis ilmiah seperti apa, simak contoh karya ilmiah berikut yang dikutip dari buku Bahasa Indonesia 1 oleh Sri Sutarni dan Drs. Sukardi:

1. Alfalfa Penghasil Klorofil Tertinggi

Alfalfa berasal dari Mediterania - Persia (Irak, Iran, Arab Saudi). Selanjutnya diintroduksi ke Yunani pada tahun 490 SM dan Amerika Serikat melalui Chile tahun 1860, kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia: Kanada, Australia, dan Thailand. Saat ini telah dibudidayakan di Indonesia khususnya di Jawa Tengah. Alfalfa berasal dari bahasa Arab "Al" dan "Fall" yang berarti bapak dari segala makanan, ciptaan dan karunia Allah. Nama ilmiahnya adalah Medicago sativa dengan beberapa nama umum: lucerne, la luzerne, buffalo, herb, purple medic, jatt, kaba, yonca, mielga, musu, sai pi li ka, dan yonja.

Alfalfa termasuk famili Leguminocede dan sub famili Papilionacene. la berumur panjang (pereniol), tumbuh tegak sebagai tanaman perdu, mempunyai sistem perakaran dalam (tahan terhadap kekeringan dan penggembalaan berat), dan mempunyai bunga majemuk. Perdu jenis ini mampu tumbuh di daerah iklim temperate, subtropik, maupun tropik. Tidak toleran terhadap genangan air atau tanah masam (dengan pH rendah). Responsif terhadap pemupukan terutama fosfor, sulfur, dan kalium. Alfalfa ternyata mempunyai kadar klorofil lebih tinggi jika dibanding Chlorela, Barley, atau Spirulina.

Klorofil atau zat hijau daun mempunyai struktur kimia menyerupai struktur penyusun haemoglobine dalam darah manusia. Perbedaannya pada atom sentral, yaitu Fe2- pada haemoglobine dan Mg" pada klorofil. Dalam tubuh manusia klorofil berfungsi sebagai: pembersih racun, penenang otak alami. dan pembentuk sel darah merah. Juga berperan dalam memperkuat sistem peredaran darah, memperbaiki sistem reproduksi, dan perawatan kesehatan kulit eksternal. Selain kadar klorofilnya tinggi, alfalfa juga mengandung senyawa yang sangat bermanfaat untuk kesehatan, yaitu: vitamin, mineral, asam amino, dan enzim.

Selain mempunyai manfaat sangat tinggi bagi kesehatan, alfalfa juga mengandung efek samping berupa:

1. kandungan stochydrine dan homostachydrine pada biji alfalfa berperan dalam meningkatkan kadar hormon estrogen sehingga dalam beberapa kasus dapat berakibat pada keguguran;

2. menimbulkan alergi berupa diare atau 'kaget' pada lambung terutama penderita lambung bermasalah;

3. menyebabkan poncytopenia yaitu gangguan darah akibat rusaknya platelet (zat yang berpengaruh pada proses penggumpalan darah dan pembentukan sel darah putih).

Oleh karena itu, sebaiknya berkonsultasi lebih dulu dengan dokter atau herbalis sebelum Anda mengonsumsi tanaman alfalfa.

Baca juga: Cara Membuat dan Contoh Bagan dalam Karya Ilmiah

2. Karakter Padi Merah Putih Belum Stabil

Padi merah putih atau padi dwiwarna yang kembali ditemukan beberapa waktu yang lalu diharapkan dapat memperkaya plasma nutfah padi di Indonesia dan bisa untuk dikembangkan dalam rangka mendukung ketersediaan pangan. Sebagai jenis padi yang baru ditemukan kembali, padi merah putih masih menunjukkan karakter yang belum stabil. sehingga masih dibutuhkan pengembangan demi peningkatan kualitasnya.

Dosen Jurusan Agronomi UMY, Ir. Titiek Widyastuti mengemukakan hal tersebut ketika menyampaikan hasil penelitian yang telah dilakukan beberapa waktu yang lalu di ruang kerjanya. Menurutnya, penelitian penanaman padi merah putih pada berbagai jenis tanah, dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan kesesuaian lahan untuk pengembangan lebih lanjut.

Titiek Widyastuti yang didampingi mahasiswa peneliti Siti Khoiriyah dan Yanuar Saputro mengatakan bahwa dengan tinggi tanaman yang dapat mencapai 160-200 cm dan umur berbunga 85-95 hari setelah tanam serta gabah yang mempunyai bulu panjang menunjukkan bahwa padi merah putih termasuk padi dalam dan karakternya mirip dengan padi kuno.

“Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa Padi merah putih masih menunjukkan sesuai dikembangkan di tanah regosol dan latosol, dengan karakter yang belum stabil. tinggi, jumlah anakan, jumlah daun, jumlah malai. jumlah gabah dan bobot gabah yang lebih banyak dibandingkan pada tanah rendzina. grumusol dan mediteran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disarankan bahwa untuk pengembangan padi merah putih agar lebih lanjut diprioritaskan di jenis tanah itu," ungkap Titiek.

Sementara Ketua Jurusan Agronomi UMY, Ir Agus Nugroho Setiawan, MP mengatakan pengembangan padi merah putih sebagai salah satu varietas lokal Indonesia terus dilakukan Fakultas Pertanian UMY. Setelah panen raya pada pertengahan bulan Agustus 2007 menghasilkan cukup banyak gabah padi merah putih, penelitian diarahkan pada pengujian adaptasi lingkungan. Sehingga sifat dan karakter genotipnya dapat diidentifikasi untuk mempermudah proses pengembangannya.

(ADS)

Baca juga: Contoh Landasan Teori dalam Penulisan Karya Ilmiah

Frequently Asked Question Section

Apa saja contoh karya ilmiah populer?
chevron-down

Antara lain artikel, esai, dan feature.

Karya tulis ilmiah itu seperti apa?
chevron-down

Karya ilmiah adalah laporan tertulis yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian tentang topik tertentu yang dilakukan dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan.

Jenis karya ilmiah ada berapa?
chevron-down

Karya ilmiah terbagi menjadi tiga jenis, yaitu karya ilmiah populer, semi formal, dan formal.