Contoh Khutbah Idul Adha Menyentuh Hati untuk Referensi Khatib

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 13 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Idul Adha merupakan hari besar umat Islam yang diperingati setiap 10 Dzulhijjah untuk mengenang ketaatan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT saat bersedia mengorbankan anaknya, Nabi Ismail. Selain identik dengan ibadah kurban, perayaan ini juga diisi dengan pelaksanaan salat Id dan khutbah.
Melalui khutbah tersebut, khatib biasanya akan menyampaikan pesan tentang keikhlasan, pengorbanan, serta kepatuhan kepada Allah SWT. Umat Islam juga diajak untuk meneladani sikap Nabi Ibrahim AS yang rela mematuhi semua perintah-Nya.
Bagi para khatib yang butuh referensi khutbah Idul Adha menyentuh hati, simak contoh lengkapnya berikut ini.
Contoh Khutbah Idul Adha Menyentuh Hati
Berikut adalah beberapa contoh khutbah Idul Adha menyentuh hati yang bisa dijadikan sebagai referensi.
Contoh Khutbah Idul Adha #1
Judul: Idul Adha dan Revolusi Hati: Dari Egoisme Menuju Keikhlasan
Sumber: Buku 55 Khutbah Dua Id dan Hari-Hari Besar Islam.
Khutbah I
الله أَكْبَرُ لا إله إلا الله الله أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ولله الحَمْد
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Ma'āsyiral muslimin rahimakumullāh,
Marilah kita mengucapkan Syukur keHadirat Allah SWT. Tuhan semesta Alam yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya. Sholawat serta salam marilah kita panjatkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Karena beliaulah yang telah membawa kita dari kegelapan menuju cahaya terang benderang Addinul Islam.
Dalam kesempatan ini, Khatib berwasiat kepada diri pribadi sendiri dan juga kepada jamaah sekalian agar tetap senantiasa memelihara serta meningkatkan Taqwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Pada hari raya yang agung ini, marilah kita kembali menyadari bahwa Idul Adha bukan hanya hari penyembelihan hewan kurban. la adalah hari penyembelihan penyakit hati, hari revolusi batin, hari di mana egoisme harus dipotong dan keikhlasan harus ditumbuhkan.
Idul Adha adalah momentum perubahan, bukan sekadar tradisi tahunan. Inilah hari untuk memperbarui janji kepada Allah bahwa kita siap menjadi hamba yang lebih bersih, lebih taat, dan lebih ikhlas. Setidaknya terdapat 4 hal utama yang dapat kita ulas di pagi hari ini, yaitu:
Yang Pertama, Idul Adha: Revolusi Hati dari Ego Menuju Ikhlas
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Perintah kurban berakar dari kisah pengorbanan Nabi Ibrāhīm dan Nabi Ismā'īl 'alayhimā as-salām. Dari kisah itu, kita belajar bahwa sebelum pisau menyentuh leher Ismā'īl, yang disembelih terlebih dahulu adalah ego dan nafsu manusia. Allah berfirman:
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلُوا الْمُبِينُ
"Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata." (QS. Aş-Şaffāt: 106)
Ibrāhīm mengorbankan ego ayah yang menyayangi anaknya. Ismā'il mengorbankan ego seorang anak yang ingin hidup bebas. Ketundukan total itulah yang melahirkan keikhlasan hakiki.
Yang Kedua, Hikmah Qurban Menurut Kitab Mu'tabarah
Para ulama menjelaskan bahwa inti kurban adalah menyembelih hawa nafsu. Dalam Ihya' 'Ulūm ad-Din, Imam al-Ghazālī menegaskan:
Kutipan 1- Ihya' 'Ulūm ad-Din
قَالَ الْغَزَالِيُّ: «لَيْسَ الْمَقْصُودُ إِرَاقَةَ الدَّمِ ، وَلَكِنَّ الْمَقْصُوْدَ كَسْرُ النَّفْسِ وَقَمْعُ الشَّهَوَاتِ»
Al-Ghazali berkata: "Yang menjadi tujuan bukanlah mengalirkan darah kurban, tetapi mematahkan nafsu dan menundukkan syahwat."
Artinya, kurban bukan ritual fisik semata, tetapi latihan spiritual untuk menurunkan kesombongan, menundukkan ego, dan meluruskan niat.
Dalam Tafsir al-Qurtubi dijelaskan pula:
Kutipan 2 - Tafsir al-Qurtubi
قَالَ الْقُرْطُبِيُّ : «إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ مِنَ الْعِبَادِ طَهَارَةَ قُلُوْبِهِمْ، لَا لُحُوْمَ أَنْعَامِهِمْ»
Al-Qurtubi berkata: "Yang Allah inginkan dari hamba-Nya adalah kebersihan hati mereka, bukan daging hewan mereka."
Oleh sebab itu, Allah menegaskan dalam Al-Qur'an:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
"Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darah kurban itu, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37)
Yang Ketiga, Tantangan Umat Islam Modern: Egoisme yang Menyamar
Jamaah rahimakumullāh,
Di era modern, egoisme tampil dalam banyak bentuk:
- kesibukan yang membuat kita lupa kepada Allah,
- ambisi dunia yang mengalahkan ibadah,
- kepedulian sosial yang makin menipis,
- budaya pamer (riya') di media sosial,
- keinginan selalu unggul dan tak ingin disalahkan,
- memikirkan diri sendiri tanpa peduli tetangga, dhuafa, dan yatim.
Idul Adha hadir sebagai obat untuk penyakit-penyakit ini. la hadir untuk berkata:
"Potonglah ego itu sebelum ia memotong hubunganmu dengan Allah."
Yang Keempat atau yang terakhir, Mengubah Kurban dari Ritual Menjadi Revolusi Hati
Untuk menjadikan kurban sebagai revolusi hati, umat Islam harus melakukan beberapa hal:
1. Mengikhlaskan niat hanya karena Allah.
Bukan karena gengsi, bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin disebut dermawan.
2. Menyembelih sifat tamak dan bakhil.
Kurban adalah latihan tahunan untuk memutus cinta dunia yang berlebihan.
3. Menguatkan sifat kasih sayang dan kepedulian.
Sebagian daging kurban diberikan kepada fakir miskin sebagai simbol penyucian harta dan hati.
4. Membangun ketakwaan dan kerendahan hati.
Kurban adalah pengingat bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah.
5. Menjadikan kurban sebagai titik balik akhlak.
Jika setelah Idul Adha akhlak kita tidak berubah, maka kurban kita belum menyentuh hati.
Khutbah II
الله أَكْبَرُ لا إله إلا الله الله أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ ولله الحَمْد
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Contoh Khutbah Idul Adha #2
Judul: Qurban sebagai Jalan Membersihkan Harta dan Menghapus Sifat Tamak
Khutbah I
الله أَكْبَرُ لا إله إلا الله الله أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ولله الحَمْد
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللهُ ، أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Marilah kita mengucapkan Syukur keHadirat Allah SWT. Tuhan semesta Alam yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya. Sholawat serta salam marilah kita panjatkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Karena beliaulah yang telah membawa kita dari kegelapan menuju cahaya terang benderang Addinul Islam.
Dalam kesempatan ini, Khatib berwasiat kepada diri pribadi sendiri dan juga kepada jamaah sekalian agar tetap senantiasa memelihara serta meningkatkan Taqwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan perintahNya serta menjauhi larangan-Nya.
Hari ini adalah hari penuh cahaya, hari ketika kita mengenang pengorbanan keluarga agung-Nabi Ibrahim 'alaihissalām, Nabi Ismail, dan Sayyidah Hajar. Hari Idul Adha bukan sekadar hari penyembelihan hewan qurban, tetapi hari untuk menyembelih hawa nafsu, menghapus tamak, serta mensucikan harta dan hati dari segala sifat buruk. Allah berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
"Daging dan darah hewan qurban itu tidak sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa hakikat qurban bukan pada dagingnya, tetapi pada pengorbanan hati yang disertai ketakwaan. Terdapat 4 poin penting mengenai Qurban ini, yaitu:
Yang Pertama, Qurban sebagai Penyuci Harta
Dalam ajaran Islam, harta tidak hanya menjadi alat hidup, tetapi juga ujian. Qurban mengajarkan bahwa sebagian dari apa yang kita miliki harus dikeluarkan demi Allah. Ketika kita mengeluarkan harta untuk qurban, kita sedang mencuci harta dari sifat tamak, bakhil, dan egoisme.
Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulùm ad-Din menjelaskan pentingnya menyembelih keserakahan dalam diri manusia:
قَالَ الْإِمَامُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: «وَإِنَّمَا يُغْلَبُ حُبُّ الدُّنْيَا بِبَذْلِهَا، فَمَنْ أَحَبَّ شَيْئًا فَلْيُضَحٌ مِنْهُ»
"Kecintaan pada dunia hanya bisa dikalahkan dengan cara mengeluarkannya (berinfak). Barang siapa mencintai suatu harta, maka hendaknya ia berkorban darinya.” Pengorbanan inilah yang membebaskan hati dari kerakusan yang menghancurkan.
Yang Kedua, Qurban sebagai Penghapus Sifat Tamak
Sifat tamak adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. la membuat seseorang tidak pernah puas, rakus, dan cenderung menghalalkan segala cara demi harta. Dengan qurban, kita belajar mengikis tamak dan menggantinya dengan kerelaan, kepedulian, dan cinta kepada sesama.
Imam al-Haddad dalam An-Naşā'ih ad-Diniyyah mengatakan:
قَالَ الْإِمَامُ الْحَدَّادُ رَحِمَهُ اللهُ: «إِذَا أَرَدْتَ صَلَاحَ قَلْبِكَ فَاعْتَدْ عَلَى بَذْلِ الْمَالِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَإِنَّ الْبُخْلَ وَالطَّمَعَ أَدْوَاءٌ تُفْسِدُ الْقُلُوبَ»
"Jika engkau menginginkan kebaikan hatimu, biasakanlah mengeluarkan harta di jalan Allah, karena bakhil dan tamak adalah penyakit yang merusak hati." Maka qurban bukan ritual biasa; ia adalah terapi batin untuk memperbaiki penyakit hati kita.
Yang Ketiga, Menghidupkan Jiwa Dermawan dan Kepedulian Sosial
Qurban mengajak kita berbagi dengan mereka yang membutuhkan tetangga, fakir miskin, dan masyarakat luas. Daging qurban menjadi simbol bahwa kebahagiaan sejati terjadi ketika manusia berbagi dan meringankan beban orang lain. Qurban memelihara solidaritas, mempererat hubungan, dan menjadikan umat Islam semakin kuat sebagai satu tubuh.
Yang Keempat atau yang terakhir, Meneladani Keluarga Ibrahim yang Mengorbankan Segalanya
Nabi Ibrahim mengorbankan rasa cintanya kepada putra semata wayang. Nabi Ismail mengorbankan jiwanya. Ibu Hajar mengorbankan rasa takut dan kesendiriannya di padang tandus. Mereka sekeluarga mengajarkan bahwa pengorbanan adalah puncak iman. Jika mereka mampu mengorbankan yang paling mahal dalam hidupnya, mengapa kita tidak mampu mengorbankan sedikit harta demi Allah?
Khutbah II
الله أَكبَرُ لا إله إلا الله الله أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ ولله الحَمْد
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ . وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ
Contoh Khutbah Idul Adha #3
Judul: Ibadah Qurban dan Kepedulian Sosial
Sumber: Laman Majelis Ulama Indonesia (MUI) Digital
Khutbah I
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّضْحِيَّةِ. وَبَلَّغَنَا إِلَى شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ.
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِالنَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ الْمَنَّانِ، اَلْقَائِلِ فِيْ الْقُرْآنِ: إِنَّاأَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Syukur, alhamdulillah, pada kesempatan hari ini kita tengah berada di bulan Dzulhijjah yang termasuk asyhurul hurum atau bulan-bulan yang dihormati. Bulan istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada bulan ini yang jatuh di penghujung tahun Hijriah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban.
Kedua ibadah tersebut disebut oleh Alquran sebagai salah satu syiar Allah SWT yang harus dihormati dan diagungkan oleh hamba-hamba-Nya. Dan mengagungkan syiar-syiar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketakwaan seseorang, seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya :
ذٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللّٰهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Semua itu sebagai wujud syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat yang tak terhingga yang dianugerahkan kepada kita; baik nikmat sehat wal afiyat, nikmat panjang umur, nikmat istiqomah dalam beribadah kepada Allah, dan nikmat berpegang kepada sunnah-sunnah Rasul-Nya.
Begitu juga nikmat yang terbesar, yang Allah berikan kepada kita yaitu nikmat iman dan Islam. Dengan adanya nikmat iman dan Islam, sekecil atau sedikit apa pun yang kita lakukan dalam bentuk kebaikan dan ketaatan akan berarti di sisi Allah.
Namun sebaliknya, tanpa adanya nikmat iman dan Islam yang Allah karuniakan, sebanyak dan sebesar apa pun kebaikan yang kita lakukan, maka semua itu tidak akan bernilai di sisi-Nya. Allah SWT berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ
“Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya.” (QS. Al-Anbiya: 94)
Oleh karena itu, marilah bersama-sama kita berusaha dan berupaya untuk terus meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Begitu juga kita tingkatkan kualitas pemahaman ilmu agama kita, agar ibadah kita mendapatkan predikat ibadah yang sah, yakni ibadah yang terpenuhi syarat dan rukunnya yang diterima Allah SWT, sebagaimana perkataan Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad-nya:
فَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ # أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لَا تُقْبَلُ
“Maka setiap orang yang beribadah tanpa berlandaskan ilmu, ibadahnya akan tertolak, tidak akan diterima.”
Dengan ketakwaan dan amal shaleh yang kita lakukan, maka Allah akan senantiasa membersamai kita dalam bentuk pertolongan dan bantuan-Nya, dan jelas hal ini Allah nyatakan dalam firman-Nya:
إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Ibadah qurban mengajarkan kepada kita nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Ibadah qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat egois dan menumbuhkan rasa cinta kepada sesama. Allah Ta’ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Dan Allah juga berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللّٰهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Qurban adalah ibadah yang memiliki dimensi sosial yang sangat besar. Melalui qurban, kaum fakir, dhuafa, dan masyarakat kecil dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ
“Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada Hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban).” (HR Tirmidzi)
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab tentang hikmah qurban, sebagai berikut:
وَالْمَقْصُودُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ التَّقَرُّبُ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى وَإِحْيَاءُ سُنَّةِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَالتَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ وَالْفُقَرَاءِ
“Tujuan ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, dan memberi kelapangan kepada keluarga serta orang-orang fakir.”
Maka, orang yang berqurban sejatinya sedang membangun solidaritas sosial, mempererat ukhuwah, dan membantu sesama. Demikian pula Dr Hisyam al-Kamil Hamid di dalam kitab karya beliau, Is’ad al-Bariyyah fi Ahkaam al-Udhhiyyah menyatakan ada beberapa hikmah dalam ibadah qurban, sebagai berikut:
1. Ibadah qurban adalah ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah yang bersifat ta’abbudiyyah, yakni sami’na wa atho’na pada perintah Allah
2. Sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan
3. Memberikan kelapangan kepada keluarga, sahabat, dan faqir-miskin
4. Kemenangan dengan mendapat pahala dan ampunan dosa
5. Penguatan ikatan persaudaraan antarsesama muslim, dan tertanam ruh saling membantu dan saling mencintai
6. Menghidupkan makna dan semangat qurban yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim
7. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim sebagai orang pertama yang berqurban sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah
8. Sebagai ujian dari Allah kepada hamba-Nya, yang mana nafsu ini lebih cenderung menumpuk harta, sedangkan ibadah qurban harus mengeluarkan harta
9. Mengajarkan kita berpegang pada waktu yang dimuliakan, sebagaimana ibadah qurban.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Demikianlah khutbah Jumat singkat perihal ibadah qurban yang tidak bisa dilepaskan dari wujud kepedulian sosial. Semoga apa yang khatib sampaikan ini menjadi khutbah yang membawa berkah dan bermanfaat bagi kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Baca juga: 3 Khutbah Idul Adha tentang Pengorbanan yang Penuh Hikmah
(RK)
