Contoh Perang Pola Pikir dan Bahayanya bagi Ideologi Bangsa

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang tidak melulu soal adu kekuatan militer, tapi juga bisa melibatkan pola pikir atau mindset. Perang pola pikir justru dianggap sebagai ancaman yang paling berbahaya, terutama di era digital saat ini.
Mengutip buku Pemikiran Guru Besar Universitas Gadjah mada Menuju Indonesia Maju 2045 oleh Koentjoro dkk., perang pola pikir dilakukan terus-menerus secara masif, sistematis, dan terstruktur. Jika dibiarkan, perang ini dapat merusak jati diri bangsa Indonesia.
Generasi muda dinilai sebagai elemen masyarakat yang paling mudah terpengaruh. Keterbukaan informasi saat ini membuat mereka lebih mudah terjerumus pada perang pola pikir yang dapat mengarahkan mindset mereka jauh dari ideologi bangsa.
Lalu, apa saja contoh perang pola pikir yang dapat mengancam ideologi bangsa Indonesia? Berikut penjelasannya yang dapat disimak.
Baca juga: Contoh Ancaman Non Militer di Bidang Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya
Contoh Perang Pola Pikir
Sebagaimana telah disebutkan, perang pola pikir sangat berbahaya karena dapat mengarahkan seseorang atau kelompok orang ke dalam pola pikir yang diinginkan penyerang. Perang mindset dapat melunturkan nilai-nilai ideologi bangsa yang berujung pada perpecahan. Berikut beberapa contoh perang pola pikir beserta bahayanya:
1. Penyebaran Hoax
Menurut Ilham Permadi dkk. dalam jurnal Desain Sistem Pertahanan Siber dalam Menghadapi Perang Mindset Menggunakan Big Data Analytic di Pusat Pertahanan Siber Kementerian Pertahanan, perang pola pikir dilakukan dengan menyebarkan pesan atau informasi secara masif melalui berbagai media, termasuk media sosial.
Adanya beragam opini tentang suatu hal di kalangan masyarakat dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk menyebarkan informasi palsu alias hoax yang menyudutkan salah satu pihak. Opini ini disebarluaskan hingga memengaruhi banyak orang dan membuat mereka beranggapan bahwa opini tersebut benar.
Sebagai contoh, seseorang menyebarkan hoax untuk memengaruhi opini dan persepsi masyarakat tentang kelompok masyarakat tertentu. Opini negatif ini dibagikan melalui media sosial sehingga mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Ketika masyarakat sudah terpengaruh dan percaya pada opini itu, mereka ikut menebar kebencian pada kelompok masyarakat tersebut. Hal ini dapat menyebabkan disintegrasi bangsa dan mengancam Pancasila sebagai pemersatu bangsa.
2. Radikalisme
Radikalisme juga menjadi salah satu contoh perang pola pikir. Radikalisme didefinisikan sebagai paham atau ideologi yang dibuat oleh sekelompok orang yang menginginkan terjadinya perubahan dan pembentukan kembali tatanan sistem sosial secara menyeluruh.
Mengutip jurnal Bahaya Radikalisme terhadap NKRI karangan Nur Khamid, radikalisme dilakukan dengan menentang struktur masyarakat yang ada dengan tujuan mengubahnya sampai ke akarnya.
Untuk meraih tujuan tersebut, penganut paham ini umumnya menyebarkan doktrin-doktrin melalui media sosial agar pemikiran mereka bisa diterima secara terbuka atau bahkan dibenarkan oleh masyarakat luas.
Akibatnya, terjadilah perang pola pikir yang memicu perpecahan atau disintegrasi bangsa. Persatuan dan kesatuan yang diperjuangkan para leluhur serta pahlawan bangsa pun semakin terancam keutuhannya.
(ADS)
Baca juga: Cara Menjaga Komitmen Persatuan di Indonesia
Frequently Asked Question Section
Apa itu perang pola pikir?

Apa itu perang pola pikir?
Perang pola pikir atau perang mindset adalah serangan yang dilakukan dengan memengaruhi pola pikir seseorang.
Apakah perang pola pikir berbahaya?

Apakah perang pola pikir berbahaya?
Jika dibiarkan, perang pola pikir dapat merusak jati diri bangsa Indonesia.
Siapa yang paling rentan terjerumus dalam perang pola pikir?

Siapa yang paling rentan terjerumus dalam perang pola pikir?
Generasi muda dinilai sebagai elemen masyarakat yang paling mudah terpengaruh.
